Hasto Sebut Lagu 'Bung Karno Bapak Marhaenisme' Upaya Luruskan Sejarah

8 hours ago 5

Jakarta, CNN Indonesia --

Sekretaris Jenderal PDI Perjuangan (PDIP) Hasto Kristiyanto mengungkap filosofi di balik lagu 'Bung Karno Bapak Marhaenisme' yang kerap diputar dalam berbagai agenda internal partai.

Menurutnya, lagu tersebut menjadi bagian dari upaya pelurusan sejarah sekaligus penguatan ideologi partai. Lagu itu kembali diperkenalkan kepada kader PDIP untuk membangkitkan pemahaman mengenai konsep Marhaenisme yang selama ini kerap disalahartikan.

"Karena itu lagu Mars Bung Karno Bapak Marhaenisme itu sangat penting dan diperkenalkan kembali oleh Mas Prananda Prabowo dengan aransemen yang baru," ujar Hasto usai mempimpin upacara Hari Lahir Pancasila di Halaman Masjid At-Taufiq, Lenteng Agung, Jakarta Selatan, Senin (1/6).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Menurut Hasto, Muhammad Prananda Prabowo berperan dalam menghadirkan kembali lagu tersebut dengan aransemen baru. Langkah itu dilakukan setelah PDIP mengalami keterputusan sejarah pada masa Orde Baru yang turut memengaruhi pemahaman terhadap ajaran Bung Karno.

Ia menjelaskan lagu tersebut tidak sekadar menjadi simbol politik, melainkan sarana untuk menghidupkan kembali kesadaran tentang nilai-nilai dasar Pancasila yang berpihak kepada rakyat kecil.

"Itu membangkitkan kesadaran kita tentang watak sejati Pancasila untuk merubah struktur yang menindas berdasarkan nilai-nilai ketuhanan, kemanusiaan, keadilan, kebangsaan dan kerakyatan itu sendiri," jelasnya.

Hasto menegaskan konsep Marhaenisme yang diwariskan Presiden pertama RI Soekarno berbeda dengan stigma yang selama ini dilekatkan oleh sebagian pihak. Menurutnya, Marhaenisme lahir dari realitas sosial rakyat kecil yang hidup mandiri namun kerap terpinggirkan dari proses pembangunan.

Karena itu, kata dia, Marhaenisme menempatkan rakyat kecil sebagai subjek utama perjuangan politik dan ekonomi bangsa.

"Tentang pentingnya lagu Mars Bung Karno Bapak Marhaenisme, karena selama ini kita berbicara Marhaen itu kemudian dicap komunis dan sebagainya, padahal itu adalah suatu realitas sosial yang terjadi sebagai setting historis bagi Bung Karno untuk memerdekakan rakyat Indonesia yang terpinggirkan, mereka mandiri tapi mereka harus dibangun kesadarannya, maka lagu itu sangat penting," tegasnya.

Saat ditanya mengenai kemungkinan lagu tersebut diputar dalam acara kenegaraan, Hasto menilai yang lebih penting bukanlah pemutaran lagunya, melainkan penerapan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya dalam kebijakan negara.

"Bagi PDI Perjuangan lagu mars Bung Karno Bapak Marhaenisme yang penting adalah spiritnya itu, spirit tentang kemerdekaan kita, tentang politik kita itu untuk rakyat Marhaen. Itu penuh dengan upaya-upaya nyata bagaimana kebijakan-kebijakan ideologis sampai teknokratis itu memberi kemanfaatan bagi rakyat," imbuhnya.

Hasto juga menyoroti sejumlah tantangan yang masih dihadapi Indonesia, mulai dari kualitas pendidikan hingga daya saing nasional dibanding negara-negara tetangga. Menurutnya, pemikiran para pendiri bangsa tetap relevan untuk menjawab berbagai persoalan tersebut.

"Kita sudah tertinggal dengan Singapura, bahkan dengan Malaysia, pendidikan kita menurun kualitasnya. Maka dengan spirit lagu Bung Karno Bapak Marhaenisme, kita memperkuat watak sejati politik yang membebaskan dari berbagai belenggu kemiskinan, kebodohan dan ketidakadilan," pungkasnya.a

(ldy/pta)

Add as a preferred
source on Google
Read Entire Article
Global Food