Selular.ID – PT Kereta Api Indonesia (Persero) atau KAI mencatatkan penguatan kinerja bisnis pada Semester I 2026.
Berdasarkan laporan keuangan KAI Group (unaudited), perusahaan membukukan pendapatan sebesar Rp17,96 triliun hingga 30 Juni 2026, meningkat 6,61 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang mencapai Rp16,85 triliun.
Pertumbuhan tersebut diikuti kenaikan laba bruto menjadi Rp6,79 triliun dan laba usaha menjadi Rp4,66 triliun.
Kinerja tersebut menunjukkan aktivitas bisnis utama KAI Group tetap tumbuh di tengah pengembangan layanan transportasi penumpang dan logistik nasional.
Peningkatan pendapatan didorong oleh bertambahnya volume pelanggan, penguatan bisnis angkutan barang, efisiensi operasional, serta sinergi antarentitas di lingkungan KAI Group.
Vice President Corporate Communication KAI, Anne Purba, mengatakan pertumbuhan pendapatan dan laba usaha menjadi fondasi penting bagi perusahaan untuk terus menjaga keselamatan perjalanan, meningkatkan kesiapan sarana dan prasarana, serta memperkuat kualitas pelayanan kepada masyarakat.
Tonton juga:
Video Rekomendasi Untuk Anda
Sepanjang Januari hingga Juni 2026, KAI Group melayani 258.993.359 pelanggan atau meningkat 7,55 persen dibandingkan Semester I 2025 yang sebanyak 240.805.920 pelanggan.
Jumlah tersebut mencakup layanan kereta api komersial, layanan Public Service Obligation (PSO), kereta api perintis, serta berbagai penugasan pemerintah di sektor transportasi.
Dari total pelanggan tersebut, sebanyak 235.137.908 pelanggan atau sekitar 90,79 persen merupakan pengguna layanan yang mendapatkan dukungan pemerintah melalui skema PSO, layanan kereta api perintis, maupun penugasan lainnya.
Data tersebut menunjukkan bahwa layanan bersubsidi masih menjadi tulang punggung operasional KAI dalam menyediakan akses transportasi yang terjangkau bagi masyarakat.
Menurut Anne Purba, dukungan pemerintah melalui berbagai skema pelayanan publik memungkinkan KAI memperluas jangkauan layanan hingga ke berbagai wilayah, sekaligus memastikan masyarakat tetap memperoleh moda transportasi yang aman, andal, dan sesuai kebutuhan.
Selain bisnis angkutan penumpang, sektor logistik juga memberikan kontribusi terhadap pertumbuhan perusahaan.
Selama Semester I 2026, KAI mengangkut 32.498.043 ton barang.
Dari jumlah tersebut, sebanyak 26.534.095 ton merupakan angkutan batu bara, sedangkan 5.963.948 ton berasal dari komoditas nonbatu bara.
Layanan angkutan barang KAI melayani distribusi berbagai komoditas strategis seperti batu bara untuk sektor energi, semen, bahan bakar, hasil perkebunan, peti kemas, hingga kebutuhan industri lainnya.
Moda transportasi berbasis rel dinilai mampu mendukung efisiensi logistik melalui kapasitas angkut yang besar serta jadwal perjalanan yang terencana.
Untuk meningkatkan kapasitas logistik, KAI terus menambah sarana angkutan barang.
Hingga Semester I 2026, sebanyak 1.080 gerbong datar telah tiba untuk memperkuat layanan angkutan barang di Sumatra.
Selain itu, perusahaan juga mengembangkan layanan KA Brumbung Cargo yang memiliki kapasitas hingga 800 ton dalam satu rangkaian perjalanan.
Pada periode yang sama, volume angkutan peti kemas KAI mencapai sekitar 2,62 juta ton.
Pengembangan layanan ini menjadi bagian dari strategi perusahaan dalam menyediakan alternatif distribusi logistik berbasis rel yang terintegrasi dengan kawasan industri dan pusat distribusi nasional.
Dari sisi keuangan, posisi neraca KAI Group juga menunjukkan perbaikan. Total aset perusahaan per 30 Juni 2026 mencapai Rp104,79 triliun.
Sementara itu, total liabilitas turun menjadi Rp65,11 triliun dari posisi akhir 2025 sebesar Rp66,14 triliun. Di sisi lain, total ekuitas meningkat menjadi Rp39,69 triliun.
Likuiditas perusahaan turut membaik.
Nilai aset lancar meningkat dari Rp19,40 triliun pada akhir 2025 menjadi Rp21,04 triliun, sedangkan kewajiban jangka pendek menurun dari Rp16,20 triliun menjadi Rp15,17 triliun.
Kondisi tersebut menunjukkan aset lancar KAI tetap lebih tinggi dibandingkan kewajiban jangka pendek yang harus dipenuhi perusahaan.
Meski demikian, laba sebelum pajak dan laba tahun berjalan mengalami penurunan dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Hingga Semester I 2026, laba sebelum pajak tercatat sebesar Rp842,69 miliar, sedangkan laba tahun berjalan mencapai Rp314,03 miliar.
Pada Semester I 2025, laba sebelum pajak tercatat sebesar Rp1,86 triliun dan laba tahun berjalan mencapai Rp1,18 triliun.
Menurut KAI, penurunan laba bersih terutama dipengaruhi meningkatnya pencatatan bagian rugi bersih dari perusahaan asosiasi dan usaha patungan, yang naik dari Rp948,20 miliar pada Semester I 2025 menjadi Rp3 triliun pada Semester I 2026.
Di luar faktor tersebut, bisnis inti perusahaan tetap menunjukkan pertumbuhan melalui peningkatan pendapatan, laba bruto, dan laba usaha.
Sejalan dengan agenda transformasi BUMN bersama Danantara Indonesia, KAI terus menjalankan berbagai program peningkatan produktivitas, efisiensi operasional, penguatan tata kelola, modernisasi sarana, digitalisasi layanan, serta sinergi antarbadan usaha milik negara.
Perusahaan juga meningkatkan kompetensi sumber daya manusia melalui pengembangan kemampuan teknis, kepemimpinan, budaya keselamatan, dan keterampilan digital.
Anne Purba menegaskan bahwa transformasi perusahaan tidak hanya berfokus pada aspek teknologi dan infrastruktur, tetapi juga pada peningkatan kualitas sumber daya manusia agar mampu mendukung operasional secara berkelanjutan.
Menurutnya, seluruh penguatan kinerja tersebut diarahkan untuk menghadirkan layanan transportasi kereta api yang semakin aman, andal, mudah diakses, serta memberikan kontribusi terhadap mobilitas masyarakat dan pertumbuhan ekonomi nasional.
Baca Juga: Komdigi Tegur YouTube Terkait Promosi Vape Libatkan Anak

















































