Jakarta, CNN Indonesia --
Pejuang muslim yang diakui negara sebagai pahlawan nasional tmemang masih sangat didominasi laki-laki.
Di antara sedikitnya pahlawan perempuan, salah satunya berasal dari Kota Padang Panjang, Sumatera Barat, yakni Rahmah El Yunusiyah.
Perempuan kelahiran 20 Desember 1900 itu merupakan peletak fondasi sekolah agama Islam perempuan di Nusantara atau Diniyyah Putri.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menukil dari buku Perempuan-Perempuan dalam Sejarah Islam, pada 1955, dalam kunjungan resmi ke Indonesia, Rektor Universitas Al Azhar dari Kairo, Mesir, Syeikh Abdurrahman Taj secara khusus mendatangi Perguruan Diniyyah Putri yang didirikan Rahman di Padang Panjang.
Syeikh itu mengagumi dan takzim pada perjuangan Rahmah memperjuangkan pendidikan bagi kaum perempuan. Pada masa tersebut, perlu diakui pendidikan bagi kaum hawa masih tabu--bahkan di sebagian besar dunia Islam.
Syeikh Abdurrahman pun mengundang Rahmah ke Mesir sebagai Tamu Kehormatan Universitas Al Azhar. Undangan yang dipenuhi Rahmah pada 1957, bertepatan dngan keberangkatannya menunaikan ibadah haji ke Tanah Suci, Mekkah.
Perempuan itu disambut resmi pihak Universitas Al Azhar sebagai Syeikhah Rahmah El-Yunussiyah. Sejak saat itu, dia bukan lagi seorang 'Encik Rahmah' atau 'Kak Amah'. Gelar kehormatan 'Syeikhah', gelar keagaman tertinggi yang jarang diberikan bagi seorang perempuan di dunia kala itu.
"Rahmah El-Yunusiyyah sebagai perempuan pertama di dunia yang menerima pengakuan prestisius dari lembaga keilmuan Islam tertua dan paling berpengaruh tersebut," demikian dikutip dari buku yang sama.
Keturunan ulama besar Minang
Sejatinya, Rahmah adalah keturunan ulama di tanah Minang. Dia lahir dari pasangan Muhammad Yunus dan Rafiah. Ayahnya adalah seorang ulama besar yang menjabat sebagai Kadi, hakim pembuat keputusan berdasarkan syariat Islam.
Pendidikan dasarnya dimulai di Diniyah School di kampung halamannya. Namun dia lebih banyak belajar dari kedua kakak laki-lakinya, Zainuddin Labay dan Mohammad Rasyid.
Zainuddin Labay merupakan kakak sulung dari Rahmah.
Zainuddin Labay pun dikenal sebagai seorang pembaharu sistem pendidikan Islam. Ia adalah tokoh pendiri tempat Rahmah mengenyam pendidikan dasarnya.
Diniyah putri
Di tengah pasifnya peran perempuan dalam memberikan kontribusi terhadap kemajuan bangsa dan agama, Rahmah kemudian mendirikan sekolah khusus bagi kaum perempuan pada 1923, yakni Madrasah Diniyah Li al-Banat atau lebih dikenal sebagai Diniyah School Putri.
Pendirian sekolah ini dibantu kakaknya, Zainuddin Labay. Pada masa awal menggagas sekolah untuk kaum perempuan, Rahmah ditanya ulang keyakinannya oleh Zainuddin. Pasalnya, apakah Rahmah akan kuat. menghadapi masyarakat adat Minangkabau yang mungkin menentangnya.
"Ia bertanya, 'Apakah Amah benar-benar siap dan sanggup mendirikan sekolah puteri seperti yang dicita-citakan?' Rahmah menjawab dengan keyakinan penuh, 'Insyaallah, Amah siap dan sanggup'," demikian dikutip dari buku Perempuan-perempuan dalam Sejarah Islam.
Akhirnya setelah berdiskusi dan didukung rekan-rekan dalam organisasi yang didirikannya, Persatuan Murid-murid Diniyyah School (PMDS), Rahmah lalu mendirikan madrasah Islam pertama atau Dinniyah Putri pada 1 November 1923 di Pandang Panjang.
