Kalah Bersaing di Pasar Action Camera, GoPro Banting Stir Ke Bisnis Pusat Data dan Pertahanan

12 hours ago 6

Selular.ID – GoPro, produsen kamera aksi terkemuka asal AS, mengumumkan pada Selasa (1/9) bahwa mereka akan melakukan merger definitif dengan Starman Optical, sebuah perusahaan fotonik swasta, serta berekspansi ke pasar pusat data AI dan pertahanan.

“Kami berharap merger ini memungkinkan GoPro untuk tumbuh di pasar konsumen, komersial, dan pertahanan sebagai perusahaan solusi pencitraan dan optik terkemuka asal Amerika, sekaligus menangani aspek penting keamanan nasional yang terkait dengan kamera, optik, dan infrastruktur AI,” ujar CEO GoPro, Nicholas Woodman, dalam pernyataan resmi perusahaan.

Harga saham ditutup naik 40% setelah keputusan merger muncul. Namun GoPro menolak memberikan rincian tambahan mengenai langkah ini.

Sebagai bagian dari kesepakatan tersebut, para pemegang saham perusahaan akan menerima pembayaran tunai sebesar $285 juta, atau $1,14 per saham, dan saham perusahaan akan tetap tercatat di bursa Nasdaq.

Salah satu pemegang saham yang paling diuntungkan oleh berita ini adalah YouTuber Markiplier, yang memiliki kepemilikan saham sebesar 8,5%, menurut dokumen pengungkapan informasi tertanggal 13 Juli.

Perusahaan ekuitas swasta BlackRock juga melaporkan kepemilikan saham sebesar 6,4% pada awal musim panas ini.

Tonton juga:

Video Rekomendasi Untuk Anda

Sejak melantai di bursa pada 2014 dengan harga perdana $38 per saham, GoPro kesulitan mendapatkan kepercayaan investor selama bertahun-tahun, dengan harga saham yang sempat berada di level sangat rendah (penny stock) hingga beberapa hari yang lalu.

Perusahaan juga menyatakan bahwa utang sebesar $92 juta akan dilunasi saat penyelesaian kesepakatan, dan mereka “akan terus mendukung penuh produk konsumen yang ada saat ini serta platform berlangganan dan cloud mereka, sembari berinvestasi untuk pertumbuhan dan peta jalan produk yang lebih luas serta beragam.”

GoPro sendiri bukan satu-satunya merek konsumen ternama yang melirik tren pesat AI.

Pada April lalu, peritel Allbirds yang sedang mengalami kesulitan mengumumkan akan beralih haluan dari produksi sepatu ramah lingkungan menuju bidang komputasi dan perangkat keras AI, serta mengubah citra mereknya menjadi Smartbird.

“Orang-orang cenderung memandang sinis terhadap hal-hal yang tidak mereka pahami,” ujar CEO Smartbird, Nadia Carlsten.

“Ini tentang membangun produk, membangun jaringan pelanggan, memastikan dunia memahami apa yang sedang Anda bangun, membuat pelanggan menandatangani kontrak untuk benar-benar membeli produk Anda, dan seterusnya,” tambahnya.

Baca Juga: GoPro Diambang Kebangkrutan, Masalah Ini Makin Kritis

GoPro Babak Belur Digencet DJI dan Insta360

Sejatinya, beralih ke pasar pusat data dan pertahanan menjadi pilihan logis bagi GoPro agar bisa tetap bertahan, setelah mengalami periode panjang yang sangat sulit.

Terutama dalam menghadapi dua pesaingnya dari China, DJI dan Insta360 yang agresif merebut pasar.

Memang, setelah smartphone, consumer electronics, dan otomotif (khususnya mobil listrik), dalam beberapa tahun terakhir perangkat action camera juga sepenuhnya di bawah merek-merek China.

Meningkatnya permintaan akan perangkat pencitraan berukuran saku telah memungkinkan DJI dan Insta360 untuk memperkuat cengkeraman mereka di pasar kamera pintar global.

Tak tanggung-tanggung, kedua merek asal China ini menguasai hampir 90% dari total pengiriman, menggeser GoPro.

Padahal brand asal AS ini merupakan pelopor. Selama selama bertahun-tahun GoPro terbilang dominan menguasai pasar action camera.

Berdasarkan laporan IDC, pengiriman kamera pintar genggam di seluruh dunia – yang didefinisikan oleh firma riset terkemuka itu, sebagai perangkat portabel kelas konsumen dengan komputasi terintegrasi, stabilisasi, dan resolusi 2K atau lebih tinggi – mencapai 4,14 juta unit pada kuartal pertama.

Penjualan pada kuartal tersebut meningkat 20% dibandingkan tahun sebelumnya menjadi lebih dari 10,5 miliar yuan (US$1,46 miliar), ungkap IDC.

Sektor ini mencakup berbagai perangkat, mulai dari kamera aksi seperti seri Hero GoPro hingga gimbal saku seperti lini Pocket DJI dan kamera panorama seperti seri X Insta360.

Menurut laporan IDC, didorong oleh permintaan konsumen yang beragam ini, pengiriman tahunan global diperkirakan akan melampaui 40 juta unit pada 2030, yang mewakili tingkat pertumbuhan tahunan gabungan hampir 18% selama lima tahun ke depan.

Preferensi konsumen global kini sebagian besar condong ke dua merek China, yang memegang pangsa pasar gabungan sebesar 87% pada kuartal pertama.

Pertumbuhan siginifikan kedua merek itu, menyisakan market size yang semakin kecil bagi GoPro.

DJI tetap menjadi pemimpin global, menguasai 65% pangsa pasar dengan 2,7 juta unit yang dikirim selama kuartal tersebut, meningkat 38%  dari tahun sebelumnya.

Alhasil, pertumbuhan siginifikan kedua merek itu, terutama DJI, menyisakan market size yang semakin kecil bagi GoPro.

Baca Juga: Digencet DJI dan Insta360 Nasib GoPro Semakin Merana

Read Entire Article
Global Food