Fintech Dorong Ekonomi 2026, Amartha Salurkan Triliunan ke UMKM Desa

18 hours ago 23

Selular.ID – Memasuki 2026, sektor financial technology (fintech) dinilai semakin berperan sebagai penggerak pertumbuhan ekonomi Indonesia, khususnya melalui pembiayaan UMKM dan penguatan ekonomi desa.

Salah satu pelaku yang mencatatkan kontribusi signifikan adalah Amartha, fintech yang sepanjang 2025 telah menyalurkan pendanaan modal kerja hingga Rp13,2 triliun kepada jutaan pelaku UMKM di wilayah perdesaan.

Kontribusi fintech terhadap perekonomian nasional tercermin dari data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) yang mencatat layanan keuangan digital—mulai dari permodalan, investasi mikro, hingga pembayaran digital—telah menyumbang 80,5 persen tingkat inklusi keuangan nasional.

Capaian ini menegaskan peran fintech sebagai pelengkap sistem keuangan konvensional, terutama dalam menjangkau segmen yang belum terlayani optimal oleh perbankan.

Sejalan dengan tren tersebut, Amartha yang telah beroperasi selama 16 tahun terus memperluas jangkauan layanan keuangan digitalnya. Sejak berdiri pada 2010, perusahaan ini telah menyalurkan lebih dari Rp37 triliun modal kerja kepada 3,7 juta UMKM di lebih dari 50.000 desa di Indonesia, dengan fokus utama pada pengusaha mikro, khususnya perempuan di akar rumput.

Baca Juga: Sinergi Bank-Fintech Kunci Perluas Akses Kredit Nasional

Fintech dan Perannya dalam Inklusi Keuangan Nasional

Perkembangan fintech di Indonesia tidak hanya berdampak pada pertumbuhan ekonomi nasional, tetapi juga mempercepat inklusi keuangan di daerah. Akses terhadap pembiayaan, pembayaran digital, dan investasi mikro membuka peluang usaha baru sekaligus memperkuat daya tahan ekonomi lokal.

Founder & CEO Amartha, Andi Taufan Garuda Putra, menjelaskan bahwa sepanjang 2025 perusahaan semakin memantapkan posisinya sebagai penyedia layanan keuangan digital yang terintegrasi bagi UMKM desa.

“Produk Amartha dirancang berdasarkan pemahaman mendalam terhadap kebutuhan dan perilaku UMKM akar rumput. Di saat yang sama, kami memperkuat tata kelola dan mitigasi risiko agar pertumbuhan tetap sehat dan berkelanjutan,” ujarnya.

Pendekatan tersebut diperkuat dengan pemanfaatan teknologi artificial intelligence (AI) untuk menjaga kualitas portofolio pembiayaan. Kombinasi antara pemahaman pasar, teknologi, tata kelola, serta kemitraan dengan institusi global menjadi fondasi utama pertumbuhan Amartha hingga saat ini.

Baca Juga: Permudah Buka Rekening, Superbank Gaet Mitra Grab di Indonesia

Layanan Keuangan Digital Terintegrasi untuk UMKM Desa

Pada 2025, Amartha menghadirkan ekosistem layanan keuangan digital yang lebih lengkap melalui aplikasi AmarthaFin. Perusahaan juga telah mengantongi izin dompet digital dari Bank Indonesia, yang memungkinkan integrasi berbagai layanan dalam satu platform.

Melalui AmarthaFin, pengguna dapat mengakses:

  • Investasi mikro yang terbuka bagi masyarakat luas
  • Pembayaran digital untuk kebutuhan harian
  • Pengajuan pinjaman modal kerja dengan proses cepat
  • Akses jaringan AmarthaLink di tingkat komunitas

Model layanan ini dirancang sesuai karakteristik UMKM akar rumput yang membutuhkan solusi keuangan cepat, mudah, dan terjangkau, tanpa proses administratif yang rumit.

Baca Juga: Amartha Gaet Nobu Bank Salurkan Modal Usaha Ultra Mikro Rp100 Miliar

AmarthaLink Perluas Infrastruktur Digital di Perdesaan

Untuk menjangkau masyarakat yang belum sepenuhnya terakses layanan keuangan digital, Amartha membangun program AmarthaLink. Program ini memungkinkan pengguna aplikasi AmarthaFin menjadi agen layanan pembayaran digital di komunitasnya, termasuk untuk pembayaran pulsa, cicilan, dan transaksi lainnya.

Hingga akhir 2025, lebih dari 50.000 pengguna telah bergabung sebagai bagian dari jaringan AmarthaLink. Kehadiran agen-agen ini berperan sebagai perpanjangan tangan layanan keuangan digital di desa, sekaligus memperluas infrastruktur pembayaran non-tunai di luar kota besar.

