Selular.ID – Pameran otomotif Gaikindo Indonesia International Auto Show (GIIAS) 2026 berlangsung mulai 30 Juli hingga tanggal 9 Agustus 2026 di ICE BSD City, Tangerang.
Saat Selular berada di GIIAS, Rabu (29/7/2026), terlihat sejumlah produk mobil listrik atau electric vehicle (EV) lebih dominan bahkan hampir menguasai setiap sudut.
Hal tersebut tentu saja seiring dengan penjualan mobil listrik yang memang terus meningkat tajam dari tahun ke tahun, baik di pasar global maupun di Indonesia.
Berdasarkan data Gaikindo, penjualan mobil listrik berbasis baterai di Indonesia pada kuartal pertama tahun 2026 mencapai 33.150 unit atau melonjak sekitar 95,9% dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya.
Faktor Pendorong Kenaikan Penjualan Mobil Listrik
Selular telah merangkum sejumlah faktor pendorong kenaikan penjualan mobil listrik, di antaranya biaya operasional yang lebih murah, perawatan mudah hingga tentu saja diklaim lebih ramah lingkungan.
Biaya operasional murah tentu karena pengisian daya mobil listrik jauh lebih hemat per kilometer dibandingkan mobil berbahan bakar minyak.
Mesin listrik juga tidak membutuhkan penggantian oli atau komponen rumit seperti busi yang membuat perawatan murah.
Selain itu, ramah lingkungan karena bebas emisi gas buang karbondioksida.
Baca juga:
- DFSK E5 Plus Kantongi 1.100 Pre-Booking Sebelum Resmi Meluncur di Indonesia
- Dari Kunci Fisik ke Smartphone, Begini Mobil Listrik Ubah Total Cara Berkendara
Kini, juga banyaknya pilihan merek dengan kehadiran berbagai pabrikan baru, terutama dari China, membuat harga semakin bersaing yang membuat penjualan lebih murah.
Autonomous AI Belum Bisa Berjalan
Namun, meskipun semarak mobil listrik sudah sangat terasa di Indonesia, akan tetapi masih ada fitur teknologi yang hingga kini masih belum bisa berjalan maksimal.
Fitur teknologi tersebut tentu saja autonomous driver alias kemudi tanpa awak berdasarkan kecerdasan buatan alias AI.
Padahal hampir semua vendor mobil listrik (EV) sudah mendapat bekal autonomous driver AI di setiap produknya.
“GAC sudah memiliki autonomous driver AI di produk mobil listriknya dan memang sudah teruji di China, tetapi memang belum bisa maksimal untuk di Indonesia,” ujar Product Planning and Strategy GAC AION Indomobil, Iqbal Taufiqurrahman kepada Selular, Rabu (29/7/2026).
Lalu, apa saja kendala yang membuat fitur teknologi autonomous driver AI ini tidak bisa berjalan maksimal di Indonesia?
Hal pertama tentu saja kondisi lalu-lintas di Indonesia yang masih semerawut tidak seperti di negara-negara maju.
Kemacetan, banyak jalan yang tidak rata, tentu akan membuat teknologi autonomous ini tidak bisa bekerja maksimal.
“Biasanya pengguna GAC sering menggunakan fitur ini di jalan tol antar kota yang jalannya lebih rata,” ungkap Iqbal.
Regulasi Juga Harus Mendukung
Tidak hanya lalu-lintas, kesadaran hingga ketertiban pengguna jalan di Indonesia juga masih menjadi pertimbangan untuk mengaktifkan teknologi ini.
Selain itu, tentu saja koneksi internet di Indonesia harus ditingkatkan supaya teknologi autonomous driver AI di mobil listrik bekerja secara maksimal.
“Saya lupa batas minimal internet yang wajib ada jika benar-benar ingin mengaktifkan fitur autonomous driver AI ini, bahkan jika ingin digunakan sebagai taksi tanpa awak,” jelasnya.
“Yang saya ketahui memang kecepatan internetnya harus tinggi karena kalau taksi tanpa awak ini kan mobilnya harus membaca lingkungan sekitarnya jadi tidak boleh meleset sepersekian detikpun,” sambungnya.
Hal penting lainnya tentu saja regulasi penggunaan autonomous driver AI ini juga harus mendukung mulai dari penggunaan AI hingga penegakan peraturan berlalu-lintas yang harus baik.

















































