Masuk Renstra Komdigi, Jaringan 5G Mentok di 7%

2 hours ago 1

Selular.id – Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) menargetkan cakupan layanan mobile broadband minimal 4G/LTE mencapai 97,50% dari total wilayah permukiman pada 2026.

Target tersebut meningkat dibandingkan target 2025 sebesar 97,30% dan kondisi terkini yang berada di level 97,16%.

Target itu tercantum dalam dokumen Rencana Strategis (Renstra) Komdigi 2025–2029.

Dalam dokumen tersebut, indikator jangkauan jaringan pita lebar bergerak per populasi ditetapkan meningkat secara bertahap hingga 98% pada 2029.

Secara rinci, cakupan mobile broadband ditargetkan mencapai 97,50% pada 2026, meningkat menjadi 97,75% pada 2027, kemudian 97,90% pada 2028, dan mencapai 98% pada 2029.

Adapun capaian tahun 2024 tercatat sebesar 97,16% dari total wilayah permukiman.

Meski cakupan mobile broadband relatif tinggi, data Renstra Komdigi menunjukkan jangkauan layanan fixed broadband masih terbatas.

Persentase wilayah permukiman yang terlayani fixed broadband tercatat sebesar 70,88% pada 2024.

Baca juga:

Sementara itu, jangkauan jaringan 5G masih berada di level 4,44% wilayah permukiman.

Dari sisi pemanfaatan, sebanyak 24,5 juta rumah tangga tercatat belum menggunakan layanan fixed broadband.

Akses internet di fasilitas publik juga masih terbatas, dengan tingkat ketersediaan akses internet di sekolah sebesar 42,38%, di puskesmas 40,80%, dan di kantor pemerintahan 44,32%.

Data Renstra juga mencatat kepemilikan perangkat digital yang belum merata.

Kepemilikan smartphone tercatat sebesar 67,88% dari total penduduk, sementara kepemilikan laptop berada di level 18,04% rumah tangga.

Selain cakupan dan pemanfaatan, kualitas layanan internet nasional masih bervariasi.

Rata-rata kecepatan mobile broadband tercatat sebesar 25,83 Mbps, sedangkan rata-rata kecepatan fixed broadband mencapai 28,37 Mbps.

Dari sisi latensi, rata-rata latensi mobile broadband tercatat 26 milidetik, sementara latensi fixed broadband berada di level 7 milidetik.

Dari sisi keterjangkauan, harga layanan mobile broadband tercatat sebesar 0,24% dari GNI per kapita.

Sementara itu, harga layanan fixed broadband mencapai 4,86% dari GNI per kapita.

Dalam Renstra tersebut, Komdigi menetapkan peningkatan cakupan, pemanfaatan, dan kualitas broadband sebagai bagian dari sasaran penguatan infrastruktur digital nasional periode 2025–2029.

Minta Harga Internet Turun

Permintaan untuk turunkan harga kuota internet tersebut diungkapkan oleh Menteri Komdigi, Meutya Hafid saat acara peresmian Permen Komdigi Nomor 7 Tahun 2026 terkait tata kelola kartu SIM berbasis biometric, Selasa (27/1/2026) lalu.

Tak hanya itu, Meutya Hafid meminta operator seluler untuk menaikkan kualitas jaringan internet sampil menurunkan harga internet saat ini.

Dia menyebut percepatan jaringan internet merupakan bagian dari tata kelola jaringan telekomunikasi yang lebih baik sehingga operator dihimbau untuk meningkatkan kecepatan internet.

“Tata kelola yang lebih baik lainnya yang kita sudah lihat dan kita minta kepada operator seluler terus melakukan lebih banyak lagi adalah kecepatan internet,” pungkas Meutya.

Sejalan dengan permintaan peningkatan kualitas internet, Komdigi juga menghimbau operator seluler untuk menyediakan harga internet yang tetap terjangkau dan juga kompetitif.

Sehingga nantinya kualitas layanan internet yang semakin baik tersebut tidak membebani masyarakat.

“Dan yang terakhir, harganya juga tolong tidak mahal-mahal ya. Jadi, pertama aman, kedua kecepatannya ditambah dan juga satu lagi harganya harus bersaing,” tambahnya.

Baca juga:

Sudah Sangat Murah

Terkait permintaan tersebut, Sekjen Asosiasi Penyelenggara Telekomunikasi Seluruh Indonesia (ATSI) Merza Fachys menyebut bahwa harga internet yang saat ini berlaku di Indonesia sudah terjangkau dan kompetitif.

“Kalau bicara seluler, saya yakin harganya sudah sangat murah. Coba bandingkan dengan negara-negara tetangga, per gigabyte berapa?” ungkap Merza usai acara forum Indonesia Digital Outlook 2026, Jakarta, Kamis (29/1).

Ia menyebut perlu adanya perbedaan pandangan mengenai layanan internet antara internet fixed broadband dengan internet seluler karena menurutnya, harga layanan internet seluler sudah sangat terjangkau.

“Mungkin kalau bicara internet rumah atau internet fixed broadband, mungkin beberapa masih ada yang perlu ditinjau. Tapi kalau internet seluler harganya murah,” tambahnya.

Terkait kecepatan internet yang masih terus digenjot, Merza juga mengatakan bahwa saat ini operator sudah memulai melakukan peningkatan kualitas.

Hanya saja, seperti yang diketahui bahwa kondisi geografis Indonesia berbeda dengan negara lain, tidak semua wilayah memiliki kondisi seperti di kota-kota besar.

“Oleh sebab itu apa usulan kita? Segera kita perbaiki kualitas ini, dengan dua cara. Pertama, daerah-daerah yang agak di luar kota dan daerah-daerah rural, 4G nya kita perbaiki dan di dalam kota kita perbaiki dengan 5G. Jadi tidak semuanya harus 5G,: usulnya.

Dalam peningkatan jaringan 4G di daerah rural ini bisa dilakukan dengan penambahan spektrum dan penguatan backbone di daerah-daerah tersebut.

Terlebih soal fiber optik dimana di wilayah rural, tantangannya lebih besar karena fiber optic-nya belum merata dan proses yang juga berlapis-lapis.

“Masalahnya menggelar fiber optic ke daerah-daerah ini memang panjang ceritanya. Bukan sekedar investasinya yang mahal, tapi juga masalah deployment, pekerjaannya juga besar. Jaraknya yang panjang, perizinannya, nah itu yang utama,” jelasnya.

Read Entire Article
Global Food