Persaingan Telkom, XLSmart dan Indosat Bergeser: Bukan Lagi Perang Harga

10 hours ago 6

Selular.ID – Kompetisi di antara tiga emiten telko papan atas Tanah Air, PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM), PT XL Smart Telecom Sejahtera Tbk (EXCL), dan PT Indosat Tbk (ISAT) benar-benar menunjukkan pergeseran tegas.

Tidak lagi berkutat pada perang harga (price war) dan mengejar kuantitas belaka, melainkan bergerak menuju pemulihan margin demi menghasilkan profitabilitas berkualitas.

Telkom misalnya, tidak lagi memiliki ruang bebas untuk memulai perang harga setelah return on invested capital (ROIC) mereka melampaui weighted average cost of capital (WACC) hingga drop ke titik terendah yaitu 1,4% pada 2024.

Hal tersebut mengacu pada riset Bahana Sekuritas yang disusun oleh Nicolas Lumy dan Yogi Bagus, yang Selular kutip, Senin (11/5/2026).

Faktor lain yang melatarbelakangi Telkom fokus pada pemulihan margin alih-alih perang harga adalah efisiensi operating expenditure (opex) yang dilakukan.

Ini tercermin dari pemangkasan vendor pemasok peralatan dan perangkat keras termasuk efisiensi karyawan.

Tonton juga:

Video Rekomendasi Untuk Anda

Di sisi lain, EXCL juga fokus memperkokoh sinerginya kendati masih harus menderita kerugian akibat tingginya biaya integrasi XL-Smart.

Berkaca pada laporan keuangan konsolidasian tahun buku 2025, EXCL mencatatkan kerugian sejumlah Rp4,42 triliun, membengkak dari Rp1,81 triliun pada 2024.

Pergeseran kompetisi terefleksi dari fokus EXCL yang sekarang tidak lagi mempertahankan pelanggan bernilai rendah plus monetisasi terbatas, melainkan concern pada pengguna dengan pengeluaran lebih tinggi.

Meski, hal tersebut berdampak pada menurunnya jumlah pelanggan perseroan dari 79,6 juta pada kuartal III-2025 menjadi 73,0 juta pada kuartal IV-2025, namun pendapatan rata-rata per pengguna (average revenue per user/ARPU) EXCL justru menunjukkan kenaikan dari Rp38,9 ribu menjadi Rp44,8 ribu.

Baca juga:

Tren serupa terlihat pada data yield EXCL yang meningkat dari Rp2,64/MB menjadi Rp2,71/MB pada periode sama, yang mengindikasikan meningkatnya monetisasi per unit trafik.

ISAT pun demikian. Menurut Nicolas dan Yogi, Indosat masih akan fokus menambah menara dan spektrum menyusul padatnya utilisasi kapasitas jaringan mereka.

Karena itu, alih-alih memulai kembali perang harga, ISAT mereka proyeksikan bakal lebih fokus mempertebal kas dan menghemat belanja modal (capital expenditure).

“ARPU seluler masih belum kembali ke level sebelum perang harga kuartal II-2024,” tulis Nicolas dan Yogi dalam riset.

“Sementara daya beli masyarakat relatif stagnan sejak saat itu. Dengan begitu, masih ada ruang untuk mengembalikan ARPU ke level sebelum perang harga,” lanjutnya.

Untuk itu, kedua analis tersebut mempertahankan rekomendasi beli (buy) untuk saham TLKM dengan target harga Rp3.600 per saham.

Diyakini, downside yang menimpa saham TLKM saat ini relatif terbatas dan setiap pelemahan harga akibat impairment fiber yang lebih besar dari ekspektasi justru akan menjadi peluang akumulasi menarik.

Terlebih lagi, nilai pasar anak usaha Telkom yakni PT Telkom Infrastruktur Indonesia (TIF) atau Infranexia diperkirakan mencapai Rp84 triliun dengan asumsi dividen spesial satu kali sebesar Rp468 per saham.

“Kami mengestimasi, dividend per share (DPS) berkelanjutan sebesar Rp212 per saham,” sambung Nicolas dan Yogi.

Pemulihan ARPU, demikian Nicolas dan Yogi, masih akan terus berlangsung.

Bahkan jika pertumbuhan pendapatan belum membaik, profitabilitas TLKM diperkirakan bakal meningkat berkat efisiensi opex.

“Kami percaya, transaksi TIF sebagian besar sudah tercermin dalam harga saham, meski potensi kenaikan dari tambahan tenant eksternal belum terlihat hingga TIF memiliki kerangka kerja yang jelas,” beber keduanya.

Read Entire Article
Global Food