Antisipasi Kehadiran iPhone Lipat, Oppo Debutkan Find 6, Smartphone Lipat dengan Layar Hampir Tak Terlihat

9 hours ago 4

Selular.ID – Produsen ponsel pintar asal China, Oppo, kembali menantang pasar ponsel lipat setelah meluncurkan produk terbaru dari seri Find N, di tengah kenaikan harga memori dan meningkatnya antisipasi terhadap iPhone lipat Apple.

Find N6, yang diluncurkan secara global pada Selasa (17/3), menampilkan teknologi engsel yang ditingkatkan yang dirancang untuk membuat lipatan pada layar lipat “hampir tidak terlihat”, menurut perusahaan.

“Meskipun ponsel lipat menawarkan keuntungan berupa layar yang lebih besar, lipatan tetap menjadi salah satu kekhawatiran utama bagi pengguna,” kata Pete Lau, senior vice-president and chief product officer Oppo.

“Ini adalah tantangan yang telah diupayakan Oppo untuk dipecahkan sejak Find N pertama.”

Harga ponsel baru ini berkisar dari 9.999 yuan (US$1.450) hingga 11.999 yuan, peningkatan 1.000 yuan dibandingkan dengan model Find N5 sebelumnya yang dirilis pada Februari tahun lalu.

“Anda semua mungkin tahu bahwa memori sekarang lebih mahal daripada emas,” kata Lau pada acara peluncuran di kampus Oppo Binhai Bay di Dongguan.

Ponsel ini memiliki ketebalan hanya 8,93 mm (0,35 inci) saat dilipat dan beratnya 225 gram (7,9 ons). Ponsel ini menggunakan platform mobile Qualcomm Snapdragon 8 Elite Gen 5, yang mendukung kemampuan kecerdasan buatan dan kinerja multitasking.

Upaya terbaru Oppo memasuki segmen premium ini terjadi ketika para produsen smartphone bergulat dengan biaya komponen yang melonjak di tengah kekurangan memori.

Krisis memori telah mengancam untuk menekan margin keuntungan dan memaksa perusahaan untuk menaikkan harga.

Minggu lalu, Oppo mengumumkan kenaikan harga sebesar 300 yuan (US$44) hingga 500 yuan untuk beberapa ponsel “menghadapi kenaikan biaya untuk beberapa komponen utama smartphone termasuk perangkat keras memori berkecepatan tinggi”. Harga baru tersebut mulai berlaku pada hari Senin.

“Untuk mengurangi tekanan biaya, kami mencoba meningkatkan tingkat hasil produksi kami untuk mengurangi biaya, dan berbicara dengan pemasok kami untuk kesepakatan yang lebih masuk akal,” kata Vera Cheng, manajer produk senior di Oppo.

“Bagi kami, langkah terakhir adalah membebankan biaya kepada konsumen kami.”

Merek lain pun mengikuti langkah tersebut. Vivo dan sub-mereknya, iQOO, mengatakan bahwa mereka akan menyesuaikan harga, meskipun mereka tidak mengungkapkan skalanya.

Imbas keterbatasan memori, pengiriman smartphone global pada 2026 diperkirakan akan menurun 13 persen menjadi 1,12 miliar unit, menandai penurunan terbesar yang pernah terjadi di industri ini, menurut perusahaan riset IDC bulan lalu.

Di tengah tren perlambatan, ponsel lipat diperkirakan akan menjadi salah satu titik terang di industri ini. Menurut perkiraan IDC, pengiriman smartphone lipat global diperkirakan akan tumbuh 30 persen pada 2026, didorong oleh iPhone lipat Apple yang telah lama dirumorkan.

IDC menyebutkan, model lipat pertama Apple, yang menurut beberapa analis akan diluncurkan tahun ini, dapat merebut lebih dari 22 persen pangsa unit dan 34 persen nilai kategori tersebut pada tahun debutnya.

Di China, Oppo akan menantang dominasi Huawei, yang menguasai 71 persen pasar ponsel lipat domestik pada tahun 2025, menurut data IDC.

Honor berada di peringkat kedua dengan 9 persen, diikuti oleh Vivo dengan 5 persen. Oppo dan Samsung berada di peringkat keempat dengan masing-masing 4,3 persen.

Baca Juga: Jalan Oppo Jadi Raja HP di Indonesia Makin Terjal Karena Kelangkaan RAM

Ilustrasi terkait Oppo

Peringkat Oppo di Indonesia Anjlok

Di Indonesia sendiri, Oppo belakangan terlihat keteteran dalam menghadapi persaingan yang semakin ketat dengan vendor-vendor lainnya.

Dinukil dari laporan Omdia yang dirilis pada pertengahan Februari 2026, Xiaomi yang membawahi dua merek lain, Redmi dan Poco, didaulat sebagai penguasa ponsel Indonesia sepanjang 2025.

Di tengah kerasnya kompetisi dan menurunnya daya beli masyarakat, merek yang identik dengan warna jingga itu, mampu menggamit 19% pangsa pasar.

Menggenapi posisi lima besar di sepanjang 2025, berturut-turut setelah Xiaomi adalah Transsion (18%), Samsung (17%), Oppo (16%), dan Vivo (15%).

Menempati peringkat keempat tentu saja menunjukkan pencapaian Oppo yang semakin anjlok. Pasalnya, vendor yang berbasis di Shenzhen itu, pernah menguasai pasar ponsel Indonesia pada periode 2019 – 2022.

Setelah peluncurannya di China, kehadiran ponsel lipat Find 6 di Indonesia tentu akan semakin memperkuat reputasi brand yang tengah dibangun Oppo, khususnya di segmen premium.

Seperti diketahui, sejak 2022 Oppo mengubah model bisnis. Oppo mulai mengejar segmen premium (flagship) terutama untuk merespons pergeseran tren pasar di mana konsumen kini rela membayar lebih untuk pengalaman penggunaan unggul, serta untuk meningkatkan citra merek (brand image) agar lebih bergengsi.

Strategi yang diusung Oppo adalah menghadirkan inovasi teknologi terdepan, seperti teknologi telephoto, batere besar, dan kamera Hasselblad, guna menarik pelanggan premium yang rela merogoh kantong untuk membeli smartphone di atas Rp 10 juta.

Tentu membidik segmen premium adalah langkah tepat karena pasar akan berkembang, meski demikian segmen ini lebih kecil dan konsumen sangat selektif dalam memutuskan untuk membeli produk.

Apalagi Opopo harus bersaing dengan pemain kelotokan yang sudah memiliki basis pelanggan yang loyal di segmen ini, seperti Apple (iPhone) dan Samsung. Padahal, harus diakui citra merek (brand awareness) Oppo di segmen premium, belum sekuat dua kompetitornya itu.

Baca Juga: Merger dengan Realme, Oppo Bisa Jadi Raja HP Lagi di Indonesia

Read Entire Article
Global Food