Pendapatan Xiaomi Tergerus Karena Krisis Chip, Produk EV Turut Terdampak

10 hours ago 8

Selular.ID – Xiaomi Corp. mencatatkan penurunan laba untuk ketiga kalinya berturut-turut, yang menunjukkan dampak berat yang ditimbulkan oleh kelangkaan memori global yang berkepanjangan terhadap salah satu produsen smartphone terkemuka di dunia.

Laba bersih yang disesuaikan perusahaan yang berbasis di Beijing ini anjlok lebih dari yang diperkirakan, yaitu sebesar 43% menjadi 6,22 miliar yuan atau US$922 juta pada kuartal Juni, sementara pendapatan turun 6,1%.

Pendapatan dari penjualan smartphone merosot 7,5% setelah perusahaan mengurangi pengiriman perangkat kelas menengah ke bawah, sementara kenaikan harga sedikit mengimbangi kerugian pendapatan tersebut.

Xiaomi termasuk di antara korban terbesar dari krisis chip memori global yang sedang berlangsung.

Baca juga:

Pemasok terkemuka seperti Samsung Electronics Co. dan SK Hynix Inc. telah memprioritaskan produksi chip canggih untuk pusat data yang digunakan dalam pekerjaan kecerdasan buatan (AI), yang memicu kelangkaan produk memori konvensional dan mendorong kenaikan biaya.

Para investor mempertanyakan apakah Xiaomi telah mampu mengendalikan kenaikan biaya bahan baku.

Tonton juga:

Video Rekomendasi Untuk Anda

Sahamnya telah naik hampir 20% di Hong Kong sejak akhir Juni, yang mencerminkan adanya kepercayaan terhadap prospek perusahaan.

“Secara keseluruhan, kuartal kedua tetap menantang dengan harga memori yang mencapai rekor tertinggi, persaingan yang sengit, dan permintaan yang lesu,” kata Presiden Xiaomi Lu Weibing kepada wartawan.

Walau harga memori masih terus naik, ia menambahkan bahwa kenaikan tersebut kemungkinan akan terjadi dengan laju yang lebih moderat pada paruh kedua tahun ini.

Xiaomi mencatatkan penurunan pengiriman smartphone terbesar di antara lima merek teratas dunia selama kuartal Juni, menurut firma riset Counterpoint.

Strategi perusahaan untuk menjangkau seluruh segmen permintaan smartphone — mulai dari ponsel premium dengan layar lipat hingga perangkat murah yang dijual di bawah US$100 — telah membuatnya sangat rentan terhadap kelangkaan memori.

Kinerja perusahaan kini bergantung pada penjualan ponsel baru dan kendaraan listrik (EV) mereka.

Perpindahan fokus pendiri Lei Jun ke kendaraan listrik di pasar yang sangat kompetitif telah menjadi beban bagi laba bersih Xiaomi.

Dalam beberapa pekan terakhir, investor semakin khawatir terkait peluncuran dua kendaraan hybrid bensin dan listrik baru yang harganya di bawah ekspektasi pasar.

Perusahaan mengandalkan SUV SkyNomad untuk membangkitkan kembali antusiasme pada saat sebagian besar produsen mobil menghadapi penurunan penjualan di Tiongkok.

Xiaomi akan mulai menjual kendaraan listrik di luar negeri tahun depan, yang berpotensi mengembangkan bisnis ini menjadi pendorong pertumbuhan yang lebih kuat dan menjadi ancaman bagi merek-merek Barat yang sudah mapan di pasar-pasar termasuk Eropa.

Tantangan Ekspansi

Namun, Xiaomi bakal menghadapi sejumlah tantangan dalam ekspansinya, termasuk tarif, pengawasan regulasi, dan standar keselamatan yang lebih ketat.

Sementara itu Steven Tseng dan Sean Chen dari Bloomberg Intelligence, menilai bahwa penurunan penjualan Xiaomi sekitar 5% pada kuartal kedua secara yoy sebab lemahnya bisnis ponsel dan Internet of Things (IoT) terus-menerus mengimbangi pertumbuhan bisnis EV.

“Penjualan smartphone mungkin turun sekitar 9%—penurunan yang lebih ringan dibandingkan anjloknya pengiriman sebesar 26%—karena kenaikan harga jual rata-rata meningkatkan komposisi produk,” jelas keduanya.

Pada bagian lain IoT mungkin tetap lesu, dengan pendapatan tertekan akibat berkurangnya subsidi dan permintaan konsumen yang lesu.

“Untuk bisnis EV cerdas dan inisiatif baru diperkirakan telah pulih dengan pertumbuhan sekitar 20% seiring meningkatnya pengiriman SU7 setelah transisi model pada kuartal sebelumnya,” ujarnya.

“Namun, margin kotor secara keseluruhan kemungkinan menyusut, terbebani oleh kenaikan biaya memori pada ponsel pintar dan persaingan harga kendaraan listrik yang semakin ketat, sehingga menekan profitabilitas,” tutupnya.

Read Entire Article
Global Food