Edukasi Pengelolaan Limbah Elektronik Menjawab Peringatan Bahaya WHO

17 hours ago 7

Selular.ID – Azko menginisiasi kampanye edukasi dan aksi pengelolaan limbah elektronik (e-waste) yang berfokus pada penggunaan serta daur ulang baterai secara bijak.

Langkah ini sejalan dengan laporan World Health Organization (WHO) bertajuk Throwing Away Our Health (2025) yang turut memperkuat urgensi penanganan e-waste.

Dalam laporan tersebut, WHO mencatat bahwa baterai mengandung logam berat berbahaya seperti timbal, merkuri, lithium, dan kadmium.

Paparan zat beracun ini berisiko mencemari tanah, air, serta udara, bahkan berdampak buruk pada gangguan perkembangan saraf dan kognitif pada anak-anak.

Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (Permen LHK) Nomor 9 Tahun 2024 mencantumkan baterai sel kering lithium, non-lithium, maupun sel basah bekas sebagai barang elektronik rusak yang mengandung B3.

Oleh sebab itu, pembuangan baterai bekas tidak boleh disatukan dengan sampah organik atau plastik rumah tangga.

Tonton juga:

Video Rekomendasi Untuk Anda

Menjawab tantangan tersebut Azko memfasilitasi penyerahan sampah elektronik masyarakat melalui program BISA BAIK (Bersama Atasi Sampah Barang Elektronik) yang telah berjalan sejak 2023.

Melinda Pudjo, Head of Corporate Communications & Sustainability PT Aspirasi Hidup Indonesia Tbk mengatakan, langkah ini diambil guna menekan risiko pencemaran lingkungan akibat zat berbahaya yang terkandung di dalam sampah baterai rumah tangga.

“Program ini diluncurkan seiring dengan meningkatnya ketergantungan masyarakat terhadap berbagai perangkat elektronik portabel, mulai dari remote control, jam dinding, tetikus nirkabel, hingga mainan anak,”terang Melinda.

Tanpa pengelolaan yang tepat, baterai bekas yang terbuang bebas berpotensi menjadi ancaman serius bagi ekosistem dan kesehatan publik.

Dia menegaskan bahwa komitmen keberlanjutan perusahaan mencakup seluruh siklus hidup produk yang mereka pasarkan.

Menurutnya, tanggung jawab penyedia produk tidak berhenti saat barang dibeli konsumen, melainkan berlanjut hingga produk tersebut selesai digunakan.

Sebagai solusi konkrit, Azko mendorong pergeseran kebiasaan masyarakat dari penggunaan baterai sekali pakai ke baterai dapat diisi ulang (rechargeable).

Salah satu opsi yang dihadirkan adalah Krisbow Baterai Rechargeable AA Set 4 pcs berkapasitas 2.500 mAh.

Baterai ini dirancang bebas kadmium dan merkuri, memiliki tingkat pengosongan daya rendah, serta masa simpan hingga lima tahun untuk mendukung beragam perangkat harian.

Guna mengoptimalkan daya pakai baterai isi ulang, perusahaan menyediakan KRISBOW Charger Baterai Universal 6 Slot.

Pengisi daya ini dilengkapi fitur auto cut-off yang otomatis menghentikan aliran listrik ketika baterai penuh, serta indikator LED guna memantau status pengisian.

Alat ini kompatibel dengan berbagai ukuran baterai seperti D, C, AA, AAA, hingga 9V. Selain itu, konsumen juga dapat memanfaatkan Krisbow.

Baterai Tester dengan indikator tiga warna untuk mengetahui kondisi pasti baterai sebelum memutuskan untuk menggantinya.

Dari sisi regulasi dan kesehatan lingkungan, baterai bekas tergolong sebagai Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun (B3).

Fasilitas berupa dropbox penampungan e-waste ini sudah tersedia di 24 toko Azko yang tersebar di 17 kota besar Indonesia.

Termasuk Jakarta, Medan, Surabaya, Semarang, Bandung, Yogyakarta, Makassar, Balikpapan, Palembang, Bali, Manado, hingga Banjarmasin.

Masyarakat dapat menyetorkan berbagai jenis baterai bekas dan perangkat elektronik dari merek apa pun ke dropbox BISA BAIK.

Inisiatif terintegrasi yang menggabungkan edukasi produk ramah lingkungan, penyediaan sarana pendukung.

Baca Juga:Xiaomi Hempaskan Masalah Baterai Lemah Lewat Redmi 17 di Indonesia

Hingga fasilitas pengumpulan sampah elektronik ini diharapkan dapat membangun ekosistem pengelolaan e-waste yang lebih bertanggung jawab dan berkelanjutan di Indonesia.

Read Entire Article
Global Food