Peserta didik awal berjumlah 71 orang, yang terdiri dari ibu rumah tangga dan remaja putri di bangunan sederhana dalam tanah wakaf dari ibunda Rahmah, Ummu Rafiah.
Walaupun disindir dan dicerca, termasuk ketika kakaknya Zainuddin yang menjadi sistem pendukung (support system) utamanya wafat pada 1924, Rahmah tetap istikamah melanjutkan perkembangan sekolah yang didirikannya itu.
Pada 1927, dia menggalang dana di Aceh dan Sumatera Utara selama tiga bulan. Hasilnya, dari penggalangan dana ini, Rahmah berhasil membangun gedung dan asrama yang mampu menampung 275 murid dari 350 total murid keseluruhan. Tidak hanya sampai di situ. Pada 1926, ia membuka kelas Menjesal School, sekolah khusus para wanita yang belum bisa baca tulis.
Pendekatan Rahmah untuk pendidikan yang dikembangkannya masih berdasarkan asas Islami, dan tak menggunakan pendekatan feminisme radikal. Menurut Rahmah, perempuan harus diangkat martabatnya dan dibekali limu cukup karena kelak akan jadi pendidik pertama bagi anak-anaknya.
Selain itu, Rahmah tak memandang konsep pendidikan terbatas pada satu jenjang usia. Di masa itu, dia telah medorong 'pembelajaran sepanjang hayat', terutama untuk kaum perempuan.
Kemudian pada 1934, Rahmah mendirikan sekolah Taman Kanak Kanak (Freubel School) dan Junior School (tingkatan sekolah dasar) yang setara dengan Hollandsch-Inlandsche School (HIS). Sebagai informasi, HIS adalah sekolah bentukan Belanda yang diperuntukkan bagi para pribumi kelas sosial tertentu.
Diniyah School Putri bentukan Rahmah semakin berkembang dengan sistem sekolah 7 tahun, terdiri dari tingkat Ibditaiyah selama 4 tahun dan tingkat Tsanawiyah selama 3 tahun.
Untuk menyelesaikan persoalan kebutuhan tenaga pendidiknya, Rahmah mendirikan lembaga Kulliyat al Mu'alimat al Islamiyah pada 1937. Lembaga yang diciptakan untuk mencetak tenaga guru muslimah profesional.
Perkembangan pendirian sekolah lanjut ke tingkat perguruan tinggi. Pada 1967, ia mendirikan Fakultas Tarbiyah dan Fakultas Dakwah. Pada 1969. Kedua fakultas ini berubah namanya menjadi Fakultas Dirasah Islamiyyah.
Merah Putih kemerdekaan Indonesia
Dalam buku Khazanah Ulama Perempuan Nusantara (2023), di masa penjajahan Jepang, Rahmah harus berjuang menyelamatkan para muridnya dari gangguan tentara Nippon. Dia yang juga tergabung dalam Anggota Daerah Ibu (ADI) menjadi penentang paling depan menolak perempuan pribumi atau Indonesia sebagai jugun ianfu (wanita penghibur).
Sesaat setelah mendapat kabar berita kemerdekaan Indonesia diproklamasikan Sukarno dan Mohammad Hatta di Jakarta. Setelah mendengarnya, "Ia langsung mengibarkan bendera merah putih di halaman depan Perguruan Diniyah Putri."
Rahmah adalah orang yang pertama kali mengibarkan bendera Merah Putih di tanah Minang.
"Tindakannya tersebut segera tersebar ke semua pelosok daerahnya, dan hari itu juga dengan serentak para laskar langsung mengibarkan bendera Merah Putih di kantor-kantor," demikian dikutip dari buku Ulama Perempuan Indonesia.
Rahmah meninggal dunia pada tanggal 26 Februari 1969. Rahmah El Yunusiyyah kemudian ditetapkan negara sebagai Pahlwan Nasional berdasarkan Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 116/TK Tahun 2025.
Tulisan ini adalah rangkaian dari kisah ulama, tokoh, dan cendekiawan muslim yang menjadi Pahlawan Nasional Indonesia yang diterbitkan CNNIndonesia.com pada Ramadan 1447 Hijriah
(fam/kid)

8 hours ago
4














































