Cucu Pendiri NU Wanti-wanti Muktamar PBNU Harus Independen

4 hours ago 6

Surabaya, CNN Indonesia --

Cucu salah satu pendiri Nahdlatul Ulama (NU) KH Bisri Syansuri KH Abdussalam Shohib atau yang akrab disapa Gus Salam, mewanti-wanti agar pelaksanaan Muktamar NU ke-35 harus berjalan secara mandiri dan independen, tanpa ada intervensi pihak eksternal.

Gus Salam yang juga Pengasuh Pondok Pesantren Mambaul Ma'arif Denanyar Jombang ini menegaskan kemandirian baik dari segi pembiayaan maupun pelaksanaan perhelatan muktamar ini sangat penting dilakukan untuk menjaga marwah organisasi.

Menurutnya, independensi dari campur tangan eksternal menjadi kunci utama demi melahirkan kepengurusan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) yang bersih dan solid di masa depan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Kami mengusulkan agar Muktamar NU ini harus muktamar yang mandiri dan independen. Mandiri dalam pembiayaan, dalam perhelatan, dan independen dari intervensi siapapun, khususnya eksternal. Tujuannya apa? Agar nanti ke depan terpilihlah PBNU yang benar-benar menjaga transparansi, berintegritas dan solid. Itu yang menjadi keinginan kami," kata Gus Salam, Sabtu (6/6).

Gus Salam yang sempat menginisiasi Muktamar Luar Biasa (MLB) NU melalui Forum Penyelamat Organisasi dan Panitia MLB (PO & MLB) NU ini optimistis NU memiliki kapasitas besar untuk mandiri.

Mantan Wakil Ketua Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur ini mengaku pihaknya pernah menggalang dana miliaran rupiah dari warga nahdliyin dalam waktu sangat singkat saat menjelang Muktamar Lampung 2021 lalu.

"Apakah mampu NU melakukan kemandirian di dalam perwakilan Muktamar. Saya kira mampu. Kenapa? Karena kami dulu ketika akan muktamar di Lampung, PWNU Jawa Timur ini pernah coba untuk meng-collect dana dari masyarakat dari nahdliyin untuk menghadapi Muktamar Lampung itu hanya dalam waktu 1 bulan kami ini mampu mengumpulkan dana hampir Rp4 miliar," ucapnya.

Semangat kemandirian ini disebutnya juga sudah terlihat dari kesiapan sejumlah pesantren besar dan para kiai di Jatim yang menyatakan siap mengemban seluruh beban biaya jika ditunjuk menjadi tuan rumah forum tertinggi organisasi Islam terbesar di Indonesia tersebut.

"Karena melihat dari respon beberapa pesantren Syaichona Cholil Bangmalan, Pesantren Walisongo Situbondo, beliau kan mengatakan siap menjadi tuan rumah dengan pembiayaan mandiri. Kemudian Kiai Asep [Pesantren Amanatul Ummah Pacet Mojokerto] juga menyatakan siap menjadi tuan rumah dan siap melayani peserta muktamar dengan biaya sendiri," papar Gus Salam.

Lebih lanjut, Gus Salam menilai momentum muktamar saat ini adalah waktu yang paling tepat untuk menghidupkan kembali tradisi lama NU, di mana umat dan masyarakat terlibat secara masif dalam pendanaan dan penyelenggaraan, seperti yang pernah terjadi pada Muktamar di Situbondo (1984), Yogyakarta (1989), Cipasung (1994), hingga Lirboyo (1999).

"Artinya apa? Semangat-semangat para kiai, semangat umat untuk menjaga kemandirian dan independen ini sangat kuat. Lah, momentum Muktamar ini saya kira adalah momentum yang tepat untuk mengembalikan gairah itu. Yang sebenarnya gairah itu sejak dulu ada," ujarnya.

Karena itu, Gus Salam mendorong agar skema pendanaan muktamar dilakukan secara transparan. Menurutnya, jika pembiayaan dilakukan secara mandiri dan akuntabel oleh panitia, maka hal itu akan meminimalisir adanya praktik-praktik politik uang selama berjalannya muktamar.

Bila hal itu berhasil dilakukan, maka kata Gus Salam, muktamar juga akan menghasilkan pemimpin NU yang independen dan tak bisa diintervensi pihak eksternal manapun, yang berupaya menyusupkan agenda hingga kepentingannya di tubuh NU.

"Ya kalau makanya kemudian ada dinamika-dinamika berkaitan dengan politik uang, dengan apa namanya perebutan logistik itu ya kadang-kadang kita juga melihat itu adalah sebuah kewajaran karena mereka memang membutuhkan logistik yang tidak kecil untuk datang ke tempat Muktamar," sambung Gus Salam.

"Sehingga kalau kemudian semua ini menjadi tanggung jawab dari panitia muktamar, kita harapkan ide gagasan yang mereka bawa itu otentik, benar-benar kebutuhan jam'iyah dan mereka akan memilih pemimpin yang benar-benar mereka anggap sebagai yang ideal untuk menghadapi tantangan dan kepentingan jam'iyah," ujarnya.

Muktamar NU sendiri rencananya akan digelar Agustus 2026 mendatang. Namun, lokasi pelaksanaannya belum ditetapkan hingga sekarang.

Forum tertinggi organisasi terbesar di Indonesia tersebut akan diawali dengan perhelatan Musyawarah Nasional (Munas) Alim Ulama dan Konferensi Besar (Konbes) NU di Pondok Pesantren Al-Falah Ploso, Kediri, Jawa Timur pada 20-21 Juni 2026 mendatang.

(frd/sfr)

Add as a preferred
source on Google
Read Entire Article
Global Food