Perjalanan Wisata Muslim Berubah, AI Kini Jadi Penentu Destinasi

5 hours ago 4

Selular.ID – Mastercard bersama CrescentRating merilis Global Muslim Travel Index (GMTI) 2026 yang mengungkap perubahan besar dalam perilaku wisatawan Muslim dunia.

Laporan tersebut mencatat sekitar 80 persen wisatawan Muslim kini memanfaatkan teknologi kecerdasan buatan (AI) untuk mencari informasi, membandingkan pilihan, hingga menyusun rencana perjalanan.

Temuan ini menunjukkan bahwa AI tidak lagi sekadar menjadi alat bantu, tetapi mulai menjadi sumber utama dalam proses pengambilan keputusan sebelum bepergian.

Laporan Global Muslim Travel Index 2026 juga menyoroti bahwa kehadiran layanan ramah Muslim kini tidak cukup hanya tersedia secara fisik.

Destinasi wisata dituntut memiliki informasi digital yang mudah ditemukan oleh mesin pencari maupun platform berbasis AI agar tetap relevan dalam proses rekomendasi perjalanan.

“Perjalanan wisata Muslim kini mengalami pergeseran yang ditopang oleh kepercayaan digital, kemudahan akses, serta kebutuhan akan kepastian yang lebih besar di setiap tahap perjalanan,” ujar Aisha Islam, Senior Vice President, Customer Solutions Center Asia Tenggara, Mastercard.

Tonton juga:

Video Rekomendasi Untuk Anda

Menurutnya, semakin luasnya penggunaan AI membuat destinasi wisata perlu menyediakan informasi yang akurat, sistem pembayaran yang aman, serta layanan ramah Muslim yang mudah diakses secara digital.

Indonesia menjadi salah satu negara yang dinilai bergerak cepat mengikuti perubahan tersebut.

Kementerian Pariwisata Republik Indonesia telah menghadirkan Meticulous Artificial Intelligence of Indonesia (MaiA), asisten digital berbasis AI yang tersedia melalui portal Indonesia.Travel.

Teknologi ini membantu wisatawan menyusun itinerary perjalanan yang lebih personal sekaligus mempermudah pencarian destinasi, kuliner halal, hingga berbagai informasi pendukung lainnya.

Kehadiran MaiA dinilai memperkuat kualitas informasi yang diterima wisatawan sejak tahap awal perencanaan.

Selain meningkatkan personalisasi layanan, integrasi AI ke dalam platform resmi pariwisata juga membuat berbagai fasilitas ramah Muslim lebih mudah ditemukan oleh calon wisatawan.

Dalam laporan tersebut, Mastercard dan CrescentRating menilai persaingan antar destinasi kini bergeser. Jika sebelumnya fokus utama berada pada penyediaan fasilitas, kini kemampuan sebuah destinasi menghadirkan informasi yang mudah dibaca oleh sistem AI menjadi faktor penting.

Informasi yang selalu diperbarui, terstruktur, dan mudah dipahami mesin memiliki peluang lebih besar muncul dalam rekomendasi AI yang digunakan wisatawan.

Selain transformasi digital, GMTI 2026 juga menyoroti perubahan pola perjalanan akibat kondisi global yang masih dipengaruhi ketidakpastian ekonomi dan geopolitik.

Kenaikan biaya perjalanan, gangguan penerbangan, hingga faktor keamanan membuat banyak wisatawan Muslim memilih bepergian ke destinasi yang lebih dekat dan mudah dijangkau dibandingkan melakukan perjalanan jarak jauh.

Fenomena tersebut disebut sebagai mobilitas “one continent travel”, yaitu kecenderungan wisatawan memilih destinasi dalam kawasan yang sama.

Di Asia, khususnya Asia Tenggara, tren ini didukung oleh konektivitas penerbangan yang baik, ekosistem halal yang semakin berkembang, serta kedekatan budaya antarnegara.

