Selular.id – NVIDIA semakin memperkokoh posisinya sebagai raja diraja di industri kartu grafis setelah berhasil mengamankan 94 persen pangsa pasar Add-in Board (AIB) pada kuartal keempat (Q4) 2025.
Laporan terbaru dari Jon Peddie Research (JPR) ini menunjukkan dominasi yang hampir tanpa celah, meninggalkan para kompetitornya jauh di belakang dalam persaingan perangkat keras visual global.
Di tengah kondisi pasar yang sedang tertekan oleh kenaikan harga komponen, NVIDIA justru mampu meningkatkan pijakannya sementara pemain lain cenderung stagnan atau bahkan mengalami penurunan.
Kenaikan pangsa pasar ini tercatat sebesar 1,6 persen dibandingkan kuartal sebelumnya, yang secara kumulatif membuat NVIDIA melonjak 10 poin jika dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun lalu.
Keberhasilan ini tergolong luar biasa mengingat industri sedang dihantui oleh kelangkaan memori DRAM dan kebijakan tarif yang melambungkan biaya produksi.
Meskipun total pengapalan unit AIB secara keseluruhan turun sekitar 4,4 persen menjadi 11,5 juta unit, NVIDIA tetap menjadi pilihan utama bagi konsumen yang mencari performa tinggi meski harus menebusnya dengan harga lebih mahal.
Di sisi lain, kondisi berbeda dialami oleh AMD yang harus rela melihat pangsa pasarnya menyusut hingga tersisa 5 persen saja, turun dari angka 15 persen pada tahun sebelumnya.
Penurunan drastis sebesar 10 poin ini mencerminkan betapa agresifnya penetrasi pasar yang dilakukan tim hijau melalui jajaran kartu grafis seri terbaru mereka.
Sementara itu, Intel tetap tertahan di angka 1 persen, menunjukkan bahwa upaya mereka untuk mendisrupsi pasar GPU desktop melalui lini Arc masih memerlukan waktu dan strategi yang lebih matang untuk bisa bersaing di level atas.
Laporan JPR mengonfirmasi bahwa rata-rata harga jual kartu grafis mulai meroket sejak akhir 2025, dan situasi ini diprediksi akan terus berlanjut hingga sepanjang tahun 2026.
Faktor utama yang mencekik pasar bukanlah sekadar masalah tarif perdagangan, melainkan kekurangan stok memori yang akut serta kemunculan kembali fenomena scalping atau tengkulak yang memanfaatkan keterbatasan unit di pasar retail.
Kondisi ini membuat segmen PC gaming kelas menengah dengan budget di bawah $500 (sekitar Rp7,8 juta) terancam punah karena produsen lebih memilih mengalokasikan stok komponen untuk varian kelas atas yang lebih menguntungkan.
Meskipun pasar GPU sedang mengalami kontraksi dalam hal volume pengapalan, segmen CPU justru menunjukkan tren yang lebih sehat dengan peningkatan pengapalan mencapai 21 juta unit.
Namun, para perakit PC baru tetap akan menghadapi tantangan besar karena harga memori yang tinggi juga berdampak pada total biaya perakitan sistem secara keseluruhan.
Ketimpangan antara permintaan pasar dan ketersediaan stok komponen kunci ini diperkirakan belum akan menemui titik terang dalam waktu dekat.
Dominasi mutlak NVIDIA sebesar 94 persen ini memberikan mereka kekuatan yang sangat besar dalam menentukan arah industri dan standar harga ke depannya.
Dengan penguasaan pasar yang hampir mencapai monopoli di sektor AIB, dinamika kompetisi di masa depan akan sangat bergantung pada seberapa cepat AMD dan Intel dapat menghadirkan solusi alternatif yang kompetitif baik dari segi harga maupun efisiensi pasokan.
Para pengguna setidaknya harus bersiap menghadapi era perangkat keras yang lebih mahal di tengah ketidakpastian rantai pasok global ini.
Baca juga : Geser Dominasi Apple, NVIDIA Kini Jadi Konsumen Terbesar TSMC















































