Selular.ID – Biznet menyoroti tantangan penataan infrastruktur kabel jaringan internet di Indonesia yang masih didominasi pemasangan udara atau aerial fiber optic.
Isu kabel menjuntai dan dinilai kurang estetik di sejumlah wilayah perkotaan disebut menjadi pekerjaan rumah bersama bagi penyedia layanan internet maupun pemerintah daerah.
Adrianto Sulistyo, Senior Manager Marketing Biznet saat menjelaskan kondisi pembangunan jaringan fiber optic yang saat ini masih banyak menggunakan instalasi kabel udara dibandingkan penanaman kabel bawah tanah.
Menurutnya, pengelolaan infrastruktur jaringan membutuhkan pengawasan rutin agar kualitas layanan dan kerapihan instalasi tetap terjaga.
Adrianto mengatakan Biznet secara berkala melakukan patroli dan pemantauan jaringan untuk memastikan infrastruktur tetap aman sekaligus meminimalkan potensi gangguan layanan.
Ia menyebut pengawasan tersebut menjadi bagian penting dalam operasional perusahaan mengingat jaringan fiber optic kini menjadi tulang punggung layanan internet rumah dan bisnis.
“Memang bukan pekerjaan mudah, dari Biznet patroli bagaimana menjaga infrastruktur Biznet tersebut. Kita memang harus bisa melihat patroli keliling,” ujar Adrianto, dalam Bincang Eksekutif, Baru-baru ini di Jakarta.
Ia menjelaskan, pemasangan kabel udara masih menjadi pilihan utama karena proses implementasinya lebih mudah dibandingkan penanaman kabel di bawah tanah.
Selain faktor teknis, pembangunan jaringan bawah tanah juga membutuhkan koordinasi lintas pihak, termasuk pemerintah daerah dan pengelola utilitas perkotaan.
Menurut Adrianto, kondisi tersebut tidak hanya terjadi di Indonesia. Ia mencontohkan beberapa negara seperti Jepang yang masih menggunakan kabel udara namun tetap mampu menjaga estetika dan kerapihan tata kota.
Karena itu, tantangan utama bukan sekadar posisi kabel, melainkan bagaimana standar penataan dan pengelolaannya diterapkan secara konsisten oleh seluruh penyedia layanan.
“Lebih mudah di udara ketimbang di dalam tanah. Kami melihat di negara lain seperti Jepang kabel di atas langit masih bagus dan rapih, ini bagaimana tantangan seluruh provider,” kata Adrianto.
Saat ini, penetrasi jaringan fiber optic di Indonesia terus meningkat seiring tingginya kebutuhan internet berkecepatan tinggi untuk rumah tangga maupun sektor bisnis.
Operator fixed broadband berlomba memperluas cakupan layanan hingga ke kota penyangga dan wilayah residensial baru.
Di sisi lain, ekspansi tersebut juga memunculkan tantangan baru terkait tata kelola infrastruktur jaringan di area perkotaan.
Kabel fiber optic udara dinilai lebih efisien dari sisi biaya dan waktu implementasi. Model ini memungkinkan operator mempercepat ekspansi layanan tanpa harus melakukan pekerjaan sipil skala besar seperti penggalian jalan.
Namun, instalasi yang tidak tertata berpotensi memicu persoalan visual kota, risiko keselamatan, hingga tumpang tindih jaringan antaroperator.
Adrianto mengakui sebagian besar instalasi jaringan saat ini memang masih berada di udara.
Untuk pembangunan kabel bawah tanah, Biznet mengikuti kebijakan dan regulasi yang diterapkan masing-masing pemerintah daerah.
“Paling banyak masih di udara. Kalau di tanah kita ikutin kebijakan daerah, jadi kita ikutin arahan kebijakan daerah, memang harus diatur lagi,” jelasnya.
Dalam beberapa tahun terakhir, sejumlah pemerintah daerah mulai mendorong penataan utilitas kota, termasuk kabel telekomunikasi dan fiber optic.
Kebijakan tersebut umumnya dilakukan melalui program ducting bersama atau pembangunan jalur utilitas terpadu agar infrastruktur operator lebih tertata dan tidak mengganggu estetika kota.
Penataan jaringan telekomunikasi juga menjadi bagian penting dalam pengembangan kota digital dan smart city.
Infrastruktur internet yang rapi dan terintegrasi dinilai dapat mendukung kualitas layanan digital sekaligus menjaga aspek keamanan dan tata ruang perkotaan.
Bagi operator seperti Biznet, pengembangan jaringan tidak hanya berkaitan dengan perluasan cakupan layanan, tetapi juga menjaga kualitas infrastruktur dalam jangka panjang.
Pengawasan rutin, koordinasi dengan pemerintah daerah, serta standar instalasi yang lebih terstruktur dinilai menjadi faktor penting untuk mendukung pertumbuhan layanan broadband tetap di Indonesia.


















































