VIDA Kampanye “Jangan Asal Klik” Waspadai Scam Jelang THR

8 hours ago 4

Selular.ID – VIDA meluncurkan kampanye edukasi publik bertajuk “Jangan Asal Klik” menjelang periode pencairan Tunjangan Hari Raya (THR) 2026.

Kampanye ini bertujuan meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap risiko penipuan digital (scam) yang kerap meningkat ketika aktivitas transaksi online melonjak menjelang Lebaran.

Program edukasi tersebut diperkenalkan di Jakarta pada 10 Maret 2026 bersama sejumlah pemangku kepentingan.

Hadir dalam peluncuran tersebut Direktur Pengawasan Sertifikasi dan Transaksi Elektronik Kementerian Komunikasi dan Digital, Teguh Afriyadi, Chief Operating Officer VIDA Victor Indajang, serta Director of Public Affairs VIDA Chaerany Putri.

Dalam kesempatan yang sama, VIDA juga merilis laporan riset regional bertajuk “VIDA 2026 SEA Digital Identity Fraud Outlook.”

Menurut Teguh Afriyadi, tren penipuan digital di Indonesia sangat dipengaruhi momentum tertentu, termasuk periode pencairan THR, hari raya keagamaan, hingga masa libur sekolah.

Ia menyebut setidaknya terdapat sekitar 1.700 laporan penipuan digital yang masuk setiap hari.

“Polanya meningkat dan sangat bergantung momentum—biasanya menjelang Lebaran, Natal, dan libur sekolah. Salah satu pemicunya adalah kebiasaan masyarakat yang terlalu cepat percaya tanpa melakukan verifikasi,” kata Teguh.

Direktur Pengawasan Sertifikasi dan Transaksi Elektronik Kementerian Komunikasi dan Digital, Teguh AfriyadiDirektur Pengawasan Sertifikasi dan Transaksi Elektronik Kementerian Komunikasi dan Digital, Teguh Afriyadi

Whitepaper yang dirilis VIDA menyoroti bahwa lonjakan scam sering terjadi ketika terjadi pencairan dana secara massal, seperti pada periode pembayaran gaji atau THR.

Pada momen tersebut, aktivitas pembayaran digital meningkat tajam dan menciptakan kondisi transaksi yang sangat padat.

Situasi ini kerap dimanfaatkan pelaku penipuan untuk menyebarkan pesan atau tautan yang tampak meyakinkan.

Riset tersebut juga mengidentifikasi pola yang disebut “payday pulse”, yakni peningkatan risiko penipuan yang muncul hampir setiap bulan pada rentang tanggal 25 hingga 28, bertepatan dengan periode pencairan gaji di banyak perusahaan.

Pola ini menunjukkan bahwa penipuan digital semakin terorganisir dan memanfaatkan momentum ekonomi tertentu untuk meningkatkan peluang keberhasilan.

Data pemerintah juga menunjukkan bahwa aplikasi pesan instan dan media sosial masih menjadi kanal utama penyebaran penipuan digital.

Berdasarkan data layanan pelaporan CekRekening.id yang dikelola Komdigi, sepanjang 2017 hingga 31 Oktober 2025 terdapat 396.691 laporan terkait nomor rekening bank atau dompet digital yang diduga digunakan untuk penipuan melalui aplikasi pesan.

Sementara itu, laporan yang berasal dari aktivitas di media sosial mencapai 281.050 kasus.

Chief Operating Officer VIDA Victor IndajangChief Operating Officer VIDA Victor Indajang

Temuan tersebut menunjukkan bahwa pelaku penipuan cenderung memanfaatkan kanal komunikasi yang paling dekat dengan aktivitas sehari-hari masyarakat.

Pesan yang disertai tautan, dokumen digital, atau permintaan mendesak sering kali dirancang agar terlihat wajar sehingga lebih mudah dipercaya.

Chief Operating Officer VIDA Victor Indajang mengatakan bahwa modus penipuan digital saat ini berkembang semakin kompleks dan tidak lagi dilakukan secara individual.

Menurutnya, banyak jaringan penipuan yang beroperasi secara terorganisir dengan memanfaatkan teknik rekayasa sosial (social engineering) untuk memancing korban memberikan data atau mengakses tautan berbahaya.

“Garda utama perlindungan tetap dimulai dari kesadaran diri. Jangan mudah tergiur, jangan terburu-buru ketika menerima pesan atau dokumen, dan biasakan berhenti sejenak untuk memverifikasi sebelum mengambil tindakan,” ujar Victor.

Kampanye “Jangan Asal Klik” juga selaras dengan peringatan dari sejumlah regulator keuangan seperti Otoritas Jasa Keuangan dan Bank Indonesia mengenai meningkatnya berbagai modus penipuan digital, termasuk phishing, impersonasi, serta rekayasa sosial yang memanfaatkan teknologi kecerdasan buatan (AI).

Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan, kerugian masyarakat akibat penipuan digital diperkirakan mencapai sekitar Rp9,1 triliun dari lebih dari 400 ribu laporan sepanjang November 2024 hingga akhir 2025.

Modus yang digunakan beragam, mulai dari investasi palsu, pencurian data melalui tautan phishing, hingga penyalahgunaan dokumen digital yang tampak resmi.

Melalui kampanye edukasi tersebut, VIDA juga mengingatkan masyarakat untuk membangun kebiasaan keamanan digital sederhana.

Beberapa langkah yang dianjurkan antara lain tidak mengklik tautan dari sumber tidak dikenal, tidak membagikan kode verifikasi seperti OTP atau PIN, mewaspadai file APK yang meminta instalasi aplikasi tambahan, serta selalu memverifikasi setiap permintaan transfer dana.

Selain edukasi publik, VIDA juga mengembangkan pendekatan teknologi keamanan berbasis multi-layer defense, yakni sistem perlindungan berlapis yang tidak hanya bergantung pada kata sandi.

Dalam pendekatan ini, perusahaan menghadirkan solusi autentikasi tambahan seperti FaceToken, yang menggunakan verifikasi biometrik wajah, serta PhoneToken, yang memanfaatkan identitas perangkat sebagai lapisan verifikasi tambahan untuk mengurangi risiko pengambilalihan akun.

Menurut VIDA, kombinasi edukasi publik dan penguatan teknologi autentikasi menjadi langkah penting untuk meningkatkan keamanan ekosistem digital.

Upaya ini juga sejalan dengan dorongan pemerintah untuk memperkuat perlindungan masyarakat dalam aktivitas digital yang terus meningkat, terutama pada periode transaksi tinggi seperti Ramadan dan menjelang Lebaran.

Baca Juga: “Where’s The Fraud Hub” dan Fitur Magic Scan Vida upaya Perangi Penipuan Digital

Read Entire Article
Global Food