Baca Juga: Amartha Gaet Mastercard Guna Perluas Pembiayaan Digital

Daya Tarik Fintech bagi Investor Global

Selain mendorong inklusi keuangan dan ekonomi daerah, sektor fintech Indonesia juga tetap menarik bagi investor asing. Di tengah dinamika pendanaan global, aliran investasi asing ke fintech Indonesia tercatat mencapai US$549 juta pada 2024, menunjukkan fondasi industri yang masih solid.

Komisaris Utama Amartha, Rudiantara, menilai model bisnis yang fokus pada segmen spesifik menjadi salah satu faktor kepercayaan investor internasional.
“Target pasar yang jelas, manajemen risiko yang baik, serta penerapan tata kelola setara perusahaan publik membuat kinerja Amartha kuat secara fundamental. Ini meningkatkan kepercayaan lebih dari 30 investor nasional dan internasional, sekaligus menggerakkan ekonomi akar rumput,” jelasnya.

Baca Juga: Riset Amartha mengatakan Indonesia Siap Hadapi Gejolak Ekonomi Makro

Kontribusi Fintech terhadap Lapangan Kerja

Dampak ekonomi fintech juga terlihat dari penciptaan lapangan kerja. Di tingkat desa, UMKM mitra Amartha tercatat telah membuka lebih dari 110.000 lapangan kerja baru. Kontribusi ini memperkuat peran fintech tidak hanya sebagai penyedia pembiayaan, tetapi juga sebagai katalis pertumbuhan ekonomi lokal.

Di level industri, optimisme terhadap prospek fintech tercermin dari survei yang menunjukkan 65 persen perusahaan fintech berencana menambah karyawan permanen. Angka ini menandakan kepercayaan pelaku industri terhadap keberlanjutan pertumbuhan sektor fintech di Indonesia.

Baca Juga: Ajak Milenial Berinvestasi, Perusahaan Fintech Amartha Sediakan Rp350 Juta

Roadmap Fintech Indonesia di 2026

Memasuki 2026, peluang fintech untuk mendorong ekonomi dinilai semakin besar, terutama di tengah keterbatasan penyaluran kredit UMKM oleh perbankan. Nailul Huda, Direktur Ekonomi Digital CELIOS, mencatat bahwa kredit UMKM dari perbankan mengalami kontraksi secara tahunan, sementara kebutuhan permodalan tetap tinggi.

“Pelaku usaha akhirnya mencari sumber pembiayaan alternatif, salah satunya pinjaman daring. Karena itu, pertumbuhan pinjaman daring masih cukup tinggi di 2025 dan berlanjut ke 2026,” ujarnya.

Ia juga menambahkan bahwa kehadiran pinjaman daring mendorong inklusi keuangan di desa melalui peningkatan peran agen bank dan agen pembayaran. Akses yang lebih luas ini membuka kesempatan masyarakat untuk berusaha dan mendorong pertumbuhan ekonomi lokal.

Baca Juga: Dukung Akses Pendana Retail Untuk Penyaluran Modal Produktif Bersama Flip-Amartha

Tantangan dan Mitigasi Risiko

Meski peluang terbuka lebar, ekspansi fintech tetap harus diimbangi mitigasi risiko yang kuat. Tantangan seperti gejolak geopolitik global, potensi fraud, serta rendahnya literasi keuangan digital di sebagian masyarakat perlu diantisipasi secara sistematis.

Bagi pelaku fintech, strategi seperti ekspansi di luar Pulau Jawa, fokus pada segmen akar rumput, kemitraan dengan institusi, serta diversifikasi produk keuangan menjadi langkah penting untuk memperkuat fondasi bisnis di 2026.

Baca Juga: Superbank Gaet Amartha Dukung Pertumbuhan Ekonomi Inklusif Di RI

Komitmen Amartha di 2026 dan Asia Grassroots Forum

Di 2026, Amartha menegaskan komitmennya untuk terus menjangkau jutaan UMKM akar rumput melalui produk keuangan terintegrasi. Perusahaan juga akan kembali menggelar Asia Grassroots Forum (AGF) 2026 pada Mei mendatang.

Forum internasional ini akan memasuki tahun ketiga dengan tema “Enabling Growth, Elevating Financial Health”, menghadirkan investor global, pembuat kebijakan, dan sektor swasta untuk membahas strategi kolaborasi dalam memperkuat kualitas kesehatan finansial masyarakat akar rumput.

Melalui kombinasi inovasi teknologi, tata kelola yang kuat, serta fokus pada UMKM desa, sektor fintech—termasuk Amartha—diproyeksikan tetap menjadi salah satu pilar penting pertumbuhan ekonomi Indonesia di 2026, baik di tingkat nasional maupun daerah.

Baca Juga: Amartha Dan IFC Salurkan Permodalan Rp3T Untuk Perempuan Pengusaha Ultra Mikro

Read Entire Article
Global Food