Laporan Ericsson: 5G Jadi Fondasi Adopsi AI di Indonesia

8 hours ago 3

Selular.ID – Ericsson melalui laporan Ericsson ConsumerLab 2026 menegaskan bahwa teknologi 5G akan menjadi fondasi utama dalam mempercepat adopsi kecerdasan buatan (AI) di Indonesia, seiring meningkatnya kebutuhan akan konektivitas yang cepat, stabil, dan responsif.

Studi ini juga menunjukkan bahwa perkembangan AI turut mengubah pola penggunaan data seluler, terutama dengan meningkatnya kebutuhan uplink akibat pergeseran dari konsumsi konten ke aktivitas kreasi yang lebih interaktif.

Laporan tersebut menyoroti bahwa kecepatan respons AI kini menjadi faktor penting dalam menentukan kepuasan pengguna terhadap jaringan.

Hal ini terjadi karena semakin banyak aplikasi berbasis AI yang membutuhkan interaksi real-time, termasuk layanan berbasis cloud yang terus menerima dan memproses data dari perangkat pengguna.

Ronni Nurmal, Head of Government & Industry Relations Ericsson Indonesia, menyampaikan bahwa transformasi ini menuntut kesiapan infrastruktur jaringan yang lebih optimal.

“Peralihan menuju penggunaan AI di berbagai perangkat membutuhkan performa jaringan yang konsisten di mana pun. Hal ini menuntut operator untuk menghadirkan optimasi jaringan yang mengutamakan kebutuhan AI. Teknologi 5G serta arsitektur yang siap untuk masa depan menjadi krusial untuk mengakomodasi pertumbuhan data dan keperluan uplink yang berkembang pesat,” ujarnya.

Secara global, adopsi 5G terus meningkat signifikan. Ericsson memperkirakan jumlah pelanggan 5G akan mencapai 2,9 miliar pada akhir 2025 dan tumbuh menjadi 6,4 miliar pada 2031.

Dalam periode yang sama, lebih dari separuh trafik data seluler diproyeksikan akan berjalan di jaringan 5G.

Di Indonesia, Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) menargetkan cakupan jaringan 5G mencapai 32% pada 2030 sebagai bagian dari penguatan infrastruktur digital nasional.

Ericsson Mobility Report mencatat konsumsi data global mencapai rata-rata 21 GB per smartphone per bulan pada 2025.

Angka ini diperkirakan terus meningkat seiring pertumbuhan layanan video dan aplikasi berbasis AI.

Untuk kawasan Asia Tenggara dan Oseania, konsumsi data bulanan diproyeksikan mencapai 42 GB per smartphone pada 2031.

Perubahan pola penggunaan ini tidak hanya berfokus pada kecepatan unduh (downlink), tetapi juga kualitas uplink, yaitu kemampuan mengirim data dari perangkat ke jaringan.

Ericsson ConsumerLab menekankan bahwa kualitas uplink dan pengalaman aplikasi seperti video call kini menjadi indikator utama kepuasan pengguna 5G, terutama dalam konteks penggunaan AI yang membutuhkan interaksi dua arah secara cepat.

Konvergensi antara AI, cloud, dan jaringan mobile juga mendorong peningkatan jumlah perangkat yang terhubung.

Pada 2030, pengguna AI diproyeksikan tidak lagi terbatas pada smartphone dan laptop, tetapi juga meluas ke perangkat seperti smartwatch, kacamata pintar, dan sistem kendaraan pintar.

Bahkan, jumlah pengguna yang memanfaatkan AI di luar perangkat utama diperkirakan meningkat dua kali lipat.

Di Indonesia, penggunaan AI menunjukkan tren pertumbuhan yang kuat. Saat ini, sekitar satu dari lima pengguna telah menggunakan aplikasi AI yang mampu memproses teks, suara, dan gambar setiap hari.

Angka ini diperkirakan meningkat menjadi 41% pada 2030. Selain itu, dalam lima tahun ke depan, satu dari tiga pengguna diproyeksikan akan mengakses AI melalui lebih dari satu perangkat secara bersamaan.

Ericsson juga mencatat bahwa 46% penggunaan AI diperkirakan terjadi di luar ruangan atau di luar gedung.

Kondisi ini mempertegas kebutuhan akan jaringan yang mampu memberikan konektivitas stabil di berbagai lokasi, tidak hanya di area urban tetapi juga di wilayah dengan cakupan jaringan yang lebih luas.

Dalam konteks tersebut, Ericsson memperkenalkan konsep “Network for AI” dan “AI for Network”.

Network for AI merujuk pada penggunaan jaringan untuk mendukung aplikasi AI yang semakin kompleks, sementara AI for Network mengacu pada pemanfaatan AI untuk mengoptimalkan kinerja jaringan itu sendiri.

Integrasi kedua konsep ini menjadi kunci dalam menghadirkan layanan yang lebih adaptif dan efisien.

Peran strategis 5G tidak hanya terbatas pada konektivitas, tetapi juga sebagai infrastruktur utama dalam pengembangan ekonomi digital.

Teknologi ini memungkinkan berbagai use case seperti augmented reality (AR), virtual reality (VR), serta analitik video secara real-time yang membutuhkan latensi rendah dan bandwidth tinggi.

Ericsson juga menilai bahwa pengembangan 5G akan menjadi landasan menuju era 6G, di mana AI diproyeksikan menjadi komponen inti dalam arsitektur jaringan.

Dengan pengalaman implementasi di lebih dari 200 jaringan 5G aktif di puluhan negara, perusahaan menyatakan siap mendukung operator di Indonesia dalam mempercepat transformasi digital.

Melalui Ericsson ConsumerLab, yang melibatkan lebih dari 43.000 responden di 27 negara pada periode Juni hingga Agustus 2025, perusahaan memberikan gambaran berbasis data mengenai perubahan perilaku konsumen dalam penggunaan teknologi komunikasi.

Temuan ini menegaskan bahwa integrasi antara 5G dan AI akan menjadi faktor penentu dalam evolusi layanan digital di Indonesia ke depan.

Baca Juga: Indosat Gandeng Ericsson untuk Mengembangkan Platform Monetisasi Terdepan

Read Entire Article
Global Food