Wajib Tahu Bahaya Algoritma, Media Mulai Kehilangan Audiens

5 hours ago 6

Selular.ID – Algoritma media sosial semakin menentukan informasi yang dikonsumsi masyarakat setiap hari.

Wakil Menteri Komunikasi dan Digital (Wamenkomdigi) Nezar Patria mengingatkan, perubahan tersebut membuat kendali terhadap audiens perlahan bergeser dari media ke platform digital.

Nezar mengatakan platform media sosial berkembang jauh lebih cepat dan agresif sehingga mengubah hubungan antara media konvensional dengan pembacanya.

Kini, platform memiliki peran besar menentukan konten apa yang muncul di layar pengguna.

“Saat ini media kehilangan audiens, yang mengontrol audiens adalah platform. Platform media sosial berkembang jauh lebih cepat, lebih dalam, lebih agresif, sehingga menggeser pola hubungan antara media konvensional dan media tradisional dengan audiens,” ujar Nezar di Jakarta, dikutip Sabtu (12/9/2026).

Algoritma Media Sosial Bisa Ciptakan Echo Chamber

Menurut Nezar, algoritma platform bekerja dengan mempelajari perilaku pengguna.

Tonton juga:

Video Rekomendasi Untuk Anda

Aktivitas seperti memberikan likes menjadi data yang kemudian diproses melalui teknologi machine learning untuk menentukan rekomendasi konten berikutnya.

“Jadi semua yang kita berikan tanda likes itu kemudian dicatat dalam machine learning yang dipakai oleh media sosial. Jadi apa yang kita suka akan selalu datang kepada kita, itulah yang disebut dengan echo chamber,” jelasnya.

Baca juga:

Echo chamber membuat pengguna berpotensi terus-menerus mendapatkan informasi yang sesuai dengan minat, pandangan atau kebiasaan sebelumnya.

Persoalannya, kondisi tersebut dapat mempersempit keragaman informasi yang diterima pengguna.

Algoritma tidak selalu memprioritaskan informasi berdasarkan kepentingan publik atau kualitas jurnalistik, tetapi juga mempertimbangkan pola interaksi pengguna.

Media Sosial Makin Dominan Jadi Sumber Berita

Pergeseran perilaku masyarakat dalam mengakses informasi juga menghadirkan tantangan terhadap kepercayaan publik.

Nezar mengutip Reuters Institute Digital News Report 2026 yang melibatkan lebih dari 100 ribu responden di 48 negara.

Media sosial dan platform video disebut telah menjadi sumber berita yang lebih banyak diakses dibandingkan televisi maupun situs berita resmi di 30 negara.

Pada saat bersamaan, kurang dari empat dari 10 responden menyatakan percaya terhadap berita.

“Yang terjadi adalah bukan delivering the truth, tetapi creating the perception, membentuk persepsi,” tegas Nezar.

Kondisi tersebut menjadi tantangan besar bagi industri media. Persaingan kini bukan hanya terjadi antarmedia untuk menghasilkan berita, tetapi juga dalam mendapatkan perhatian pengguna di tengah sistem distribusi informasi yang semakin dikendalikan algoritma platform.

AI Bikin Tantangan Informasi Makin Berat

Masuknya kecerdasan artifisial (AI) membuat persoalan semakin kompleks. Teknologi AI mulai digunakan dalam pencarian informasi, rekomendasi konten hingga produksi berita.

Nezar mengingatkan manipulasi terhadap data dapat menyebabkan sistem AI menghasilkan keluaran yang salah.

Karena itu, integritas data dan informasi menjadi semakin penting ketika masyarakat mulai mengandalkan AI untuk memperoleh informasi.

Pemerintah telah menyiapkan sejumlah langkah menghadapi perubahan tersebut.

Di antaranya pedoman etika AI, pedoman penggunaan AI dalam jurnalistik yang dirumuskan Dewan Pers, serta peta jalan kecerdasan artifisial Indonesia untuk lima tahun ke depan.

Perkembangan algoritma media sosial dan AI pada akhirnya menghadirkan tantangan ganda bagi industri media.

Media harus mempertahankan kredibilitas jurnalistik sekaligus bersaing mendapatkan audiens di platform yang memiliki mekanisme distribusi informasinya sendiri.

Bagi masyarakat, perubahan tersebut juga menuntut literasi digital yang semakin kuat.

Sebab di era algoritma dan AI, informasi yang paling sering muncul di layar belum tentu merupakan informasi yang paling penting atau paling benar.

Read Entire Article
Global Food