Selular.ID – Penggunaan teknologi digital di kawasan Asia Pasifik (APAC) terus melampaui rata-rata global.
Namun, tingginya aktivitas digital tersebut berjalan beriringan dengan meningkatnya kesadaran konsumen terhadap potensi kejahatan siber, terutama ketika smartphone semakin menjadi pintu utama untuk mengakses layanan keuangan, belanja, hiburan, hingga komunikasi.
Temuan tersebut berdasarkan B2C Pulse Survey yang dilakukan Kaspersky Market Intelligence.
Dalam survei tersebut, konsumen APAC tercatat lebih aktif dibandingkan konsumen global dalam berbagai aktivitas digital, mulai dari belanja online, keuangan digital, hiburan, hingga komunikasi.
Baca juga:
- Kaspersky: Serangan Siber Kini Gunakan AI-Native, Pertahanan Harus AI-Powered
- Kaspersky Gelar Asia Pacific Conference Cyber Security Weekend di Guangzhou, Selular Turut Hadir
Untuk aktivitas belanja online, misalnya, tingkat penggunaan di APAC mencapai 80%, lebih tinggi dibandingkan rata-rata global sebesar 71%.
Tonton juga:
Video Rekomendasi Untuk Anda
Penggunaan layanan keuangan digital mencapai 72% berbanding 70% secara global.
Sementara itu, penggunaan hiburan digital di APAC mencapai 70%, dibandingkan 62% secara global.
Aktivitas komunikasi digital juga lebih tinggi, yakni 68% berbanding 61%.
Temuan tersebut disampaikan dalam Kaspersky APAC Cyber Security Weekend di Guangzhou, China.
Konsumen Indonesia Cukup Sadar Ancaman Siber
Tingginya aktivitas digital ternyata juga diikuti kesadaran terhadap risiko kejahatan digital.
Sebanyak 35% konsumen APAC menyatakan kekhawatiran terhadap penggunaan teknologi digital untuk melakukan kejahatan.
Angka tersebut sedikit lebih tinggi dibandingkan rata-rata global sebesar 32%.
Di kawasan Asia Tenggara, tingkat kekhawatiran tertinggi tercatat di Thailand sebesar 39%, disusul Malaysia 38%.
Indonesia berada di angka 35%, sama dengan rata-rata APAC. Berikutnya China 34%, India 32%, dan Vietnam 31%.
Menurut Choon Hong Chee, Head of Consumer Channel for APAC Kaspersky, tingginya penggunaan layanan digital membuat keamanan siber tidak lagi menjadi pilihan tambahan.
“Ketika 77% masyarakat APAC sudah online dan dompet digital menyumbang sekitar 70% pembayaran online, keamanan siber bukan lagi pilihan,” ujar Choon.
Ia menambahkan, jumlah pelanggan seluler di kawasan tersebut diproyeksikan mencapai 2,11 miliar pada 2030.
Kondisi itu membuat perlindungan terhadap data pribadi dan transaksi keuangan menjadi semakin penting untuk menjaga kepercayaan dalam ekonomi digital APAC.
Hampir 30.000 Serangan Mobile Diblokir
Di tengah meningkatnya ketergantungan terhadap smartphone, ancaman terhadap perangkat mobile juga menunjukkan tren yang perlu diperhatikan.
Kaspersky mengungkapkan telah memblokir hampir 30.000 serangan mobile terhadap konsumen di APAC sepanjang tiga bulan pertama 2026.
India dan Indonesia mencatat volume serangan mobile tertinggi, masing-masing sebanyak 18.187 dan 15.163 insiden.
Namun, besarnya jumlah serangan bukan satu-satunya persoalan. Sejumlah negara justru menunjukkan pertumbuhan ancaman yang sangat tinggi dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Berdasarkan telemetri Kaspersky, peningkatan serangan mobile pada kuartal pertama 2026 dibandingkan kuartal pertama 2025 antara lain terjadi di:
- Taiwan: +373%
- Sri Lanka: +132%
- Thailand: +127%
- Bangladesh: +108%
- China: +69%
- Filipina: +28%
Pertumbuhan tersebut menunjukkan bahwa ancaman mobile tidak hanya terkonsentrasi di negara dengan jumlah pengguna internet terbesar.
Smartphone Jadi Pintu Masuk Ekonomi Digital
Menurut Choon, meningkatnya serangan mobile merupakan konsekuensi dari perubahan kebiasaan digital masyarakat APAC yang berlangsung cepat.
Ia menilai angka hampir 30.000 ancaman yang terdeteksi pada kuartal pertama bisa saja hanya sebagian dari persoalan yang sebenarnya.