Momentum tersebut juga tercermin dalam GMTI Awards 2026. Kawasan Jawa Barat memperoleh penghargaan sebagai Most Promising Muslim-friendly Region (OIC), sementara Mindanao di Filipina dinobatkan sebagai Most Promising Muslim-friendly Region (Non-OIC).

Penghargaan ini menunjukkan semakin berkembangnya destinasi ramah Muslim di luar pusat-pusat wisata tradisional.

Secara keseluruhan, Global Muslim Travel Index 2026 mengevaluasi 150 destinasi yang mewakili lebih dari 98 persen kedatangan wisatawan Muslim dunia.

Penilaian dilakukan menggunakan kerangka ACES, yaitu Access (akses), Communications (komunikasi), Environment (lingkungan), dan Services (layanan).

Pada edisi tahun ini, CrescentRating juga menambahkan sejumlah indikator baru yang menilai kesiapan teknologi AI, visibilitas digital, infrastruktur smart destination, tingkat kepercayaan wisatawan, hingga ketahanan destinasi menghadapi perubahan global.

Asia tetap menjadi kawasan dengan pertumbuhan wisata Muslim terbesar. Laporan tersebut mencatat hampir 128 juta wisatawan Muslim melakukan perjalanan ke kawasan Asia dengan penetrasi pasar mencapai 20,8 persen.

Dalam pemeringkatan destinasi, Malaysia kembali mempertahankan posisi sebagai Top Muslim-friendly Destination of the Year untuk tahun kesebelas berturut-turut dengan skor 83.

Posisi berikutnya ditempati Indonesia, Türkiye, dan Arab Saudi yang sama-sama memperoleh skor 79.

Peningkatan posisi Indonesia didukung oleh berbagai inisiatif pemerintah dalam pengembangan wisata halal, penyelenggaraan agenda halal berskala internasional, serta investasi pada destinasi yang lebih inklusif.

Sementara itu, di kategori negara non-OIC, Singapura masih memimpin berkat ekosistem kuliner halal, keamanan, serta pengembangan smart destination.

Posisi berikutnya ditempati Hong Kong, disusul Taiwan dan Britania Raya. Thailand, Filipina, Jepang, serta Korea Selatan juga menunjukkan peningkatan melalui pengembangan layanan wisata yang lebih inklusif bagi wisatawan Muslim.

Laporan GMTI 2026 turut mencatat semakin luasnya penerapan teknologi digital di sektor pariwisata, mulai dari e-visa, sistem perbatasan berbasis biometrik, chatbot AI, penerjemah bahasa secara real-time, hingga pengelolaan destinasi berbasis smart tourism.

Berbagai teknologi tersebut dinilai mampu mengurangi ketidakpastian selama perjalanan sekaligus meningkatkan kenyamanan wisatawan.

Untuk mendukung transformasi tersebut, CrescentRating memperkenalkan Destination Activation Stack, sebuah model yang menggabungkan kerangka ACES, RIDA, dan TRUST.

Model ini dirancang untuk membantu otoritas pariwisata membangun destinasi yang tidak hanya siap secara infrastruktur, tetapi juga mudah ditemukan secara digital, dipercaya wisatawan, serta mampu beradaptasi terhadap perubahan kebutuhan pasar.

Fazal Bahardeen, CEO CrescentRating & HalalTrip, , mengatakan perubahan perilaku wisatawan membuat destinasi perlu bertransformasi dari sekadar menyediakan layanan menjadi mampu mengaktifkan seluruh ekosistem digitalnya.

Baca Juga:AI Ubah Piala Dunia, Pengalaman Fans Jadi Lebih Personal

Menurutnya, integrasi teknologi, kepercayaan digital, dan informasi yang mudah diakses akan menjadi faktor penting dalam menjaga daya saing industri pariwisata ramah Muslim di masa mendatang.

Read Entire Article
Global Food