Intip Kecanggihan Kamera Broadcast AI Untuk Piala Dunia 2026 Seharga Rp7 Miliar

20 hours ago 6

Selular.ID – Gelaran Piala Dunia 2026 yang dihelat di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko menjadi siaran olahraga khususnya sepak bola yang paling canggih dalam sejarah modern.

Pasalnya, Piala Dunia 2026 ini tidak hanya memecahkan rekor kehadiran penonton langsung yang sangat banyak, tetapi sekitar lima miliar orang menyaksikan tayangannya melalui siaran langsung atau live streaming.

Host Broadcasting Services (HBS) selaku pemegang hak produksi utama menerapkan standardisasi teknologi tingkat tinggi untuk menyuplai feed video ke ratusan stasiun TV di seluruh dunia.

Berikut adalah rincian detail, ter-update, dan menyeluruh mengenai bagaimana setiap pertandingan Piala Dunia 2026 direkam hingga bisa tayang di layar kaca Anda yang telah Selular rangkum.

Jumlah dan Jenis Kamera per Pertandingan

Untuk setiap pertandingan dari total 104 laga, HBS menggelar minimal 45 hingga 50 kamera di dalam stadion.

Mulai dari babak 32 besar, jumlah ini bertambah dengan tambahan kamera berspesifikasi Ultra Motion.

Tonton juga:

Video Rekomendasi Untuk Anda

Kamera-kamera tersebut bukan kamera sembarangan; mereka adalah kamera kelas broadcast (UHD/4K HDR) yang terbagi ke dalam beberapa jenis spesifik:

Kamera Utama dan Lapangan (System Cameras)

  • Jenis: Sony HDC-4300 / HDC-5500 (atau setingkatnya dari Grass Valley/Panasonic). Kamera ini diletakkan di tribun utama (Camera 1 dan 2), area gawang, dan pinggir lapangan.
  • Estimasi Harga: Kisaran Rp1,2 miliar – Rp1,8 miliar belum termasuk lensa.
  • Lensa Super Telephoto (Box Lenses): Menggunakan lensa seperti Canon UHD-DIGISUPER atau Fujinon 4K untuk menangkap detail ekspresi pemain dari jarak ratusan meter. Harga lensanya saja bisa mencapai Rp2,3 miliar – Rp3 miliar per unit.

Kamera Kecepatan Tinggi (Super / Ultra Slow Motion)

  • Jenis: Kamera berspesifikasi khusus seperti Sony HDC-4800 atau Phantom Flex4K. Kamera ini bertugas merekam momen krusial (pelanggaran, gol, pelanggaran offside) hingga kecepatan 400-1000 frame per detik (fps).
  • Estimasi Harga: Rp2,3 miliar – Rp3,8 miliar per sistem.

Kamera Melayang dan Udara (Cable & Drone Cams)

  • Spidercam / Cablecam: Kamera yang digantung dengan 4 kabel baja di atas lapangan dan bergerak secara 3D (mengikuti arah bola dan adu penalti). Menggunakan sistem stabilisasi gyro (gimbal khusus) super halus.
  • Drones: Heavy-lift broadcast drones dan drone lincah (agile) untuk menangkap kemegahan eksterior stadion.
  • Estimasi Harga: Sistem Spidercam komplit beserta instalasinya berkisar antara Rp3,8 miliar – Rp7,6 miliar.

Kamera Inovasi Baru 2026

  • RefCam (Kamera Wasit): Dipasang di tubuh atau kepala wasit utama untuk memberikan sudut pandang orang pertama (first-person POV) secara langsung. Kamera ini dibekali perangkat lunak stabilisasi AI dari Lenovo agar gambar tidak bergoyang (bumpy).
  • Kamera 360° dan Perangkat Digital-First: Digunakan untuk kebutuhan konten media sosial (TikTok/YouTube) dan teknologi VR, bahkan termasuk beberapa unit iPhone berspesifikasi tinggi yang diintegrasikan ke sistem untuk kebutuhan konten behind-the-scenes.

Proses Pengolahan dan Editing Data (Alur Kerja IP & Cloud)

Berbeda dengan Piala Dunia edisi terdahulu yang mengharuskan truk studio raksasa (OB Van) nongkrong di setiap stadion dengan ratusan kru lokal, Piala Dunia 2026 menerapkan sistem Decentralized dan Virtual Production berbasis IP (Internet Protocol).

Baca juga:

Proses Penyiaran (Broadcast) ke Seluruh Dunia

Setelah video matang di IBC Dallas, langkah terakhir adalah mendistribusikannya ke pemegang hak siar global (seperti Fox Sports di AS, BeIN Sports di MENA, BBC/ITV di Inggris, dan mitra lokal di Indonesia).

  • Penyediaan Feed Utama (Extended Stadium Feed – ESF): HBS menyediakan feed bersih tanpa logo stasiun TV lokal. Feed utama ini disalurkan lewat dua jalur kabel optik trans-atlantik dan trans-pasifik berkecepatan 100Gbps dengan rute cadangan untuk mengantisipasi gangguan fisik (kabel putus).
  • Kustomisasi Studio Lokal: Stasiun TV raksasa seperti BeIN Sports, misalnya, mengambil feed mentah tersebut dan mengirimkannya ke pusat studio mereka di Doha yang dilengkapi teknologi Virtual Reality (VR) dan Augmented Reality (AR) untuk dianalisis oleh pandit lokal sebelum dilempar ke satelit atau jaringan kabel penonton di rumah.
  • Audio Multiplexing: Audio yang dikirim dari Dallas sudah dipisah menjadi tiga format sekaligus: Immersive Audio (Dolby Atmos), 5.1 Surround Sound, dan Stereo standar. Stasiun TV lokal tinggal menyuntikkan suara komentator lokal mereka ke atas jalur audio tersebut sebelum disiarkan ke masyarakat.(*)
Read Entire Article
Global Food