Selular.ID – Peneliti dari Tim Riset dan Analisis Global Kaspersky (GReAT) memberikan penjelasan tentang bagaimana SilverFox memanfaatkan meningkatnya penggunaan Kecerdasan Buatan (AI) di berbagai industri.
SilverFox sendiri merupakan salah satu kelompok Ancaman Berkelanjutan Tingkat Lanjut (APT) yang paling aktif termasuk di Asia Pasifik.
Ia juga memperingatkan bahwa kemampuan Kecerdasan Buatan (AI) yang berkembang pesat mengantarkan era di mana serangan siber berubah dari “operasi tim khusus” menjadi “serangan solo berbiaya rendah”.
Peneliti GReAT merinci taktik terbaru yang digunakan oleh SilverFox, sebuah kelompok ancaman utama yang aktif di seluruh wilayah Asia Pasifik.
Baca juga:
- Gelar Academic Partners Summit 2026, Kaspersky Ingin Hapus Kesenjangan Talenta Siber
- Kaspersky: Serangan Siber Kini Gunakan AI-Native, Pertahanan Harus AI-Powered
Aktor ancaman yang dideteksi oleh peneliti Tim Riset dan Analisis Global Kaspersky (GReAT) pada Desember 2025 ini, dikenal karena menggunakan pendekatan multi-tahap untuk pengiriman muatan dan memanfaatkan infrastruktur yang tersegmentasi, menggunakan alamat dan domain yang berbeda untuk berbagai tahapan serangan.
Teknik-teknik ini dirancang untuk meminimalkan risiko deteksi dan mencegah pemblokiran seluruh rantai serangan.
Kampanye terbarunya menargetkan perusahaan-perusahaan di India, Indonesia, Afrika Selatan, dan Rusia di sektor industri, konsultasi, perdagangan, dan transportasi, di mana mereka menggunakan email phishing yang tampak seperti pemberitahuan audit pajak resmi atau untuk mendorong penerima mengunduh arsip yang mengaku berisi daftar pelanggaran pajak.
Dengan memanfaatkan otoritas dan urgensi komunikasi dari lembaga pajak, pelaku ancaman bertujuan untuk membujuk korban agar mengunduh file tersebut dan memicu rantai serangan.
Riset Kaspersky mencatat lebih dari 1.600 email berbahaya antara Januari dan Februari 2026.
Kini, temuan terbaru dari Kaspersky GReAT menunjukkan SilverFox menggunakan aplikasi Claude palsu untuk menyusup ke organisasi target mereka. Claude adalah asisten percakapan tingkat lanjut, model bahasa besar (LLM), dan chatbot yang dikembangkan oleh Anthropic.
Ini membantu pengguna menulis, membuat kode, menganalisis dokumen panjang, dan memecahkan masalah kompleks melalui dialog alami.
“SilverFox adalah salah satu kelompok ancaman paling aktif di seluruh kawasan Asia Pasifik,” jelas Ye Jin, Peneliti Keamanan Utama di Kaspersky GReAT.
“Mereka masuk ke target melalui tiga jalur sederhana: situs web palsu, email phishing, dan file berbahaya yang disebarkan melalui aplikasi pesan social,” sambungnya.
Spionase Siber Jangka Panjang
Menurut Kaspersky, SilverFox menyuntikkan malware yang digunakan untuk spionase siber jangka panjang dan pengumpulan data sensitif.
“Analisis terbaru kami menunjukkan bahwa mereka sekarang mendistribusikan Claude palsu untuk Windows, macOS, dan Linux, memanfaatkan penggunaan AI di perusahaan untuk meretas pertahanan keamanan target mereka,” jelasnya.
Dalam hal distribusi serangan, kawasan Asia Pasifik adalah yang paling terdampak oleh aktivitas berbahaya SilverFox, dengan volume yang jauh melebihi jumlah semua kawasan lain.
Ini menunjukkan bahwa ancaman SilverFox saat ini sebagian besar terkonsentrasi di Asia, khususnya di Asia Timur dan Tenggara.
“Berdasarkan data ancaman kami saat ini, China adalah target utama SilverFox dengan lebih dari 90% dari semua serangannya menargetkan wilayah tersebut,” jelasnya.
“Mainland China saja menyumbang 71%. Myanmar, Kamboja, dan Singapura juga mengalami banyak serangan. Ini adalah titik panas berikutnya yang perlu kita awasi,” tutup Ye Jin.

















































