Selular.ID – Amartha bersama Certified Financial Planner (CFP®) Lolita Setyawati mengajak masyarakat menerapkan investasi yang lebih bijak dan terukur melalui platform Amartha Prosper.
Inisiatif yang diumumkan di Jakarta pada 13 Juli 2026 ini menekankan pentingnya memilih instrumen investasi yang sesuai dengan tujuan keuangan, profil risiko, serta memahami bagaimana dana dikelola dan disalurkan ke sektor riil, termasuk pembiayaan produktif bagi UMKM perempuan.
Langkah tersebut hadir di tengah meningkatnya minat masyarakat terhadap investasi digital.
Kemudahan akses melalui teknologi membuat berbagai produk investasi semakin mudah dijangkau oleh investor ritel.
Namun, di tengah kondisi pasar yang masih berfluktuasi, investor juga dituntut lebih selektif dalam menentukan instrumen yang sesuai dengan kondisi finansial masing-masing.
Menurut Lolita Setyawati CFP®, RIFA®, dalam beberapa tahun terakhir terjadi perubahan perilaku investor.
Tonton juga:
Video Rekomendasi Untuk Anda
Jika sebelumnya banyak masyarakat berorientasi pada potensi keuntungan jangka pendek, kini semakin banyak yang mulai mempertimbangkan kesesuaian investasi dengan profil risiko, tujuan finansial, serta transparansi pengelolaan dana.
Perubahan tersebut juga membuat investor mulai memperhatikan bagaimana dana investasi digunakan.
Selain mengejar potensi imbal hasil, sebagian investor kini ingin mengetahui apakah dana yang mereka tanamkan turut mendukung aktivitas ekonomi produktif yang memberikan dampak lebih luas bagi masyarakat.
Menjawab kebutuhan tersebut, Amartha menghadirkan Amartha Prosper, termasuk produk Grassroots Growth Series (GGS), yang memungkinkan investor berpartisipasi dalam pembiayaan produktif bagi UMKM perempuan di berbagai daerah di Indonesia.
Melalui skema tersebut, dana investasi disalurkan kepada Ibu Mitra Amartha yang tersebar di lebih dari 50.000 desa di seluruh Indonesia.
Penyaluran pembiayaan dilakukan pada berbagai sektor usaha sehingga membentuk portofolio investasi dengan pengelolaan risiko yang disesuaikan.
Julie Fauzie, Chief Funding Officer Amartha, mengatakan bahwa kondisi pasar yang dinamis membuat masyarakat perlu semakin cermat dalam memilih produk investasi.
“Di tengah kondisi pasar yang tidak menentu, masyarakat perlu semakin cermat memilih produk investasi. Melalui Amartha Prosper, masyarakat dapat berinvestasi sekaligus mendukung pembiayaan sektor riil, khususnya pembiayaan produktif UMKM perempuan di perdesaan. Investor bukan hanya memperoleh potensi imbal hasil, melainkan juga investasi yang disalurkan dapat memberi dampak ekonomi yang lebih luas dan inklusif,” ujar Julie.
Bersama Lolita Setyawati, Amartha juga membagikan sejumlah prinsip dasar yang dapat menjadi pertimbangan masyarakat sebelum mulai berinvestasi.
Langkah pertama adalah memastikan kondisi keuangan pribadi telah berada pada posisi yang sehat.
Menurut Lolita, seseorang sebaiknya telah memiliki arus kas yang stabil, cicilan yang terkendali, serta dana darurat sebelum mengalokasikan dana untuk investasi.
Ia menyarankan dana darurat idealnya mencapai enam kali pengeluaran bulanan.
Namun apabila belum memungkinkan, masyarakat dapat mulai membangun cadangan dana sebesar dua hingga tiga kali pengeluaran bulanan sebagai tahap awal.
Lolita juga mengingatkan agar investasi tidak menggunakan dana yang diperuntukkan bagi kebutuhan pokok maupun dana hasil pinjaman.
Dana investasi sebaiknya berasal dari “uang dingin”, yaitu dana yang tidak akan digunakan dalam waktu dekat.
Prinsip berikutnya adalah memahami tujuan investasi dan profil risiko masing-masing.
Tujuan investasi dapat berbeda bagi setiap orang, mulai dari dana pendidikan, pembelian rumah, persiapan pensiun, hingga menjaga nilai aset dari dampak inflasi.
Menurut Lolita, keputusan investasi sebaiknya tidak didorong oleh rasa takut tertinggal tren atau sekadar melihat keuntungan yang diperoleh investor lain.
Pemahaman terhadap mekanisme produk, potensi imbal hasil, serta risiko menjadi faktor utama sebelum mengambil keputusan investasi.
Selain itu, investor juga perlu memperhatikan aspek legalitas. Lolita menekankan prinsip “legal dan logis” dalam memilih instrumen investasi.
Produk investasi harus memiliki izin dan berada di bawah pengawasan otoritas yang berwenang, sementara mekanisme pengelolaan dana serta sumber potensi imbal hasilnya harus dapat dipahami secara jelas oleh investor.
Dalam Amartha Prosper, tersedia beberapa profil investasi melalui Grassroots Growth Series, yaitu Balanced-Flex, Balanced, Progressive, dan Dynamic.
Masing-masing dirancang untuk mengakomodasi karakteristik investor yang berbeda, mulai dari yang mengutamakan fleksibilitas hingga yang mencari potensi pertumbuhan lebih tinggi.
Amartha juga menekankan bahwa investasi tidak harus dimulai dengan modal besar.
Menurut Lolita, perkembangan teknologi finansial membuat akses terhadap produk investasi semakin mudah dengan nominal awal yang lebih terjangkau dibanding sebelumnya.
Ia menyebut konsistensi menjadi faktor yang lebih penting dibanding besarnya modal awal karena memberikan peluang bagi pertumbuhan investasi dalam jangka panjang.
Di sisi lain, semakin banyak investor yang mulai mempertimbangkan dampak sosial dari penempatan dana mereka.
Bagi sebagian masyarakat, mengetahui bahwa investasi turut mendukung pembiayaan sektor produktif menjadi nilai tambah dalam proses pengambilan keputusan.
Julie menjelaskan bahwa penyaluran modal kepada UMKM memiliki efek berganda terhadap perekonomian.
Akses pembiayaan memungkinkan pelaku usaha mengembangkan bisnis, meningkatkan pendapatan keluarga, sekaligus membuka peluang kerja baru di daerah.
Selama lebih dari 16 tahun, Amartha mencatat telah menyalurkan pembiayaan produktif kepada lebih dari 4 juta UMKM perempuan di wilayah perdesaan dengan total nilai pendanaan melampaui Rp47 triliun.
Perusahaan juga menyebut sejak Amartha Prosper diluncurkan pada Januari 2026, produk tersebut memperoleh respons positif dari investor ritel sebagai alternatif investasi di luar instrumen konvensional sekaligus mendukung diversifikasi portofolio.
Berdasarkan data Amartha, sepanjang 2025 pembiayaan kepada UMKM yang didukung perusahaan berkontribusi terhadap terciptanya sekitar 90.000 lapangan kerja baru melalui perekrutan karyawan pertama oleh pelaku usaha.
Sebanyak 86 persen dari tenaga kerja tersebut merupakan perempuan.
Data tersebut menjadi bagian dari upaya Amartha dalam menghubungkan investasi masyarakat dengan pembiayaan sektor riil yang berorientasi pada pemberdayaan ekonomi dan pertumbuhan usaha mikro di berbagai wilayah Indonesia.
Baca Juga: Amartha Gaet Mastercard Guna Perluas Pembiayaan Digital

















































