Selular.ID – Ratusan kapal di Selat Hormuz dan Teluk Arab mengalami gangguan GPS atau jamming dan pemalsuan sinyal atau spoofing yang parah.
Menurut laporan Windward, setidaknya lebih dari 1.100 kapal mengalami gangguan GPS ini di tengah meningkatnya ketegangan regional setelah peluncuran Operasi Epic Fury.
GPS jamming ini menyebabkan posisi AIS atau Automatic Identification System menjadi tak akurat dan muncul di lokasi fiktif.
Perang sunyi di Selat Hormuz ini semakin meningkatkan tensi geopolitik yang berisiko menyebabkan tabrakan dan mengganggu 20% aliran minyak dunia.
Dalam laporannya, Windward mengidentifikasi setidaknya 21 kelompok yang mengalami AIS di seluruh perairan Uni Emirat Arab, Qatar, Oman, dan Iran.
Lalu lintas melalui Selat Hormuz ini menjadi melambat dengan beberapa kapal tanker yang berafiliasi dengan Barat melakukan transit gelap atau berbalik arah.
Cara kerjanya, GPS jamming ini mengirimkan sinyal palsu.
Bahkan sinyal AIS ada yang dialihkan ke pembangkit listrik tenaga nuklir Barakah dan perairan terdekat.
Sementara ratusan kapal lainnya menciptakan pola seperti lingkaran di perairan UEA, Qatar, dan Oman.
Baca juga:
- Counterpoint Beberkan Bagaimana Perang Iran – AS Israel Mempengaruhi Pasar Smartphone Global
- Teknologi Drone Kamikaze Shahed-136 Mirik Iran Bisa Terbang ke Riyadh Tanpa Ketahuan
Ada juga beberapa kapal yang dialihkan sinyalnya ke Assaluyeh dan pelabuhan Iran lainnya yang memicu risiko pelanggaran kepatuhan bagi perusahaan asuransi hingga penyedia layanan kelautan lainnya.
Gangguan sinyal lokasi yang salah ini menciptakan masalah besar di perairan yang padat.
Di mana navigasi yang tepat sangat penting untuk menghindari tabrakan dan kepatuhan lalu lintas perairan.
Akibatnya, transit kapal melambat karena kapal tanker yang berafiliasi dengan Barat ada yang berhenti atau berbalik arah.
Sekitar 20% dari ekspor minyak dan gas dunia melewati lokasi tersebut.
Sedangkan kapal tanker menyumbang sekitar 60% dari lalu lintas, kapal curah hampir 17% dari transit, dan kapal kontainer 16% melewati perairan tersebut, berdasarkan laporan PortWatch IMF.
Sementara itu, Gcaptain melaporkan insiden GPS jamming menimbulkan kekhawatiran serius terhadap keselamatan maritim di salah satu saluran pengiriman paling kritis dunia.
Menurut Maritime Information Cooperation & Awareness Center (MICA), sekitar 970 kapal per hari mengalami gangguan GPS di wilayah tersebut.
Seatrade Maritime News menyebut, Iran telah mengizinkan kapal dari negara-negara yang dianggapnya bersahabat melalui Selat Hormuz termasuk Cina dan India.
Kesepakatan untuk mengizinkan kapal yang ditandai dengan Thailand, Malaysia, dan Spanyol juga telah diumumkan.
Iran mengenakan biaya kepada kapal-kapal yang dilaporkan sebesar US$2 juta untuk transit di selat yang aman dan dibayar dalam mata uang Yuan Tiongkok atau mata uang kripto.
Kapal-kapal ini nantinya akan diizinkan lewat dengan aman, Iran menilai berbagai faktor termasuk asal dan tujuan kargo dan bukan hanya kepemilikan dan bendera.
Pada tanggal 27 Maret dua kapal kontainer Cosco Shipping yang berbendera di Hong Kong berbalik kembali ke Teluk saat mereka mendekati Selat Hormuz atas perintah Korps Pengawal Revolusi Islam Iran (IRGC).














































