Selular.id – Pesatnya perkembangan kecerdasan buatan (AI) secara global ternyata membawa konsekuensi besar bagi Taiwan, sang pusat semikonduktor dunia.
Lonjakan permintaan komputasi AI memicu pembangunan pusat data secara masif, yang kini berujung pada ancaman krisis pasokan listrik di pulau tersebut.
Pemerintah Taiwan mulai menghadapi dilema antara menjaga momentum pertumbuhan industri teknologi tinggi dengan keterbatasan infrastruktur energi yang ada.
Kondisi ini terungkap setelah Taipower, perusahaan listrik milik negara Taiwan, menyatakan kesulitan untuk menyambungkan daya ke proyek-proyek pusat data baru yang berskala besar.
Masalah utamanya bukan sekadar jumlah energi yang diproduksi, melainkan kapasitas jaringan distribusi yang sudah mencapai titik jenuh di wilayah utara Taiwan.
Daerah seperti New Taipei City dan Taoyuan, yang menjadi lokasi favorit perusahaan teknologi, kini berada di zona merah dalam hal ketersediaan slot daya listrik.
Sejarah panjang Taiwan sebagai pemimpin industri chip memang tidak lepas dari dukungan energi yang stabil dan terjangkau. Namun, dinamika bisnis saat ini berubah drastis karena server AI membutuhkan daya berkali-kali lipat lebih besar dibandingkan server tradisional.
Sebagai gambaran, satu rak server yang menjalankan chip AI terbaru dari Nvidia memerlukan pendinginan dan suplai daya yang sangat intensif, membuat konsumsi listrik melonjak secara eksponensial dalam waktu singkat.
Ketegangan antara ambisi teknologi dan realitas infrastruktur ini memaksa pemerintah mengambil langkah tegas. Menteri Urusan Ekonomi Taiwan, Kuo Jyh-hui, mengonfirmasi bahwa izin untuk pusat data baru dengan permintaan daya di atas 5 megawatt tidak akan diberikan di wilayah utara.
Keputusan ini diambil demi melindungi stabilitas pasokan listrik bagi masyarakat umum dan industri kecil yang sudah ada di sana.
Strategi pemerintah kini beralih ke arah desentralisasi beban energi. Perusahaan-perusahaan teknologi besar, termasuk raksasa penyedia layanan cloud global seperti Google, Microsoft, dan Amazon Web Services (AWS), diarahkan untuk membangun fasilitas mereka di wilayah selatan Taiwan.
Area tersebut dinilai masih memiliki ruang lebih luas untuk pengembangan infrastruktur energi terbarukan, terutama tenaga surya dan angin, yang menjadi kunci bagi target net-zero emission perusahaan-perusahaan tersebut.
Membangun di wilayah selatan bukan tanpa tantangan bagi para pelaku industri. Secara teknis, memindahkan pusat data menjauh dari pusat bisnis di utara dapat memengaruhi latensi atau kecepatan pengiriman data, meskipun dalam skala kecil.
Namun, dengan kebijakan pengetatan di utara, para investor tidak memiliki banyak pilihan selain mengikuti peta jalan energi yang ditetapkan pemerintah jika ingin tetap beroperasi di Taiwan.
Di sisi lain, lonjakan konsumsi listrik ini juga memicu perdebatan mengenai masa depan energi nuklir di Taiwan. Beberapa pihak di legislatif mulai menyuarakan kemungkinan memperpanjang masa operasional pembangkit listrik tenaga nuklir yang tersisa untuk menambal kekurangan daya.
Meskipun secara politik isu ini sensitif, tekanan dari industri AI yang sangat lapar energi membuat opsi-opsi sulit mulai masuk kembali ke meja perundingan.
Ketergantungan dunia pada pasokan chip dari TSMC (Taiwan Semiconductor Manufacturing Company) juga menambah beban bagi manajemen energi nasional.
TSMC sendiri merupakan konsumen listrik terbesar di Taiwan, dan proses fabrikasi chip dengan teknologi yang lebih canggih, seperti fabrikasi 2-nanometer, membutuhkan energi yang jauh lebih besar.
Pemerintah harus memastikan bahwa raksasa chip ini tetap mendapatkan prioritas daya tanpa mengorbankan stabilitas jaringan nasional.
Ke depan, tantangan ini akan menjadi ujian sejauh mana Taiwan mampu menyeimbangkan peranannya sebagai “jantung” teknologi dunia dengan ketahanan energi domestik.
Pertumbuhan ekonomi yang didorong oleh sektor AI memang menjadi berkah yang diinginkan banyak negara, namun tanpa transformasi infrastruktur listrik yang cepat, ambisi tersebut bisa terhambat oleh keterbatasan fisik jaringan kabel dan pembangkit.
Transformasi menuju energi hijau dan distribusi beban ke wilayah selatan akan menjadi kunci keberlanjutan industri teknologi di sana dalam dekade mendatang.
Baca juga : Perang Antar Agen AI Dimulai, Aplikasi Tradisional Diprediksi Mati Suri


















































