Selular.ID – Dominasi Nvidia di pasar chip AI mulai mendapat tantangan baru dari Asia hingga Eropa.
Samsung memimpin pendanaan senilai US$231 juta atau sekitar Rp3,4 triliun kepada startup Belanda, Euclyd, yang tengah mengembangkan chip AI dengan arsitektur berbeda dan diklaim lebih hemat energi serta murah.
Langkah Samsung tersebut menarik karena Euclyd tidak sekadar ingin membuat alternatif GPU Nvidia.
Startup yang berdiri pada 2024 itu merancang chip sejak awal khusus untuk menjalankan kecerdasan buatan, terutama pada tahap inferensi.
Baca juga:
- Baju Anti AI Bisa Kelabui Kamera Pengawas, Manusia Jadi “Tak Terlihat”
- Strategi Ekosistem Samsung Galaxy Perluas Integrasi AI dan Pemantauan Kesehatan
Dipimpin Bernardo Kastrup, Euclyd mencoba menjawab salah satu persoalan terbesar industri AI saat ini: kebutuhan komputasi yang terus melonjak, tetapi diikuti konsumsi listrik dan biaya pembangunan pusat data yang semakin besar.
Jika teknologi tersebut berhasil dikomersialkan sesuai rencana, Samsung dan Euclyd berpotensi menjadi penantang baru Nvidia dalam perebutan pasar chip AI global.
Samsung dan Euclyd Bidik Kelemahan Chip AI Nvidia
Berbeda dengan GPU yang pada awal perkembangannya dirancang untuk pengolahan grafis, chip Euclyd dikembangkan dengan arsitektur khusus AI.
Salah satu pendekatan utamanya adalah mengintegrasikan prosesor dan memori dalam rancangan yang saling disesuaikan.
Tujuannya mengurangi perpindahan data antara memori dan unit pemrosesan, salah satu sumber konsumsi energi dan hambatan kinerja dalam komputasi AI.
Pendekatan tersebut menjadi semakin relevan ketika model AI membutuhkan komputasi dalam skala sangat besar.
“Kecerdasan buatan sedang menjadi fondasi pertumbuhan ekonomi dan penemuan ilmiah. Namun potensinya akan terus dibatasi selama fondasi yang menopangnya tidak diubah secara mendasar,” ujar CEO Euclyd, Bernardo Kastrup.
Euclyd berharap arsitektur tersebut dapat menghasilkan pemrosesan AI lebih cepat sekaligus menekan kebutuhan energi dan biaya operasional.
Namun klaim tersebut masih harus dibuktikan. Teknologi Euclyd belum digunakan secara luas dalam skala operasional sehingga belum dapat disimpulkan mampu mengalahkan performa maupun efisiensi ekosistem chip Nvidia.
Samsung Tak Cuma Bawa Uang
Investasi Samsung juga memiliki arti strategis bagi Euclyd. Selain memimpin pendanaan US$231 juta, raksasa teknologi Korea Selatan tersebut memiliki kekuatan besar pada industri semikonduktor, terutama teknologi memori.
“Samsung dapat membantu kami lebih dari sekadar uang. Mereka adalah salah satu produsen memori terbesar di dunia. Mereka memahami sistem secara menyeluruh, mereka memahami rantai pasok, dan mereka memiliki jaringan yang sangat luas,” kata Kastrup.
Kemampuan tersebut dapat menjadi modal penting karena persaingan chip AI tidak hanya ditentukan desain prosesor.
Ketersediaan memori berkecepatan tinggi, manufaktur, pengemasan chip, kapasitas produksi hingga rantai pasok menjadi faktor penting untuk membawa sebuah desain semikonduktor dari laboratorium menuju pusat data.
Bagi Samsung, investasi ini sekaligus membuka peluang memperbesar posisinya dalam ledakan infrastruktur AI, ketika kebutuhan chip dan memori pusat data terus berkembang.
Ramai-ramai Cari Alternatif Nvidia
Euclyd bukan satu-satunya pemain yang mencoba mengurangi ketergantungan industri AI terhadap Nvidia.
Perusahaan teknologi besar juga semakin agresif mengembangkan chip khusus untuk kebutuhan AI dan pusat data masing-masing.
Google telah lama mengembangkan Tensor Processing Unit (TPU), sedangkan Amazon Web Services dan Meta juga membangun akselerator AI sendiri.
Dalam data yang menjadi dasar laporan ini, OpenAI juga disebut telah mengumumkan chip AI bernama Jalapeño.
Tren tersebut menunjukkan persaingan chip AI mulai bergerak dari sekadar adu performa menuju adu efisiensi, biaya dan kontrol terhadap infrastruktur komputasi.
Meski demikian, menggoyang Nvidia bukan perkara sederhana. Nvidia tidak hanya mempunyai perangkat keras yang telah digunakan luas, tetapi juga ekosistem perangkat lunak dan pengembang yang menjadi bagian penting dari dominasinya di industri AI.
Euclyd sendiri merencanakan peluncuran sistem chip secara bertahap mulai 2028. Pada 2030, startup tersebut menargetkan dapat melayani ribuan pelanggan perusahaan.
Artinya, investasi Rp3,4 triliun yang dipimpin Samsung baru menjadi awal pertarungan panjang.
Euclyd masih harus membuktikan bahwa arsitektur chip AI barunya bukan hanya unggul di atas kertas, tetapi benar-benar mampu menawarkan performa, efisiensi energi dan biaya yang cukup kompetitif untuk menantang Nvidia.
















































