Tuntutan Jaringan 5G di Tengah Tekanan Beban Operator Seluler

4 hours ago 4

Selular.ID – Di tengah tuntutan untuk membangun infrastruktur digital di Indonesia, bagaimana kondisi finansial dari operator seluler yang ada di tanah air?

Kini, hanya tersisa tiga operator seluler di Indonesia yakni Telkomsel, Indosat Ooredoo Hutchishon serta XLSmart.

Ketiganya kini dihadapkan dengan tuntutan untuk melakukan pemerataan jaringan 5G di mana kecepatan internet Indonesia memang masih tertinggal, baik secara global maupun di Asia Tenggara.

Tidak hanya itu, jaringan 5G ini nantinya juga akan mempercepat transformasi digital serta pemanfaatan kecerdasan buatan atau AI di Indonesia.

Tekanan Beban Operator

Selular merangkum, untuk membangun infrastruktur digital ini tentu saja tidak murah dan ketiga operator seluler tersebut harus menanggung sejumlah beban biaya.

Contoh saja, sewa pita frekuensi yang merupakan miliki negara Indonesia. Selain itu, ada biaya lainnya dari pemerintah pusat hingga pemerintah daerah.

Tonton juga:

Video Rekomendasi Untuk Anda

Direktur Eksekutif Asosiasi Penyelenggara Telekomuniasi Indonesia (ATSI), Marwan O. Baasir, menyebutkan bahwa regulatory charge mencapai 13%-14%, sementara pertumbuhan industri hanya sekitar 5%.

“Beban ini bahkan berpotensi melonjak hingga lebih dari 28% jika ada skema seleksi pita frekuensi baru yang memberatkan,” ujar Marwan belum lama ini.

Baca juga:

Selain itu, ATSI juga menyebut adanya ketidakadilan beban dengan menyoroti bahwa beban regulasi yang tinggi saat ini hanya dibebankan penuh pada operator seluler.

“Padahal, banyak pihak (seperti penyedia platform over-the-top/OTT global) yang turut menikmati keuntungan masif dari ekosistem digital di Indonesia,” jelasnya.

Laba Operator Seluler

Meski mengalami tekanan dengan beban regulasi yang tinggi, namun sejumlah operator seluler masih dapat meraup keuntungan.

Telkomsel misalnya, membukukan laba bersih Rp19,7 triliun untuk tahun buku 2025, tumbuh 14,7% didukung transformasi bisnis yang solid.

Meski demikian, sang ayah yakni Telkom, mengalami penurunan laba bersih 20% di tahun buku 2025, yakni Rp17,8 triliun, tertekan karena peningkatan beban percepatan depresiasi dan program pensiun dini.

Sementara itu, Indosat Ooredoo Hutchison meraup laba bersih Rp5,51 triliun, naik 12,2% dari Rp4,91 triliun pada tahun sebelumnya.

Hal berbeda dialami XLSmart yang justru mengalami rugi bersih Rp4,42 triliun, berbalik dari posisi laba Rp1,81 triliun pada 2024 akibat lonjakan biaya pasca-merger.

Tantangan Operator Seluler

Sementara itu, Ericsson menilai keberhasilan implementasi 5G di Indonesia tetap bergantung pada beberapa faktor penting.

Mulai dari kejelasan regulasi spektrum frekuensi, kepastian investasi operator, hingga kolaborasi antara pemerintah dan industri menjadi penentu utama percepatan teknologi ini.

Ericsson juga menyebut kombinasi 5G, cloud, dan AI akan menjadi tiga pilar utama transformasi digital Indonesia menuju visi 2045.

“Untuk awal pembangunan infrastruktur 5G ini, sebaiknya pemerintah memberikan insentif kepada operator seluler supaya ekosistemnya jalan dan nantinya juga akan berdampak ke pendapatan domestik bruto negara,” ujar Head of Government and Industry Relations Ericsson Indonesia, Ronni Nurmal, Rabu (24/6/2026).

Read Entire Article
Global Food