Eks Bos BMKG Beber Pemicu Tanah Gerak Tegal, Bukan Bencana Tiba-tiba

7 hours ago 5

Yogyakarta, CNN Indonesia --

Eks Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Dwikorita Karnawati menduga fenomena tanah bergerak di Desa Padasari, Kabupaten Tegal tidak terjadi secara tiba-tiba.

Dwikorita menduga masyarakat setempat tidak menyadari awal pergerakan tanah ini. Melihat situasi di lokasi sekarang, ia memperkirakan tanah gerak sudah terjadi sejak sekitar setahun belakangan.

"Itu biasanya mestinya tidak mendadak seperti itu. Itu gerakannya tuh ada awalnya, awalnya tuh nggak ketara, cuma rayapan retakan kecil. Tapi kalau bertahun-tahun menjadi parah seperti itu," katanya saat dihubungi, Selasa (10/2).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Jadi dugaan saya itu sebelumnya sudah pernah, mungkin pada nggak tahu ya, atau terabaikan ya. Kok sampai parah, jadi itu nggak ujug-ujug begitu tuh nggak. Biasanya tuh perlu waktu beberapa tahun bisa seperti itu. Minimal setahun lebih lah, seperti itu," sambungnya.

Dwikorita menyebut ada empat jenis atau tipe tanah gerak. Namun, untuk di Desa Padasari, Kabupaten Tegal, dia melihat ini merupakan fenomena rayapan tanah.

Fenomena ini terjadi dengan karakteristik gerak tanah yang sangat lambat dan terjadi pada lereng landai, bahkan agak mendatar pun masih memungkinkan.

"Yang anda sebut tanah bergerak (di Tegal) itu sebenarnya rayapan tanah," tegasnya.

Rayapan tanah ini tentu beda dengan longsor yang terjadi pada lereng curam dan dikontrol oleh bidang miring atau lengkung. Akibatnya, kecepatan tanah pun cenderung tinggi dan memiliki tingkat risiko fatalitas.

Sementara rayapan tanah terjadi secara perlahan, tidak langsung 'membunuh' seperti longsor, namun merusak pelan-pelan infrastruktur macam rumah, jalan hingga jembatan.

"Yang bahaya itu kalau merusak rumah, rumahnya bisa terpotong turun sebagian dan rumahnya bisa ambruk. Nah, ambruknya rumah itu yang bisa membunuh. Jadi bukan karena rayapan. Jadi yang di Tegal itu tipenya rayapan karena pergerakannya lambat," papar pakar geologi yang juga eks rektor UGM itu.

Dwikorita menuturkan, karakter geologi dari kawasan tersebut yang terdiri dari lempung biru (blue clay) menjadi pemicunya. Lempung biru ini mengandung mineral montmorillonite. Ia sangat sensitif untuk mengembang apabila terkena air dan pejal ketika kering.

Formasi geologi macam ini bukan cuma di Tegal saja, tapi melampar luas sampai ke Grobogan, bahkan Ngawi, Jawa Timur.

"Itu jenis lempung yang apabila kena air bisa mengembang, volumenya berkembang bisa sampai delapan kali lipat dari volume awal. Bahasa Jawanya itu jadi mlenyok (melunak) ya. Jadi seperti pasta gigi," ungkap Dwikorita.

Menurut Dwikorita, tanah merayap saat lempung biru jenuh air. Tanah yang bergerak adalah material yang berada di atas lapisan blue clay ini.

"Dan lempung itu sering terkubur di atas tanah yang bergerak tadi. Jadi sebenarnya yang bergerak itu lapisan lempung di bawahnya, nah tanahnya itu tumpukan yang ada di atasnya sehingga tanah itu seperti naik lempung tadi, dia ikut bergerak merayap," jelasnya.

Lebih lanjut, Dwikorita menengarai tingginya curah hujan belakangan turut mempengaruhi kejenuhan lempung biru di Desa Padasari. Dia bilang, curah hujan yang kian tinggi kemungkinan memicu lempung biru ini melampaui kapasitasnya sehingga berubah menjadi labil.

"Kedua, mungkin dulu-dulu itu tidak ada bangunan-bangunan (di atas tanah), tidak ada jalan. Jadi satu memang belum bergerak, kedua mungkin belum ada yang rusak. Ini secara fisika, beban itu kan juga membuat kemampuannya untuk bertahan stabil. Beban bangunan, beban di atas tanah itu juga memperparah kondisi itu untuk bergerak," tutupnya.

Fenomena tanah bergerak terjadi di Desa Padasari, Kabupaten Tegal pekan lalu dan menghancurkan ratusan rumah warga serta sejumlah fasilitas publik. Bukan pertama kali terjadi, pemerintah memutuskan bakal merelokasi warga demi keamanan.

Kades Padasari, Mashuri mengatakan sejak Senin (2/2) pekan lalu, pergerakan tanah masih terus berlangsung hingga sepekan kemudian pada Senin (8/2) kemarin.

Per awal pekan ini, dia bilang data rumah terdampak sebanyak 464 unit dengan rincian 205 rusak berat, 174 rusak sedang dan 85 rusak ringan. Fasilitas sosial 21 unit, peribadatan 7 unit, pendidikan 7 unit, dan pemerintahan 1 unit. Untuk infrastruktur jalan desa dan kabupaten sebanyak 3 titik, 1 bendung irigasi dan 1 jembatan desa.

"Kemungkinan terdapat penambahan jumlah rumah terdampak dari semula 464 unit. Jumlah pasti masih dihitung dan direkapitulasi oleh Dinas Perkim," ujar Mashuri seperti dikutip dari detikJateng.

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat fenomena pergerakan tanah di Desa Padasari, Kecamatan Jatinegara, Kabupaten Tegal, Jawa Tengah, masih berlangsung aktif hingga Senin (9/2). Jumlah pengungsi juga dilaporkan terus bertambah lebih dari 2.000 jiwa.

(kum/dal)

[Gambas:Video CNN]

Read Entire Article
Global Food