Membongkar Mitos "Great Filter": Evolusi Kehidupan di Bumi Bukan Sekadar Keberuntungan

12 hours ago 4
Membongkar Mitos Konsep "Great Filter" yang menyatakan kehidupan cerdas di alam semesta memerlukan serangkaian keberuntungan langka kini dipertanyakan penelitian terbaru.(Firefly Aerospace)

KONSEP "great filter" yang sering digunakan untuk menjelaskan mengapa hingga kini kita tampak sendirian di alam semesta didasarkan pada asumsi yang keliru. Sebuah model baru menunjukkan evolusi kehidupan di Bumi terjadi seiring dengan perubahan kondisi geobiologis, bukan melalui serangkaian kejadian yang sangat kecil kemungkinannya.

Kehidupan Tidak Memerlukan "Keberuntungan Besar"

"Kami berargumen bahwa kehidupan cerdas mungkin tidak memerlukan serangkaian keberuntungan besar untuk ada," kata Dan Mills dari Universitas Munich. Menurutnya, manusia tidak berevolusi terlalu cepat atau terlalu lambat dalam sejarah Bumi, tetapi "tepat waktu" saat kondisi yang sesuai telah terbentuk.

Fisikawan Australia Brandon Carter adalah sosok yang pertama kali mempopulerkan gagasan bahwa kehidupan di Bumi merupakan hasil dari serangkaian kejadian langka yang disebutnya sebagai "hard steps" dalam sebuah makalah tahun 1983. Carter mengembangkan pendekatan probabilistik untuk memahami eksistensi manusia di alam semesta, yang tercermin dalam argumen Doomsday-nya. 

Menurut teori tersebut, fakta kita hidup di era saat populasi manusia masih berkembang menunjukkan kemungkinan adanya peristiwa besar yang akan menghentikan pertumbuhan ini di masa depan.

Carter juga berasumsi jika kehidupan kompleks umum di alam semesta, maka manusia seharusnya telah berevolusi jauh lebih awal dalam sejarah Bumi. Namun, kenyataan Homo sapiens baru muncul sekitar 4,5 miliar tahun setelah terbentuknya planet ini menunjukkan proses evolusi melewati banyak hambatan sulit. Hal ini menjadi dasar konsep "great filter", yaitu gagasan ada faktor dalam sejarah kehidupan yang hampir selalu menghalangi kelangsungan hidupnya.

Kritik Terhadap Model "Hard Steps"

Model "hard steps" Carter kini mendapatkan kritik dari penelitian terbaru yang menyoroti kelemahan dalam asumsi dasarnya. Carter beranggapan usia Matahari dan Bumi tidak berpengaruh terhadap kecepatan evolusi kehidupan kompleks. Namun, penelitian Mills bersama para ilmuwan dari Penn State University menunjukkan faktor ini justru sangat berpengaruh.

Tim ini meninjau lima "hard steps" yang paling banyak disepakati, yaitu: asal-usul kehidupan, evolusi eukariota, oksigenasi atmosfer, perkembangan kehidupan multiseluler, dan munculnya Homo sapiens. Mereka menemukan kondisi geologi dan atmosfer Bumi sangat menentukan kapan langkah-langkah ini bisa terjadi. 

Misalnya, oksigenasi atmosfer yang memungkinkan kehidupan multiseluler baru terjadi sekitar 2,1 hingga 2,4 miliar tahun lalu, setelah mikroba fotosintetik seperti cyanobacteria berevolusi. Proses ini memerlukan kondisi lingkungan yang tepat, termasuk suhu lautan yang lebih rendah dan ketersediaan air tawar.

Dengan kata lain, evolusi kehidupan tidak terhambat faktor probabilitas seperti yang dikatakan Carter, melainkan kondisi lingkungan yang belum memungkinkan. Kehidupan harus "menunggu" hingga Bumi siap untuk mendukungnya.

Implikasi bagi Pencarian Kehidupan di Alam Semesta

Jika evolusi kehidupan di Bumi dipengaruhi faktor lingkungan yang berkembang secara bertahap, hal yang sama mungkin juga terjadi di planet lain. Artinya, kehidupan bisa saja lebih umum di alam semesta, tetapi berkembang dalam kecepatan yang berbeda tergantung pada kondisi planet masing-masing.

Namun, masih ada tantangan besar dalam memahami bagaimana kehidupan pertama kali muncul di Bumi. Momen awal kehidupan, atau "habitability boundary", masih menjadi misteri. Beberapa ilmuwan menduga kehidupan mungkin telah muncul beberapa kali di Bumi, tetapi hanya satu garis keturunan yang bertahan.

Selain itu, hingga kini astronom belum menemukan planet lain yang memiliki kondisi serupa dengan Bumi. Bisa jadi, tantangan terbesar dalam munculnya kehidupan bukan terletak pada evolusi biologis, tetapi pada kesulitan menciptakan planet yang benar-benar layak huni.

Meskipun belum ada bukti kehidupan di luar Bumi, penelitian ini menawarkan perspektif baru dalam memahami evolusi kehidupan. Jika kehidupan memang bergantung pada kondisi lingkungan, maka kemungkinan besar kehidupan juga berkembang di planet lain dengan cara yang serupa. 

Namun, hingga kita menemukan bukti pasti, seperti mikroba di Mars atau kehidupan cerdas di planet lain, kita tetap menghadapi kemungkinan bahwa Bumi dan kehidupan di dalamnya mungkin memang unik di alam semesta yang luas ini. (Space/Z-3)

Read Entire Article
Global Food