Selular.ID – Malone Lam, pemuda Singapura berusia 22 tahun, mengaku bersalah menjadi otak sindikat pencurian kripto internasional yang menyebabkan kerugian lebih dari USD245 juta atau sekitar Rp4 triliun.
Modus yang digunakan kelompok ini menjadi peringatan serius bagi pemilik aset kripto karena mereka tidak semata-mata meretas teknologi, tetapi memanipulasi manusia melalui teknik social engineering.
Lam mengaku bersalah di Pengadilan Distrik Amerika Serikat di Washington DC pada Selasa (8/9/2026) atas keterlibatannya sebagai pemimpin konspirasi kejahatan siber internasional.
Departemen Kehakiman Amerika Serikat (DOJ) menyebut Lam sebagai pemimpin jaringan yang menggunakan rekayasa sosial untuk mencuri sekaligus mencuci aset kripto bernilai lebih dari USD245 juta.
Sementara dalam cakupan perkara yang lebih luas, jaringan tersebut dikaitkan dengan pencurian kripto lebih dari USD263 juta.
Sindikat Kripto Berawal dari Pertemanan Game Online
Menariknya, jaringan kejahatan tersebut tidak bermula dari organisasi kriminal konvensional.
Hubungan antaranggotanya berkembang melalui pertemanan di platform game online, sebelum berubah menjadi kelompok yang memiliki pembagian tugas cukup terstruktur.
Jaksa menyebut Lam berperan mengorganisasi operasi, mengidentifikasi calon korban bernilai tinggi serta mengoordinasikan anggota lainnya. Jaringan tersebut setidaknya beroperasi sejak Oktober 2023 hingga 2025.
Sasaran mereka bukan pengguna kripto secara acak, melainkan orang-orang yang diketahui mempunyai aset kripto dalam jumlah besar.
Kelompok ini menggunakan teknik social engineering dengan menyamar sebagai pegawai perusahaan yang dipercaya korban.
Baca juga:
- Jumlah Investor Kripto RI Tembus 22,9 Juta Meski Nilai Transaksi Turun
- Pintu Futures Lite Dorong Pertumbuhan Volume Trading Derivatif Kripto Hingga 200 Persen
Dalam salah satu aksi terbesar, pelaku berpura-pura menjadi petugas Google dan bursa kripto Gemini.
Korban dibujuk memberikan informasi sensitif hingga mengubah autentikasi dua faktor.
Korban bahkan diarahkan menggunakan perangkat lunak berbagi layar yang kemudian mengekspos informasi penting untuk mengakses aset kripto.
Sekali Beraksi, 4.100 Bitcoin Raib
Salah satu serangan terbesar terjadi pada Agustus 2024 terhadap seorang pemilik kripto di Washington DC.
Lam dan komplotannya berhasil mengambil lebih dari 4.100 Bitcoin, yang ketika pencurian terjadi bernilai sekitar USD230 juta.
Kasus tersebut menjadi salah satu pencurian cryptocurrency terhadap individu terbesar dalam sejarah Amerika Serikat.
Penyelidikan kemudian mengungkap skala operasi yang jauh lebih luas.
Jaringan tersebut diduga menggunakan berbagai cara untuk mencuci hasil kejahatan, mulai dari crypto mixer, bursa aset kripto, pass-through wallet hingga penggunaan VPN.
Dalam beberapa kasus, anggota kelompok bahkan dituding melakukan pembobolan rumah untuk mendapatkan hardware wallet milik target.
Uang Kripto Dipakai Foya-foya
Hasil pencurian tersebut digunakan untuk membiayai gaya hidup mewah.
Anggota kelompok menyewa rumah mewah di Los Angeles, Miami dan Hamptons, menggunakan jet pribadi, mempekerjakan pengawal serta membeli deretan kendaraan eksotis.
Sedikitnya 28 mobil masuk dalam daftar aset yang akan disita, termasuk Lamborghini, Porsche, Rolls-Royce dan Ferrari. Harga kendaraan yang dibeli bahkan disebut mencapai USD3,8 juta per unit.
Pengeluaran mereka di klub malam juga fantastis. Dalam satu malam, tagihannya disebut dapat menembus USD500.000.
Ancaman Terbesar Kripto Bukan Cuma Hacker
Kasus Malone Lam memperlihatkan sisi lain keamanan aset digital. Pemilik kripto bisa menggunakan sistem keamanan teknis yang kuat, tetapi aset tetap berisiko ketika kredensial, private key, seed phrase atau kode autentikasi berhasil diperoleh melalui manipulasi psikologis.
Modus tersebut membuat social engineering menjadi salah satu ancaman penting bagi pemilik aset kripto. Pelaku tidak harus membobol teknologi blockchain.
Mereka cukup membuat korban percaya bahwa orang yang menghubunginya benar-benar berasal dari perusahaan resmi.
Karena itu, pengguna sebaiknya tidak pernah memberikan seed phrase, private key, kata sandi ataupun kode autentikasi kepada pihak yang menghubungi melalui telepon atau pesan.
Permintaan memasang aplikasi remote access atau berbagi layar dengan pihak yang mengaku sebagai layanan pelanggan juga patut dicurigai.
Malone Lam kini menghadapi ancaman hukuman hingga 20 tahun penjara setelah mengaku bersalah atas konspirasi racketeering.
Dari 18 orang yang didakwa dalam perkara tersebut, Lam menjadi terdakwa ke-11 yang menyatakan bersalah.
Kasus ini sekaligus menunjukkan paradoks keamanan dunia kripto: teknologi blockchain bisa sangat sulit ditembus, tetapi manusia yang memegang kunci aksesnya tetap dapat menjadi titik terlemah.
















































