Palang Merah Peringatkan Bahaya Evakuasi Kota Gaza

5 hours ago 3
Palang Merah Peringatkan Bahaya Evakuasi Kota Gaza Warga Gaza.(Al Jazeera)

PALANG Merah pada Sabtu (30/8) memperingatkan bahwa rencana Israel untuk mengevakuasi Kota Gaza berisiko besar bagi warga sipil. 

Peringatan ini disampaikan saat militer Israel memperketat pengepungan di wilayah tersebut menjelang operasi besar yang direncanakan.

Badan pertahanan sipil Gaza melaporkan bahwa sejak fajar, serangan Israel menewaskan 66 orang di wilayah yang sudah porak-poranda akibat perang yang hampir memasuki bulan ke-23.

"Mustahil evakuasi massal Kota Gaza dapat dilakukan dengan cara yang aman dan bermartabat dalam kondisi saat ini," kata Presiden Komite Internasional Palang Merah, Mirjana Spoljaric, seperti dikutip AFP, Minggu (31/8).

Dia menambahkan bahwa buruknya kondisi tempat tinggal, layanan kesehatan dan gizi membuat evakuasi tidak hanya buruk tetapi juga tidak dapat dipahami dalam situasi saat ini.

Israel di Bawah Tekanan Internasional

Israel menghadapi desakan yang semakin kuat untuk menghentikan serangan di Gaza. Mayoritas penduduk telah mengungsi sedikitnya sekali. Perserikatan Bangsa-Bangsa bahkan menyatakan kondisi di wilayah itu sudah mencapai bencana kelaparan.

Namun, meskipun seruan datang dari dalam dan luar negeri, militer Israel tetap mempersiapkan operasi untuk merebut Kota Gaza sekaligus memindahkan warganya.

Di Tel Aviv, keluarga para sandera yang masih ditahan di Gaza menggelar demonstrasi menuntut negosiasi. Mereka memperingatkan bahwa operasi militer baru justru bisa mengancam nyawa para sandera.

Militer Israel menetapkan Kota Gaza sebagai zona pertempuran berbahaya dan tidak memberikan jeda harian yang memungkinkan distribusi makanan. 

Sehari sebelumnya, badan Kementerian Pertahanan Israel, COGAT, menyebut sedang menyiapkan langkah untuk memindahkan penduduk ke selatan demi perlindungan mereka.

Mengguncang Bumi

Juru bicara pertahanan sipil Gaza, Mahmud Bassal, mengatakan 66 orang tewas akibat serangan udara Israel sejak fajar. 

Sejumlah tenda pengungsi di dekat suatu masjid di al-Nasr, sebelah barat Kota Gaza, menjadi salah satu target yang menewaskan 12 orang.

Seorang saksi, Umm Imad Kaheel, menggambarkan serangan tersebut telah mengguncang bumi. 

Menurutnya, anak-anak termasuk di antara korban. "Orang-orang berteriak dan panik. Semua orang berlarian, berusaha menyelamatkan yang terluka dan mengevakuasi para martir yang tergeletak di tanah," ujarnya.

Selain itu, pertahanan sipil melaporkan 12 korban jiwa akibat tembakan Israel ketika warga menunggu bantuan makanan di beberapa titik distribusi.

Seorang jurnalis AFP yang berada di utara Kota Gaza mengatakan ia diperintahkan tentara untuk mengungsi. Ia menambahkan bahwa kondisi semakin sulit akibat tembakan dan ledakan di sekitarnya.

Di lingkungan Zeitoun, warga bernama Abu Mohammed Kishko menyebut pengeboman pada malam sebelumnya sebagai tindakan gila. "Kejadian itu tidak berhenti sedetik pun dan kami tidak tidur semalaman," tegasnya. 

Kekhawatiran terhadap Nasib Sandera

Rencana Israel memperluas operasi juga memicu perdebatan di dalam negeri. Banyak pihak khawatir keputusan itu justru mengancam nyawa para sandera.

Pada Sabtu, Kantor Perdana Menteri Israel mengonfirmasi bahwa jenazah mahasiswa Idan Shtivi telah diidentifikasi sebagai salah satu dari dua sandera yang ditemukan di Gaza pekan ini. 

Forum Sandera dan Keluarga Hilang menyebut pengembalian jenazah tersebut sebagai penutupan sebuah lingkaran dan memenuhi kewajiban mendasar Negara Israel kepada warganya.

Einav Zangauker, ibu dari sandera Matan Zangauker, memperingatkan di Tel Aviv bahwa jika Benjamin Netanyahu memilih untuk menduduki Jalur Gaza alih-alih garis besar kesepakatan saat ini, maka itu akan menjadi eksekusi bagi para sandera dan tentara mereka. 

Pada awal Agustus, Hamas telah menerima kerangka kerja gencatan senjata sekaligus kesepakatan pembebasan sandera, namun Israel belum memberikan tanggapan resmi.

Sementara itu, tentara Israel mengonfirmasi dua tentaranya terluka oleh alat peledak dalam operasi darat di Zeitoun. 

Militer juga mengeklaim berhasil menargetkan seorang teroris kunci Hamas di wilayah Kota Gaza, meski tidak menyebut identitasnya.

Perang saat ini dipicu serangan Hamas pada Oktober 2023 yang menewaskan 1.219 orang, sebagian besar warga sipil, menurut data Israel yang dihimpun AFP. Dari 251 orang yang diculik saat itu, 47 masih ditahan di Gaza, dengan sekitar 20 diyakini masih hidup.

Sebagai balasan, serangan Israel telah menewaskan sedikitnya 63.371 warga Palestina, sebagian besar juga warga sipil, berdasarkan data Kementerian Kesehatan Gaza yang dikuasai Hamas. Angka ini dinilai dapat diandalkan oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa. (I-2)

Read Entire Article
Global Food