Selular.ID – Amartha melaporkan bahwa akses pembiayaan berbasis inklusi keuangan berdampak signifikan terhadap pertumbuhan usaha mikro di Indonesia.
Dalam Sustainability Report 2025, perusahaan mencatat sebanyak 89 persen UMKM binaan Amartha mengalami peningkatan pendapatan, dengan rata-rata pertumbuhan mencapai 63 persen setelah memperoleh akses pembiayaan.
Founder & CEO Amartha, Andi Taufan Garuda Putra, menyampaikan bahwa dampak tersebut telah dirasakan oleh sekitar 2,3 juta dari total 3,9 juta UMKM binaan yang tersebar di lebih dari 50.000 desa di Indonesia.
Menurutnya, data ini menunjukkan bahwa pembiayaan inklusif tidak hanya membuka akses terhadap modal, tetapi juga berperan sebagai pendorong pertumbuhan ekonomi di tingkat akar rumput.
Ia menegaskan, penyediaan akses pembiayaan yang tepat sasaran menjadi kunci untuk meningkatkan kapasitas usaha mikro, terutama di tengah masih terbatasnya akses terhadap layanan keuangan formal.
Amartha memposisikan pembiayaan sebagai instrumen untuk memperkuat ekosistem usaha mikro sekaligus meningkatkan kesejahteraan pelaku usaha.
Kesenjangan pendanaan masih menjadi tantangan struktural dalam perekonomian nasional.
Berdasarkan data Statistik Sistem Keuangan Indonesia (SSKI) yang dirilis Bank Indonesia, kebutuhan kredit UMKM diproyeksikan mencapai Rp4.300 triliun pada 2026.
Namun, kapasitas pembiayaan yang tersedia baru sekitar Rp1.900 triliun, sehingga menyisakan gap pembiayaan sebesar Rp2.400 triliun pada 2025.
Kondisi tersebut menunjukkan masih banyak pelaku usaha mikro yang belum terjangkau oleh sistem keuangan formal.
Dalam konteks ini, peran teknologi finansial atau financial technology (fintech) menjadi semakin relevan untuk menjembatani kesenjangan tersebut melalui model pembiayaan yang lebih fleksibel dan berbasis digital.
Direktur Ekonomi Digital Center of Economic and Law Studies (CELIOS), Nailul Huda, menjelaskan bahwa akses pembiayaan memiliki korelasi langsung terhadap peningkatan mobilitas ekonomi masyarakat.
Ia menyebut, ketika pelaku usaha terhubung dengan sistem keuangan formal, dampaknya tidak hanya terlihat pada peningkatan pendapatan, tetapi juga pada ketahanan ekonomi rumah tangga.
Huda juga menyoroti peran fintech dalam mendorong inklusi keuangan.
Berdasarkan data yang ia sampaikan, negara yang telah mengadopsi teknologi finansial memiliki tingkat inklusi keuangan 41,5 persen lebih tinggi dibandingkan negara yang belum mengadopsinya.
Kehadiran layanan pinjaman daring turut memperluas akses masyarakat terhadap produk keuangan serta mendorong tumbuhnya ekosistem ekonomi di tingkat desa, termasuk melalui kehadiran agen-agen layanan keuangan.
Dampak akses pembiayaan juga tercermin dalam perubahan pola usaha pelaku UMKM. Sebagian pelaku usaha yang sebelumnya hanya berfokus pada pemenuhan kebutuhan harian kini mulai mengembangkan usaha dan menciptakan sumber pendapatan tambahan.
Salah satu mitra Amartha, Mama Redha, yang berprofesi sebagai nelayan di Sumba, mengungkapkan bahwa akses pembiayaan tanpa agunan membantunya membangun usaha warung kelontong sebagai sumber pendapatan tambahan.
Ia menjelaskan bahwa ketergantungan pada hasil laut yang tidak menentu mendorongnya untuk mencari alternatif usaha demi menjaga stabilitas ekonomi keluarga.
Amartha menyatakan akan terus memperluas jangkauan layanan pembiayaan untuk menjangkau lebih banyak pelaku usaha mikro di berbagai wilayah Indonesia.
Perusahaan juga berupaya memastikan bahwa setiap penyaluran pembiayaan tidak hanya memberikan akses modal, tetapi juga mendukung peningkatan kapasitas usaha dan daya saing pelaku UMKM.
Upaya ini sejalan dengan kebutuhan nasional untuk mempersempit kesenjangan pembiayaan sekaligus mendorong inklusi keuangan yang lebih merata.
Dengan memanfaatkan teknologi finansial dan pendekatan berbasis komunitas, Amartha menempatkan diri sebagai salah satu bagian dari ekosistem yang berperan dalam memperkuat fondasi ekonomi mikro di Indonesia.
Baca Juga: Amartha Gaet Nobu Bank Salurkan Modal Usaha Ultra Mikro Rp100 Miliar

















































