Penjualan Ponsel Lipat Lesu, Samsung dan Huawei Tertekan

5 hours ago 2

Selular.ID – Pasar ponsel lipat global menunjukkan peningkatan dari sisi teknologi pada 2025, namun tingkat adopsinya masih terbatas.

Sejumlah laporan industri yang dikutip media teknologi internasional menyebutkan bahwa meski perangkat dari produsen seperti Samsung dan Huawei semakin matang dari sisi desain dan daya tahan, volume penjualannya belum mampu menembus pasar massal seperti smartphone konvensional.

Editorial yang dipublikasikan oleh Gizchina pada awal Maret 2026 menyoroti kesenjangan antara kemajuan teknologi dan realitas permintaan pasar.

Disebutkan bahwa generasi terbaru ponsel lipat kini hadir dengan engsel lebih kokoh, lipatan layar yang makin samar, serta dukungan perangkat lunak yang lebih optimal dibanding generasi awal yang diperkenalkan beberapa tahun lalu.

Sejak peluncuran perdana kategori ini oleh Samsung melalui lini Galaxy Fold pada 2019, industri smartphone menempatkan ponsel lipat sebagai simbol inovasi premium.

Sejumlah produsen lain seperti Huawei, serta vendor asal Tiongkok lainnya, kemudian mengikuti dengan model foldable versi mereka.

Namun, harga jual yang tinggi dan persepsi konsumen terhadap daya tahan jangka panjang masih menjadi faktor penghambat utama adopsi.

Data lembaga riset pasar seperti IDC dan Counterpoint Research dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan bahwa pangsa pasar ponsel lipat secara global masih berada di bawah 5 persen dari total pengiriman smartphone tahunan.

Angka tersebut mencerminkan bahwa segmen ini masih bersifat niche atau ceruk, meski pertumbuhannya sempat mencatatkan dua digit pada fase awal ekspansi.

Samsung sebagai pemimpin pasar foldable mempertahankan dominasinya melalui seri Galaxy Z Fold dan Galaxy Z Flip.

Strategi perusahaan asal Korea Selatan itu berfokus pada diferensiasi desain dan peningkatan produktivitas, terutama untuk pengguna premium dan profesional.

Huawei, di sisi lain, memperkuat portofolio foldable di pasar domestik Tiongkok, termasuk dengan pendekatan desain lipat ke dalam maupun ke luar.

Secara teknis, ponsel lipat generasi terbaru telah mengatasi sejumlah masalah awal seperti celah engsel, ketahanan layar fleksibel, serta optimalisasi aplikasi pada layar besar.

Panel OLED fleksibel kini memiliki lapisan pelindung tambahan dan mekanisme engsel dirancang untuk menahan ratusan ribu kali lipatan.

Sistem operasi Android juga semakin adaptif terhadap mode multitasking pada layar lipat.

Meski demikian, faktor harga tetap menjadi hambatan signifikan. Rata-rata harga ponsel lipat masih berada jauh di atas smartphone flagship konvensional.

Di banyak pasar, selisih harga dapat mencapai dua kali lipat dibanding ponsel premium non-lipat. Kondisi ini membuat konsumen lebih memilih perangkat dengan spesifikasi tinggi namun harga lebih kompetitif.

Selain harga, pola penggunaan juga memengaruhi keputusan pembelian. Tidak semua konsumen membutuhkan layar yang dapat diperluas atau fungsi multitasking tingkat lanjut.

Bagi sebagian pengguna, smartphone dengan layar besar konvensional sudah cukup memenuhi kebutuhan hiburan dan produktivitas.

Dari sisi distribusi, produsen juga menghadapi tantangan dalam mengedukasi pasar. Foldable masih diposisikan sebagai produk aspiratif, bukan kebutuhan utama.

Siklus penggantian perangkat yang semakin panjang turut memperlambat penetrasi kategori baru ini.

Di tengah kondisi tersebut, sejumlah analis industri menilai bahwa masa depan ponsel lipat sangat bergantung pada dua faktor utama, yakni efisiensi biaya produksi dan inovasi bentuk baru.

Penurunan harga komponen layar fleksibel serta skala produksi yang lebih besar berpotensi menekan harga jual dalam beberapa tahun mendatang.

Selain itu, eksplorasi desain seperti model tri-fold atau form factor baru dapat memperluas skenario penggunaan.

Bagi Samsung dan Huawei, foldable tetap menjadi bagian penting strategi diferensiasi di segmen premium.

Kehadiran perangkat ini memperkuat citra inovasi dan menjadi etalase kemampuan teknologi masing-masing perusahaan.

Namun secara bisnis, kontribusinya terhadap total volume pengiriman global masih terbatas dibanding lini smartphone konvensional.

Perkembangan selanjutnya akan ditentukan oleh respons pasar terhadap generasi berikutnya serta dinamika harga.

Jika produsen mampu menghadirkan ponsel lipat dengan harga lebih terjangkau tanpa mengorbankan kualitas, peluang adopsi massal akan terbuka lebih lebar.

Baca Juga:Tren Ponsel Lipat Bergeser, Konsumen Mulai Tinggalkan Model Flip demi Tipe Fold

Hingga saat ini, kategori foldable tetap berada pada fase transisi antara inovasi teknologi dan penerimaan pasar yang lebih luas.

Read Entire Article
Global Food