Aceh Utara Kembali Berstatus Tanggap Darurat Bencana

21 hours ago 3

Jakarta, CNN Indonesia --

Pemerintah Kabupaten Aceh Utara, Provinsi Aceh, kembali menetapkan status darurat bencana setelah daerah itu terendam banjir sejak dua hari lalu akibat intensitas hujan yang tinggi dan meluapnya air sungai.

Sebelumnya pemerintah setempat sudah mengakhiri fase tanggap darurat bencana dan beralih ke masa transisi darurat menuju pemulihan pascabencana pada Selasa (6/1). Namun karena banjir selama dua hari terakhir, Pemkab Aceh Utara kembali menetapkan status tanggap darurat bencana.

Status itu akan berjalan selama 14 hari ke depan hingga 24 Januari 2026. Keputusan tersebut diambil guna mempercepat penanganan dampak bencana yang sudah memasuki fase kritis.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Curah hujan tinggi beberapa hari terakhir kembali memicu banjir susulan cukup luas di sini (Aceh Utara)," kata Plt Sekda Aceh Utara Jamaluddin saat dikonfirmasi, Sabtu (10/1).

Jamaluddin mengatakan arus sungai yang terus meluap berdampak ke pemukiman warga, sehingga status masa transisi dievaluasi setelah pihaknya menggelar rapat koordinasi dan melihat kondisi di lapangan.

"Kita sepakat mengembalikan status daerah ke tanggap darurat sehingga langkah penyelamatan lebih maksimal," ucapnya.

Berdasarkan laporan BMKG, potensi hujan intensitas ringan hingga sedang masih akan mengguyur wilayah Aceh Utara dalam beberapa hari ke depan. Pemerintah mengimbau masyarakat tetap waspada, terutama mereka yang tinggal di bantaran sungai dan wilayah rawan tenggelam.

Dengan berlakunya status tanggap darurat, Pemkab Aceh Utara memiliki akses lebih luas dalam pengerahan personel, peralatan, maupun penggunaan anggaran darurat untuk membantu penanganan bencana.

Aceh Utara jadi salah satu daerah yang terdampak parah bencana banjir dan longsor yang terjadi pada akhir November 2025 lalu. Dari data posko tanggap darurat bencana Aceh update Sabtu (10/1) korban meninggal dunia 230 orang dan 6 jiwa dinyatakan hilang.

Kemudian pengungsi berjumlah 19.047 jiwa yang tersebar di 210 titik dan rumah warga yang rusak mencapai 46.607 unit. Banjir dan longsor itu juga menghilangkan 4 dusun pemukiman warga di Desa Guci, Riseh Teungoh, Riseh Baroh dan Desa Rayeuk Pungkie.

13 ribu hektare kebun kopi di Aceh rusak

Sementara itu, bencana banjir bandang dan longsor yang melanda Aceh pada akhir November 2025 berdampak serius terhadap sektor pertanian, khususnya perkebunan kopi.

Dari data posko tanggap darurat bencana Aceh yang terdata hingga Sabtu (10/1), sekitar 13.083 hektar kebun kopi di daerah penghasil kopi, yaitu di Kabupaten Aceh Tengah dan Bener Meriah, rusak.

Di Aceh Tengah jadi daerah terparah kebun kopi warga yang rusak mencapai 12.638 hektare sementara di Bener Meriah 445 hektare.

Kebun terluas mengalami kerusakan di Kecamatan Pegasing Aceh Tengah seluas 2.905 hektar, kemudian di Kecamatan Bintang dan Rusip Antara masing-masing 2 ribu hektare. Kerusakan kebun terjadi menyeluruh di 14 kecamatan dengan luas bervariasi.

"12.638 hektare lahan kopi di Aceh Tengah mengalami kerusakan dan 445 hektare di Bener Meriah," kata Jubir Posko Tanggap Darurat Bencana Aceh, Murthalamuddin.

Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan Aceh Cut Huzaimah mengatakan lahan kopi dan semua lahan perkebunan lainnya sedang dalam pendataan final sampai tanggal 20 Januari 2026.

Pihaknya akan membantu para petani yang kebunnya terdampak sembari menunggu pendataan terkait luas area hingga tingkat kerusakan.

"Kita update terus dengan kementerian pertanian dan bantuannya maksimal dengan APBN," ucapnya

(dra/har)

Read Entire Article
Global Food