Garmin Ungkap Fakta Ilmiah Dibalik Perubahan Pola Tidur Saat Ramadan

3 hours ago 2

Selular.ID – Garmin Indonesia mengangkat isu kualitas tidur selama Ramadan dalam momentum World Sleep Day 2026 yang diperingati pada 16 Maret.

Melalui edukasi berbasis data dan teknologi pemantauan tidur, perusahaan perangkat wearable ini menjelaskan bahwa perubahan pola tidur selama puasa dapat memicu ketidakseimbangan ritme biologis tubuh yang berdampak pada emosi, fokus, dan energi harian.

Menurut Garmin, banyak orang mengaitkan rasa lemas atau mudah tersinggung selama puasa hanya dengan faktor lapar dan haus.

Namun secara ilmiah, kondisi tersebut lebih sering dipicu oleh gangguan pada jam biologis tubuh atau circadian rhythm, yaitu sistem internal yang mengatur siklus tidur, metabolisme, dan energi tubuh selama 24 jam.

Vishal Dasani, Sleep Coach, menjelaskan bahwa perubahan rutinitas selama Ramadan—terutama kebiasaan bangun lebih awal untuk sahur serta waktu makan yang bergeser ke malam hari—dapat memicu kondisi yang disebut circadian misalignment.

Istilah ini menggambarkan ketidaksinkronan antara jadwal biologis tubuh dengan aktivitas harian.

“Tantangan terbesar saat Ramadan bukan hanya durasi tidur yang berkurang karena sahur, tetapi juga perubahan waktu makan yang memaksa tubuh mencerna saat seharusnya beristirahat,” ujar Vishal Dasani.

Ia menambahkan bahwa perubahan pola tidur ini berdampak langsung pada fase Rapid Eye Movement (REM), yaitu tahap tidur yang berperan penting dalam pemrosesan emosi, memori, serta fungsi kognitif.

Dalam kondisi normal, fase REM menyumbang sekitar 20–25 persen dari total waktu tidur.

“Selama Ramadan, proporsi tidur REM dapat turun signifikan dari sekitar 24 persen menjadi 10 persen atau bahkan lebih rendah. Ketika fase ini berkurang drastis, kemampuan berpikir jernih menurun, performa kerja terganggu, dan secara psikologis seseorang menjadi lebih mudah tersulut emosi,” jelasnya.

Selain perubahan jadwal tidur, pola makan juga menjadi faktor yang memengaruhi kondisi tubuh selama puasa.

Chandrawidhi Desideriani, Marcomm Senior Manager Garmin Indonesia, mengatakan banyak masyarakat masih menerapkan pola makan berlebih saat sahur dengan asumsi energi akan bertahan sepanjang hari.

Menurutnya, konsumsi karbohidrat olahan dalam jumlah besar—seperti nasi putih dalam porsi besar, mi instan, atau minuman manis—dapat memicu lonjakan gula darah yang dikenal sebagai glucose spike.

Kondisi ini biasanya diikuti penurunan kadar gula darah secara cepat atau sugar crash beberapa jam kemudian.

“Hasilnya sering berupa fenomena brain fog, yaitu kondisi ketika otak terasa sulit fokus, tubuh terasa berat, dan rasa kantuk muncul di pagi hari ketika produktivitas sedang dibutuhkan,” ujar Chandrawidhi.

Kesalahan pola makan juga sering terjadi saat berbuka puasa. Kebiasaan mengonsumsi makanan manis dan porsi besar secara langsung setelah berpuasa seharian membuat sistem pencernaan bekerja lebih keras pada malam hari.

Kondisi ini dapat memengaruhi kualitas tidur karena tubuh masih aktif mencerna makanan ketika waktu istirahat tiba.

Dalam situasi tersebut, suhu inti tubuh tetap tinggi, sementara fase deep sleep—tahap tidur dalam yang berfungsi untuk pemulihan fisik—membutuhkan suhu tubuh yang lebih rendah.

“Ketika tubuh masih mencerna makanan berat menjelang tidur, proses pemulihan tidak berlangsung optimal. Seseorang mungkin tidur cukup lama, tetapi tetap bangun dengan kondisi lelah karena kualitas tidurnya menurun,” jelas Chandrawidhi.

Akumulasi kondisi ini dapat memicu sleep debt atau utang tidur, yaitu kekurangan tidur yang terus menumpuk dari hari ke hari.

Dampaknya tidak hanya pada energi tubuh, tetapi juga pada konsentrasi, stabilitas emosi, dan kemampuan mengambil keputusan.

Untuk membantu pengguna memahami kualitas istirahat mereka, Garmin menyediakan berbagai fitur pemantauan kesehatan pada perangkat wearable-nya, termasuk Sleep Monitoring dan Body Battery.

Fitur tersebut menganalisis pola tidur, tingkat energi, serta aktivitas tubuh sepanjang hari.

Garmin juga membagikan sejumlah rekomendasi praktis agar tubuh tetap bugar selama Ramadan.

Salah satunya adalah memprioritaskan kualitas tidur setelah aktivitas malam seperti tarawih, serta mempertimbangkan power nap atau tidur singkat sekitar 20 menit di siang hari untuk membantu pemulihan energi.

Selain itu, Garmin menyarankan konsumsi nutrisi yang lebih seimbang saat sahur, dengan memperbanyak protein dan serat serta mengurangi gula berlebih.

Hidrasi juga menjadi faktor penting, sehingga disarankan mengonsumsi cairan elektrolit atau air kelapa saat sahur untuk membantu menjaga keseimbangan cairan tubuh.

Aktivitas fisik tetap dianjurkan selama Ramadan, tetapi dengan intensitas yang disesuaikan.

Waktu olahraga yang direkomendasikan adalah sekitar satu hingga dua jam sebelum berbuka puasa agar tubuh tidak mengalami dehidrasi berlebihan.

Dalam rangka meningkatkan kesadaran terhadap kualitas tidur, Garmin juga menghadirkan watch face Pokémon Sleep yang dapat diunduh secara gratis melalui aplikasi Garmin Connect IQ Store.

Watch face ini dapat disinkronkan dengan aplikasi Pokémon Sleep, sebuah aplikasi yang memantau pola tidur pengguna dengan pendekatan gamifikasi.

Fitur tersebut kompatibel dengan beberapa lini smartwatch Garmin, termasuk seri fēnix, Forerunner, Venu, dan vívoactive.

Melalui tampilan visual karakter Pokémon, kondisi energi pengguna akan ditampilkan secara dinamis berdasarkan indikator Body Battery yang diukur oleh perangkat.

Pendekatan ini dirancang untuk membuat pemantauan tidur lebih menarik sekaligus mendorong pengguna memahami pentingnya kualitas istirahat.

Bagi Garmin, tidur bukan sekadar waktu tanpa aktivitas, melainkan fondasi penting bagi kesehatan fisik, stabilitas emosi, dan performa harian, terutama ketika pola hidup berubah selama bulan Ramadan.

Baca Juga: Bukan Korsel Atau AS, Ini Negara Produsen Terbesar Chip Komputer Dunia

Read Entire Article
Global Food