Konflik Iran, Keterbatasan Memori dan Melemahnya Rupiah: Industri Smartphone Kini Memasuki Masa-Masa Paling Sulit

20 hours ago 18

Selular.ID – Tahun ini merupakan tahun yang sulit bagi industri ponsel – dan setiap hari situasinya semakin bertambah sulit.

Perusahaan analis Counterpoint Research mengungkapkan pengiriman smartphone turun 3,1% pada kuartal pertama, menggambarkan pasar sebagai “periode kontraksi terdalam yang pernah tercatat.”

Counterpoint baru saja memangkas perkiraan setahun penuh, memperkirakan pengiriman akan turun 13,9% menjadi 1,08 miliar unit, turun dari penurunan 12,4% yang diproyeksikan pada bulan Februari.

“Pemicunya adalah krisis pasokan memori yang memburuk yang telah meningkat tajam dalam beberapa minggu terakhir, diperparah oleh pecahnya konflik Iran,” kata mereka dalam catatan riset pada hari Senin.

Faktor tunggal terbesar adalah kekurangan chip memori perangkat, dengan kapasitas industri semikonduktor sekarang hampir seluruhnya dikhususkan untuk memasok HBM dan DRAM server untuk pembangunan pusat data global.

Krisis chip memori ini sangat memukul merek ponsel kelas menengah dan bawah.

Tonton juga:

Video Rekomendasi Untuk Anda

“Para produsen peralatan asli (OEM) di kelas bawah dan menengah terjebak di antara kenaikan biaya yang tak tertahankan dan konsumen dengan batasan daya beli yang ketat,” kata Yang Wang dari Counterpoint.

“Narasi seputar pasar ponsel pintar bukan lagi tentang bagaimana meningkatkan pengiriman atau pangsa pasar, tetapi apakah akan tetap bertahan di pasar sama sekali,” katanya.

Analis lain memiliki pandangan serupa. IDC mencatat penurunan 2,9% pada kuartal pertama, dengan harga memori yang jauh lebih tinggi mendorong kenaikan biaya komponen dan memaksa kenaikan harga.

“Di beberapa pasar negara berkembang, harga telah naik hingga 40–50%, yang secara signifikan membebani permintaan di wilayah yang sensitif terhadap harga,” tulis Nabila Popal, direktur riset senior untuk perangkat konsumen.

“Para OEM menanggapi dengan pengendalian biaya yang lebih ketat, pengurangan dukungan pemasaran dan saluran distribusi, dan peningkatan penggunaan strategi pengurangan spesifikasi – tetapi langkah-langkah tersebut juga membatasi pertumbuhan,” katanya.

Untuk sisa 2026, biaya komponen, energi, dan logistik yang lebih tinggi akan memperburuk risiko penurunan dan menekan permintaan global, tambahnya.

Melengkapi analisa Counterpoint dan IDC, Lembaga riset pasar, Omdia mengatakan bahwa “peningkatan produksi” oleh merek-merek ponsel pada kuartal pertama telah menciptakan “kelebihan persediaan yang akan membebani kuartal-kuartal berikutnya seiring normalisasi permintaan.”

Omdia memprediksi “koreksi yang lebih nyata” pada paruh kedua, dengan kekurangan komponen yang berdampak pada pasar setidaknya selama dua tahun ke depan.

Sementara itu, China, pasar perangkat terbesar di dunia, bergerak ke wilayah positif untuk pertama kalinya tahun ini – tetapi berita tersebut tidak memberikan banyak kegembiraan.

Angka yang lebih tinggi disebabkan oleh penjualan yang rendah tahun lalu dan peluncuran ponsel unggulan baru oleh merek-merek besar setelah menghabiskan persediaan pada kuartal pertama.

Menurut Akademi Teknologi Informasi dan Komunikasi China (CAICT), pengiriman April tumbuh 2,8% menjadi 25,7 juta unit, dengan jumlah perangkat 5G yang dikirim tumbuh 24% dan sekarang mencapai 96,1% dari total volume.

Baca Juga: Petinggi Xiaomi Indonesia Akui Pelemahan Rupiah Berdampak ke Harga Smartphone

Melemahnya Rupiah Mendorong Kenaikan Harga Smartphone

Di Indonesia, situasinya tampaknya jauh lebih buruk. Selain didera kelangkaan chip, melemahnya rupiah berdampak langsung pada kenaikan harga jual smartphone.

Pasalnya, tingginya ketergantungan impor untuk komponen maupun produk utuh, masih dihargai dalam dolar AS.

Kondisi ini pada akhirnya menekan daya beli masyarakat, sehingga secara umum menurunkan permintaan untuk ponsel baru, memperpanjang siklus ganti gawai, dan mengalihkan minat ke ponsel kelas menengah atau bekas.

Imbas lonjakan dolar yang semakin tak terkendali telah dirasakan oleh vendor-vendor smartphone di Indonesia, termasuk Xiaomi.

Ilustrasi terkait Counterpoint

Menurut Marketing Director Xiaomi Indonesia, Andi Renreng., Xiaomi tak memungkiri pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS berpotensi memengaruhi harga perangkat mereka di Indonesia.

Meski begitu, Andi mengatakan, perusahaan akan tetap berupaya menghadirkan produk dengan nilai terbaik bagi konsumen di tengah tekanan biaya yang terjadi di industri.

Untuk diketahui bahwa pergerakan kurs bukan satu-satunya faktor yang memengaruhi harga perangkat. Selain pelemahan kurs, kondisi rantai pasok global, termasuk keterbatasan pasokan komponen memori, juga turut memberikan tekanan terhadap biaya produksi.

“Prinsipnya, kami di Xiaomi akan selalu melihat perkembangan. Bukan hanya kenaikan dari mata uang, tetapi situasi di industri, termasuk keterbatasan RAM dan memori yang juga meningkatkan harga,” kata Andi pada awak media di Jakarta, Selasa (2/6/2026).

Saat ditanya apakah Xiaomi berpotensi menaikkan harga perangkatnya, Andi tidak memberikan jawaban pasti. Namun, ia mengakui bahwa pelemahan rupiah dan kenaikan biaya komponen akan berdampak pada industri smartphone secara keseluruhan.

“Saya tidak menjawab tidak (terjadi kenaikkan harga), saya juga tidak menjawab ya. Tapi memengaruhi? Ya, pasti akan memengaruhi. Dolar naik, memori juga masih langka, tentu faktor-faktor itu berpengaruh,” sebutnya.

Andi menambahkan, pihaknya akan menyesuaikan strategi produknya agar tetap kompetitif di pasar Indonesia. Di mana, perusahaan berfokus menghadirkan perangkat yang dinilai paling relevan dengan kebutuhan konsumen sehingga tetap menawarkan nilai lebih di berbagai segmen harga.

Di tengah tren kenaikan harga smartphone, Andi mengimbau konsumen yang berniat beli untuk segera melakukan pembelian sebelum potensi penyesuaian harga lanjutan.

Baca Juga: Rupiah Melemah, Telkom: Kita Sudah Hadapi Berbagai Krisis

Read Entire Article
Global Food