Kaspersky: Serangan Siber Kini Gunakan AI-Native, Pertahanan Harus AI-Powered

16 hours ago 7

Selular.ID – Ancaman siber memasuki fase baru ketika kecerdasan buatan (AI) mulai digunakan untuk mempercepat dan mengotomatisasi serangan.

Di sisi lain, organisasi di kawasan Asia Pasifik (APAC) menghadapi persoalan lain yang tak kalah serius, yakni kesenjangan visibilitas terhadap aktivitas berbahaya di lingkungan teknologi informasi (IT) maupun teknologi operasional (OT).

Kondisi tersebut menjadi perhatian Kaspersky dalam konferensi media tahunan APAC Cyber Security Weekend bertema “When Speed Outpaces Visibility” yang digelar di Guangzhou, China, Senin (3/8/2026).

Perusahaan keamanan siber tersebut menilai penyerang yang didukung AI kini dapat bergerak lebih cepat dibandingkan kemampuan organisasi dalam melihat, memahami, dan merespons ancaman.

Baca juga:

Managing Director Kaspersky untuk APAC, Adrian Hia, mengatakan perkembangan AI dan konektivitas telah mengubah lanskap keamanan perusahaan dan organisasi di kawasan tersebut.

Pada saat yang sama, tim keamanan menghadapi semakin banyak area yang sulit dipantau.

Tonton juga:

Video Rekomendasi Untuk Anda

“Keamanan siber saat ini bukan lagi sekadar berpacu dengan waktu. Namun, juga berpacu melawan ancaman yang tidak terlihat,” ujar Hia.

Setengah Juta File Berbahaya Setiap Hari

Kaspersky mengungkapkan, sepanjang tahun lalu pihaknya mendeteksi dan memblokir sekitar 500.000 file berbahaya unik setiap hari. Jumlah tersebut meningkat 7% dibandingkan 2024.

Menurut Hia, ancaman siber di APAC juga semakin memperlihatkan bahwa batas antara dunia digital dan fisik semakin kabur.

Serangan terhadap sistem digital tidak lagi hanya berdampak pada perangkat atau jaringan, tetapi dapat mengganggu operasional perusahaan dan infrastruktur fisik.

Salah satu tren yang menjadi perhatian adalah meningkatnya serangan terhadap sektor manufaktur.

Kaspersky menyebut sektor tersebut telah menjadi salah satu hotspot ransomware industri di APAC, dengan kelompok penyerang yang secara konsisten menargetkan lantai produksi maupun layanan IT industri.

Kaspersky juga menyoroti perkembangan AI agents. Teknologi tersebut memperkenalkan lapisan baru dalam rantai pasok digital karena bergantung pada berbagai framework, API, dan plugin pihak ketiga.

Sepanjang tahun ini, Kaspersky telah mengidentifikasi lebih dari 15.000 sampel malware yang menyamar sebagai perangkat lunak AI agent.

Menurut perusahaan, satu saja komponen dalam rantai pasok yang berhasil dikompromikan berpotensi berdampak pada sistem lain yang bergantung kepadanya.

Ancaman Bisa Bersembunyi Berbulan-bulan

Persoalan lain yang dihadapi organisasi bukan hanya kemampuan mendeteksi serangan, tetapi juga seberapa cepat ancaman tersebut ditemukan.

Berdasarkan laporan terbaru dari divisi Kaspersky Compromise Assessment, 31% insiden yang dianalisis menunjukkan aktivitas berbahaya telah berlangsung lebih dari tiga bulan.

Lebih jauh, 52% kompromi dengan tingkat keparahan tinggi baru ditemukan setelah lebih dari 90 hari.

Bahkan, insiden tertua yang ditemukan dalam periode satu tahun terakhir tercatat telah berlangsung tanpa terdeteksi selama empat tahun.

Data tersebut menunjukkan bahwa investasi pada teknologi keamanan saja belum cukup.

Organisasi juga membutuhkan kemampuan monitoring, deteksi, serta kesiapan operasional untuk mengetahui apa yang terjadi di dalam lingkungan mereka.

“Ketika organisasi mengandalkan praktik keamanan yang reaktif atau tidak memiliki pemantauan berkelanjutan, penyerang mendapatkan waktu untuk bergerak secara lateral, meningkatkan hak akses, dan menguasai aset-aset penting,” kata Hia.

SOC Jadi Semakin Penting

Dalam kondisi tersebut, Security Operations Center (SOC) dinilai menjadi bagian penting dari strategi keamanan organisasi.

SOC yang matang memungkinkan perusahaan memperoleh visibilitas secara lebih menyeluruh sekaligus mempercepat proses deteksi dan respons terhadap insiden.

Kaspersky menyebut pendekatan tersebut semakin relevan ketika penyerang menggunakan AI untuk meningkatkan skala dan otomatisasi serangan.

Karena itu, teknologi AI juga perlu dimanfaatkan oleh tim keamanan untuk mempercepat proses analisis dan respons.

Kaspersky sendiri mengatakan telah mengembangkan dan menyempurnakan model Machine Learning (ML) sejak 2004.

Model tersebut dilatih menggunakan volume besar telemetri global yang telah dianonimkan dan dikumpulkan dari jutaan endpoint di seluruh dunia.

“AI bukan sekadar fitur tambahan di Kaspersky. Selama 20 tahun terakhir, AI telah terintegrasi dalam seluruh teknologi yang kami kembangkan,” ujar Hia.

Menurutnya, masa depan keamanan siber tidak hanya bergantung pada AI ataupun manusia secara terpisah.

Kaspersky mengusung pendekatan HuMachine Intelligence, yang menggabungkan kemampuan AI dengan keahlian manusia untuk menghadapi ancaman yang terus berkembang.

AI Membantu Tim Keamanan

Untuk perusahaan yang memiliki infrastruktur IT kompleks dan mengelola volume data besar, Kaspersky menawarkan lini Kaspersky Next yang mencakup perlindungan real-time, visibilitas ancaman, serta kemampuan investigasi dan respons berbasis EDR/XDR.

Platform tersebut juga memanfaatkan model Generative AI untuk mengubah data mentah menjadi informasi yang lebih terstruktur dan dapat ditindaklanjuti oleh tim keamanan maupun pengambil keputusan.

Pendekatan tersebut ditujukan untuk mengurangi pekerjaan manual sekaligus membantu mengatasi kesenjangan keahlian.

Selain teknologi, Kaspersky menyediakan layanan keamanan terkelola seperti Kaspersky Compromise Assessment, Kaspersky MDR, dan Kaspersky Incident Response yang mencakup siklus penanganan insiden, mulai dari identifikasi ancaman hingga perlindungan dan remediasi berkelanjutan.

Perusahaan juga menawarkan Kaspersky SOC Consulting untuk membantu organisasi membangun SOC baru maupun meningkatkan kemampuan SOC yang sudah berjalan.

Read Entire Article
Global Food