Selular.ID – Pasar aset kripto global kembali mengalami tekanan pada Jumat (29/5/2026) setelah meningkatnya ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran memicu aksi jual besar di berbagai aset berisiko.
Kondisi tersebut berdampak langsung pada pelemahan harga Bitcoin, arus keluar dana dari ETF kripto di Amerika Serikat, serta likuidasi besar di pasar derivatif.
Data CoinGecko menunjukkan kapitalisasi pasar kripto global turun sekitar 4% dalam 24 jam terakhir menjadi sekitar US$2,48 triliun.
Bitcoin sempat melemah dari kisaran US$76.000 ke bawah level US$73.000 sebelum bergerak stabil pada sesi perdagangan berikutnya. Ethereum juga terkoreksi lebih dari 5% hingga turun ke bawah US$2.000.
Tekanan serupa terjadi pada sejumlah aset kripto berkapitalisasi besar lain seperti Solana, XRP, BNB, Dogecoin, dan Hyperliquid yang terkoreksi antara 6% hingga 14%.
Fyqieh Fachrur, Analis Tokocrypto mengatakan kondisi pasar saat ini dipengaruhi kombinasi faktor teknikal, geopolitik, dan makroekonomi global yang membuat investor cenderung mengurangi eksposur terhadap aset berisiko.
Pasar kripto sedang menghadapi kombinasi tekanan dari beberapa faktor sekaligus, mulai dari eskalasi geopolitik, kenaikan harga minyak, pelemahan minat institusional melalui ETF, hingga likuidasi posisi leverage yang cukup besar.
“Dalam kondisi seperti ini, investor cenderung mengurangi eksposur terhadap aset berisiko, termasuk kripto, sehingga tekanan jual menjadi lebih kuat,” ujar Fyqieh.
Data CoinGlass mencatat lebih dari US$900 juta posisi kripto terlikuidasi dalam 24 jam terakhir di pasar derivatif.
Mayoritas berasal dari posisi long atau transaksi yang memperkirakan harga akan naik.
Gelombang likuidasi tersebut terjadi setelah Bitcoin kehilangan area support di sekitar US$75.000 dan Ethereum turun di bawah level US$2.100.
Likuidasi otomatis dari bursa memperbesar tekanan jual di pasar spot karena posisi trader yang tidak lagi memenuhi persyaratan margin ditutup secara paksa. Kondisi tersebut mempercepat penurunan harga aset digital dalam waktu singkat.
Selain tekanan teknikal, sentimen pasar juga dipengaruhi kenaikan harga minyak dunia akibat memanasnya situasi di Timur Tengah.
WTI crude futures tercatat naik 2,6% ke atas US$91 per barel, sementara Brent crude mendekati US$96 per barel setelah muncul laporan serangan militer AS terhadap target di Iran yang dinilai berpotensi mengganggu jalur pelayaran komersial di sekitar Selat Hormuz.
Kenaikan harga energi memicu kekhawatiran baru terkait inflasi global. Pasar mulai memperkirakan bahwa The Federal Reserve berpotensi menunda pemangkasan suku bunga acuan apabila tekanan inflasi kembali meningkat akibat lonjakan harga minyak.
Menurut Fyqieh, kondisi tersebut menjadi tantangan tambahan bagi pasar aset digital yang selama ini sangat sensitif terhadap likuiditas global dan kebijakan moneter Amerika Serikat.
“Ketika harga minyak naik akibat risiko geopolitik, pasar akan kembali menghitung potensi tekanan inflasi. Jika inflasi tetap tinggi, ekspektasi pemangkasan suku bunga bisa tertunda. Ini menjadi tantangan bagi aset kripto karena pasar membutuhkan likuiditas yang lebih longgar untuk mendorong pemulihan yang lebih kuat,” katanya.
Dari sisi institusional, minat investor besar terhadap Bitcoin dan Ethereum juga menunjukkan pelemahan.
ETF Bitcoin spot di Amerika Serikat mencatat arus keluar bersih sekitar US$733 juta pada Rabu (27/5), menjadi penarikan harian terbesar sejak Februari 2026.
Tren negatif tersebut memperpanjang arus keluar ETF Bitcoin spot menjadi delapan hari perdagangan berturut-turut.
ETF Ethereum spot juga mengalami tekanan serupa dengan arus keluar selama 12 hari berturut-turut setelah dana sekitar US$67 juta keluar pada perdagangan Rabu.
Secara kumulatif, penarikan dana dari ETF Bitcoin spot AS mencapai sekitar US$2,33 miliar dalam dua pekan terakhir.
Tekanan pasar juga membuat kapitalisasi pasar Bitcoin turun ke sekitar US$1,09 triliun.
Nilai tersebut menyebabkan Bitcoin keluar dari daftar 10 aset terbesar dunia berdasarkan kapitalisasi pasar dan berada di bawah emas, perak, serta saham teknologi besar yang tergabung dalam kelompok “Magnificent Seven”.
Meski demikian, Fyqieh menilai penurunan posisi Bitcoin tersebut belum mencerminkan pelemahan fundamental jangka panjang.
Menurutnya, kondisi tersebut juga dipengaruhi kenaikan signifikan pada valuasi saham teknologi global dan harga emas yang meningkat di tengah ketidakpastian ekonomi.
“Turunnya Bitcoin dari daftar 10 aset terbesar dunia lebih mencerminkan tekanan jangka pendek dan kuatnya performa aset lain, khususnya saham teknologi besar dan emas.
“Namun, level kapitalisasi pasar sekitar US$1 triliun tetap menjadi area penting yang menunjukkan bahwa Bitcoin masih memiliki posisi signifikan dalam peta aset global,” jelasnya.
Ke depan, pelaku pasar diperkirakan akan terus memantau perkembangan geopolitik antara AS dan Iran, pergerakan harga minyak dunia, arus dana ETF kripto, serta data inflasi Amerika Serikat.
Stabilitas pasar kripto dinilai sangat bergantung pada meredanya tekanan makro dan kembalinya minat investor institusional ke aset digital.
Fyqieh juga mengingatkan investor untuk lebih disiplin dalam menerapkan manajemen risiko, terutama bagi trader yang menggunakan leverage di tengah volatilitas pasar yang tinggi.
Dalam fase seperti ini, investor perlu lebih disiplin dalam mengelola risiko. Volatilitas yang tinggi dapat menciptakan peluang, tetapi juga meningkatkan risiko kerugian, terutama bagi posisi leverage.
Baca Juga:Kripto Kini Tak Lagi Sekadar Eksperimen Teknologi
“Fokus utama saat ini adalah melihat apakah Bitcoin mampu bertahan di area support penting dan apakah tekanan dari ETF serta faktor makro mulai mereda,” tutup Fyqieh.


















































