Selular.ID – Jaringan 5G yang buruk memicu aksi tak biasa sekaligus berujung perkara hukum.
Seorang teknisi telekomunikasi bernama Aditya Bhan Singh diikat ke menara oleh sejumlah warga setelah mereka mengeluhkan buruknya konektivitas seluler selama hampir dua tahun.
Peristiwa tersebut terjadi di Desa Hardauli, wilayah Fatehpur. Rekaman video yang memperlihatkan Singh dalam kondisi terikat dengan sejumlah warga mengelilinginya kemudian beredar luas di media sosial.
Singh diketahui datang ke desa tersebut untuk menangani persoalan jaringan telekomunikasi.
Namun, warga yang telah lama mengeluhkan kualitas jaringan justru menahannya dan menuntut perusahaan segera menyelesaikan persoalan konektivitas.
Teknisi Diikat, Warga Tuntut Jaringan 5G Diperbaiki
Dalam video yang beredar, warga bahkan menyatakan teknisi tersebut tidak akan dibebaskan sampai pejabat senior perusahaan datang dan menyelesaikan masalah jaringan.
Kepala Kepolisian Fatehpur, Abhimanyu Manglik, mengatakan warga mengklaim wilayah tersebut menghadapi masalah konektivitas seluler yang buruk, terutama layanan 5G, selama hampir dua tahun.
Keluhan tetap muncul meskipun menara telekomunikasi milik perusahaan swasta telah berdiri di daerah tersebut.
Persoalannya bukan sekadar kecepatan internet yang dianggap lambat. Warga juga mengeluhkan jaringan tidak stabil dan dalam sejumlah kondisi layanan bahkan tidak tersedia.
Situasi tersebut membuat masyarakat mempertanyakan kualitas layanan yang mereka terima.
Baca juga:
- Redmi Note 17 Pro Max 5G Bawa Baterai 10.000mAh dan Kamera AI
- Jaringan 5G XLSmart dan Smartfren Unlimited 5G Sapa Kota Palembang
Terlebih, mereka merasa telah mengeluarkan biaya untuk menggunakan layanan 5G, tetapi peningkatan konektivitas yang diharapkan belum dirasakan secara signifikan.
Kasus ini sekaligus menunjukkan bahwa kehadiran infrastruktur menara belum otomatis menjamin pengalaman jaringan yang optimal.
Kualitas layanan seluler dapat dipengaruhi banyak faktor teknis, mulai dari kapasitas jaringan, cakupan radio, kepadatan pengguna, transmisi hingga pasokan daya dan konfigurasi jaringan.
Namun, ketidakpuasan terhadap kualitas layanan tentu tidak membenarkan tindakan warga mengikat atau menahan teknisi yang sedang menjalankan pekerjaannya.
Enam Warga Ditangkap Polisi
Aparat kepolisian akhirnya turun tangan menyusul insiden tersebut. Enam orang ditangkap terkait aksi pengikatan terhadap Singh.
Mereka adalah Rahul Patel (28), Suraj Yadav (21), Alok Patel (29), Yogendra Patel (36), Alok Yadav (31), dan Sachin Patel (30). Keenam orang tersebut kemudian dibebaskan dengan jaminan.
Kepolisian menegaskan penyelidikan terhadap kasus tersebut masih berlangsung.
Insiden ini menjadi gambaran ekstrem bagaimana buruknya pengalaman pelanggan terhadap jaringan telekomunikasi dapat memicu konflik di lapangan.
Di sisi lain, teknisi yang datang melakukan pemeriksaan jaringan justru menjadi pihak yang berhadapan langsung dengan kemarahan pelanggan.
5G Bukan Sekadar Logo di Smartphone
Kasus tersebut juga menyisakan persoalan lebih besar mengenai implementasi 5G. Bagi pelanggan, indikator 5G yang muncul di layar smartphone bukan satu-satunya ukuran keberhasilan implementasi jaringan generasi kelima.
Pengguna pada akhirnya menilai 5G berdasarkan pengalaman nyata, seperti kestabilan koneksi, kecepatan internet, latensi, cakupan hingga konsistensi layanan di lokasi mereka beraktivitas.
Karena itu, ekspansi jaringan 5G perlu diikuti peningkatan kualitas layanan secara konsisten.
Operator juga perlu menyediakan kanal pengaduan dan penanganan gangguan yang efektif agar persoalan teknis tidak berkembang menjadi ketidakpuasan berkepanjangan.
Kasus teknisi yang diikat ke menara tersebut memang merupakan tindakan ekstrem.
Namun di balik kejadian itu terdapat pesan penting bagi industri telekomunikasi: pelanggan tidak hanya membutuhkan label 5G, tetapi konektivitas 5G yang benar-benar dapat mereka gunakan dan rasakan manfaatnya.

















































