TLKM 30: Cara Dian Siswarini Kurangi Ketergantungan Telkom Terhadap Telkomsel

16 hours ago 5

Selular.ID – Sudah menjadi rahasia umum bahwa selama ini Telkom memiliki ketergantungan yang sangat tinggi terhadap Telkomsel.

Ketergantungan tersebut disebabkan karena anak usahanya itu merupakan penyumbang pendapatan dan laba bersih terbesar dalam portofolio Telkom Group.

Besarnya kontribusi didorong oleh posisi Telkomsel sebagai operator selular dan FMC (fixed mobile convergence) terbesar dengan jaringan terluas di Indonesia, serta pertumbuhan bisnis digital yang sangat pesat dibandingkan unit bisnis Telkom lainnya.

Tengok saja berdasarkan laporan kinerja,  Telkom berhasil membukukan pendapatan konsolidasi sebesar Rp109,6 triliun pada sembilan bulan pertama 2025.

EBITDA (Laba sebelum Bunga, Pajak, Depresiasi, dan Amortisasi) konsolidasi perseroan mencapai Rp54,4 triliun dengan margin EBITDA sebesar 49,6%.

Perseroan juga mencatat laba bersih sebesar Rp15,8 triliun dengan margin laba bersih 14,4%. Sedangkan untuk normalized net income tercatat sebesar Rp16,7 triliun dengan normalized net income margin 15,2%.

Namun kinerja apik Telkom itu tak lepas dari sokongan Telkomsel. Sepanjang  Q3-2025 pertumbuhan Telkomsel tetap kuat, didorong oleh bisnis digital yang tumbuh 7,9% menjadi Rp19,607 triliun pada kuartal tersebut.

Alhasil, Telkomsel menyumbang sekitar 74% dari total pendapatan Telkom Group di periode itu.

Meski mampu mempertahankan kinerja di tengah ketatnya persaingan dan perubahan perilaku pengguna, namun ketergantungan yang sangat signifikan terhadap Telkomsel, membuat Telkom terbilang rentan.

Baca Juga:

Pasalnya, bisnis selular dan FMC memiliki resiko tinggi, seperti kejenuhan pasar, perang tarif, perubahan teknologi yang cepat, serta tingginya biaya belanja modal (Capex) terutama untuk pembangunan BTS. Semuanya berpotensi menggerus pendapatan dan ujung-ujungnya menekan profitabilitas.

Menyadari kerentanan tersebut, Dirut Dian Siswarini bergerak cepat. Sebagai jawabannya, Telkom kini tengah menjalankan transformasi bisnis melalui program TLKM 30, yang bertumpu pada empat pilar.

Empat pilar utama dalam strategi transformasi Telkom 3.0 adalah Operational Excellence (perbaikan kualitas dan budaya), Streamlining (penyederhanaan anak usaha), Strategic Holding (fokus manajemen klaster bisnis), dan Unlocking Value (optimasi aset).

TLKM 30 merupakan visi transformasi Telkom yang dirancang agar perusahaan tetap relevan menghadapi perubahan industri teknologi dan kebutuhan pelanggan yang semakin dinamis.

Program ini mulai dijalankan sejak 2025 sebagai agenda transformasi jangka menengah perusahaan.

TLKM 30 menjadi agenda strategis perusahaan menuju 2030 yang salah satunya mencakup efisiensi struktur organisasi dengan memangkas jumlah anak usaha dari sekitar 66 entitas menjadi sekitar 20 entitas.

Langkah ini dilakukan untuk menyederhanakan portofolio bisnis, meningkatkan efisiensi operasional, serta memperkuat fokus perusahaan pada layanan digital dan infrastruktur telekomunikasi.

Dalam struktur grup saat ini, Telkom memiliki puluhan entitas bisnis dengan beragam lini usaha, mulai dari telekomunikasi, infrastruktur digital, hingga bisnis di luar sektor inti.

Lihat Juga:

Melalui TLKM 30, perusahaan menata kembali portofolio tersebut dengan melakukan penggabungan, divestasi, atau penutupan entitas yang dinilai tidak lagi strategis.

Menurut Dian, penyederhanaan perusahaan di lingkungan Telkom Group menjadi mutlak. Karena dari 62 perusahaan itu mungkin hanya sepertiganya yang sekarang memang menghasilkan atau create value.

“Nah dua pertiganya itu tidak create value untuk group, jadi sehingga tadi either harus di-divest atau ditutup atau digabungkan”, ujar Dian, kepada Selular dalam sesi diskusi dengan para pemimpin redaksi media-media terkemuka di Jakarta, Jumat (6/3).

Dian menjelaskan, dengan visi TLKM 30, empat pilar yang menjadi agenda strategis perusahaan, kelak menjadi navigasi sekaligus pilar yang memberikan kontribusi seimbang ke Telkom Group.

Harus diakui kondisi saat ini terbilang timpang, kontribusi yang diberikan Telkomsel mencapai 70% sisanya 30% dari anak perusahaan lain.

“Nantinya empat pilar itu memberikan kontribusi yang seimbang kepada Telkom Group. Sehingga ketergantungan Telkom Group terhadap Telkomsel tidak lagi sedemikian tinggi seperti saat ini”, ujar Dian.

Di sisi lain, Dian mengakui,  saat ini kebanyakan anak perusahaan lainnya memperoleh pendapatan dari internal Telkom Group.

Ke depan agar lebih sehat, anak-anak perusahaan yang lain didorong juga untuk bisa bisa berkembang dan mempunyai bisnis di luar Telkom Group.

“Seperti Infraco misalnya, harus bisa membuka akses Terhadap assetnya dan memberikan solusi maupun produk untuk perusahaan-perusahaan di luar Telkomsel”, ujar Dian.

“Dengan strategi itu, aset-aset Telkom bisa dilihat secara lebih baik, utilisasi lebih baik dan juga tentu value atau revenue yang bisa dilihat dari eksternal party bisa lebih besar”, pungkas Dian.

Baca Juga: Dian Siswarini Tinjau Kesiapan TelkomGroup Siaga RAFI 2026

Read Entire Article
Global Food