India dan Indonesia memang mencatat volume serangan tertinggi, tetapi lonjakan signifikan di Taiwan, Sri Lanka, Thailand, dan Bangladesh menunjukkan ancaman mobile mulai berkembang luas.
Persoalan lainnya adalah tingkat perlindungan smartphone yang dinilai belum selalu setara dengan perangkat komputer.
Padahal, smartphone kini semakin sering digunakan sebagai gerbang menuju layanan perbankan, pembayaran, belanja, komunikasi sosial, dan aktivitas profesional.
“Seiring penjahat siber mengikuti perubahan ini, tantangannya adalah memastikan keamanan mobile berkembang dengan kecepatan yang sama dengan adopsinya,” kata Choon.
Keamanan Tak Bisa Hanya Dibebankan ke Pengguna
Meningkatnya ancaman mobile mendorong perubahan pendekatan keamanan.
Kaspersky menilai perlindungan perlu ditempatkan lebih dekat dengan aktivitas digital konsumen, termasuk dengan mengintegrasikan keamanan langsung ke dalam aplikasi.
Pendekatan tersebut berbeda dengan model yang sepenuhnya mengandalkan pengguna untuk memasang dan mengelola aplikasi keamanan secara terpisah di perangkat mereka.
Kaspersky menawarkan Mobile Security SDK yang memungkinkan organisasi seperti bank, peritel, layanan pemerintah, dan pengembang aplikasi memasukkan sejumlah lapisan perlindungan langsung ke aplikasi mobile. Kemampuannya mencakup:
- Anti-phishing dan deteksi malware
- Koneksi yang aman
- Pemeriksaan reputasi perangkat
- Perlindungan data
- Deteksi remote access tools
- Peringatan ketika ditemukan ancaman seperti financial Trojan, pencuri kata sandi, dan malware phishing
Model keamanan terintegrasi tersebut semakin relevan ketika smartphone menjadi perangkat utama untuk aktivitas yang berkaitan dengan data dan keuangan.
Dengan menempatkan sistem keamanan langsung di aplikasi, organisasi dapat memberikan lapisan perlindungan tambahan tanpa sepenuhnya menyerahkan tanggung jawab kepada pengguna untuk mengenali dan merespons ancaman.
Bukan Hanya Malware, Panggilan Mencurigakan Juga Diantisipasi
Kaspersky juga menyediakan Kaspersky Who Calls SDK, yang memungkinkan organisasi mengintegrasikan informasi identifikasi dan reputasi nomor telepon ke dalam aplikasi mobile.
Fitur tersebut ditujukan untuk membantu pengguna mengenali panggilan atau nomor yang berpotensi mencurigakan maupun tidak diinginkan.
Untuk menghadapi ancaman dari situs berbahaya dan phishing, Kaspersky juga menawarkan Safe Web.
Solusi berbasis jaringan tersebut memungkinkan operator broadband dan seluler memindai lalu lintas pengguna melalui teknologi penyaringan DNS.
Dengan pendekatan tersebut, pengguna dapat memperoleh peringatan terhadap tautan yang berpotensi berbahaya sebelum mengaksesnya, termasuk ketika melakukan aktivitas seperti browsing, perbankan online, dan belanja.
Digitalisasi dan Keamanan Harus Berjalan Beriringan
Pertumbuhan penggunaan layanan digital di APAC memperlihatkan satu perubahan penting: smartphone bukan lagi sekadar perangkat komunikasi.
Perangkat ini semakin menjadi pusat aktivitas ekonomi dan sosial pengguna.
Di sisi lain, peningkatan serangan mobile menunjukkan bahwa ekspansi ekonomi digital juga memperluas ruang yang dapat dimanfaatkan penjahat siber.
Indonesia menjadi salah satu pasar yang perlu mendapat perhatian karena tercatat sebagai negara dengan volume serangan mobile tertinggi di APAC bersama India.
Pada saat yang sama, tingkat kekhawatiran konsumen Indonesia terhadap penyalahgunaan teknologi digital untuk kejahatan mencapai 35%.
Kondisi tersebut membuat perlindungan data dan keamanan transaksi menjadi bagian yang semakin penting dalam perkembangan ekonomi digital.
Bagi konsumen, keamanan tidak lagi hanya bergantung pada kesadaran untuk berhati-hati, tetapi juga pada seberapa jauh keamanan sudah ditanamkan ke dalam perangkat, aplikasi, dan jaringan yang digunakan sehari-hari.

















































