Jakarta, CNN Indonesia --
Lembaga Falakiyah Nahdlatul Ulama (LFNU) Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur melaporkan hilal 1 Syawal 1447 Hijriah atau Idulfitri tidak terlihat di 43 titik pemantauan di wilayah Jawa Timur.
Ketua LFNU PWNU Jawa Timur, Syamsul Ma'arif mengatakan, hasil rukyatul hilal yang dilakukan serentak, posisi hilal secara astronomis memang masih berada di bawah kriteria yang ditetapkan.
Ia menyatakan, setidaknya ada dua faktor utama hilal belum terlihat, yakni posisi derajat hilal yang masih rendah serta kendala cuaca di sejumlah titik lokasi pemantauan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Untuk pelaksanaan rukyatul hilal di Jawa Timur sejumlah 43 titik lokasi rukyat itu menyatakan, melaporkan tidak ada yang berhasil melihat hilal sama sekali. Pertama alasan karena astronomi memang hilal di bawah kriteria Imkanur Rukyat. Yang kedua sebagian karena cuaca yang mendung," kata Syamsul saat dikonfirmasi CNNIndonesia, Kamis (19/3).
Syamsul merinci secara perhitungan astronomi, tinggi hilal dan sudut elongasi di Jawa Timur memang belum mencapai standar minimal imkanur rukyat atau kriteria visibilitas hilal yang disepakati MABIMS, yakni 3 derajat hilal dengan elongasi 6,4 derajat.
Data hasil rukyatul hilal dari 43 titik di Jawa Timur ini telah diteruskan secara berjenjang ke tingkat pusat untuk menjadi bahan pertimbangan dalam Sidang Isbat Kementerian Agama RI.
"Sehingga dengan demikian dari 43 titik lokasi tersebut laporannya kami teruskan ke PWNU, dilaporkan ke PBNU dilanjutkan nanti ke bahan sidang isbat Menteri Agama," tuturnya.
Dengan tidak terlihatnya hilal di Jawa Timur, ini makan bulan Ramadan akan digenapkan menjadi 30 hari atau istikmal, dan 1 Syawal atau Idulfitri diprediksi akan jatuh pada Sabtu (21/3).
Meski demikian, Syamsul menegaskan keputusan akhir tetap menunggu hasil pemantauan hilal dari wilayah Indonesia bagian barat, yakni di Aceh.
"Kalau Aceh memang tidak berhasil, maka dimungkinkan umur bulan Ramadan genap 30 hari. Artinya 1 Syawal diperkirakan tanggal 1 hari Sabtu, tanggal 21 Maret," katanya.
Pantauan di NTT
Proses Pengamatan Hilal di wilayah Kota Kupang, NTT gagal dilakukan akibat mendung dan hujan sepanjang hari Kamis.
Pemantauan Hilal yang rencananya berlangsung di Kantor Badan Meteorogi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) pada Kamis (19/3) pukul 16.00 Wita tidak jadi dilaksanakan karena hujan yang terus mengguyur.
Pantauan CNNIndonesia.com, sejumlah pejabat telah berkumpul di BMKG sejak pukul 17.00 wita seperti Kabid Bimas Islam Kemenag NTT, Pengadilan Agama, Bimas ormas Islam, ahli astronomi dan akademisi, dan peserta lainnya untuk memulai rukyatul hilal.
BMKG juga tidak dapat menaruh alat akibat hujan. Pengamatan pun coba dilakukan dengan mata telanjang hingga dengan pukul 18.00 WITA. Pada saat yang sama wilayah hilal yang seharusnya bisa terlihat masih tertutup awan.
Koordinator Bidang Geopotensial dan Tanda Tangan Waktu Stasiun Geofisika Kupang. Tri Umaryadi Wibowo, menjelaskan pengamatan harusnya dilakukan pada koordinat 10,15 Lintang Selatan dan 123,61 Bujur Timur, dengan elevasi 49 meter di atas permukaan laut.
"Sementara waktu pengamatan bertepatan dengan momen matahari terbenam pada pukul 17.57 WITA," Wibowo dalam keterangannya kepada wartawan di kantor BMKG.
Berdasarkan hasil perhitungan yang telah dilakukan menunjukkan tinggi hilal berada di angka 1,226 derajat di atas ufuk. Sementara itu, elongasi atau jarak sudut antara Matahari dan Bulan tercatat sebesar 4,55 derajat, dengan fraksi iluminasi Bulan hanya 0,16 persen.
Pemerintah melalui Kementerian Agama telah menetapkan Hari Raya Idulfitri 1 Syawal 1447 Hijriah jatuh pada Sabtu, 21 Maret 2026. Penetapan itu berdasarkan hasil sidang isbat yang digelar sore hingga malam hari ini.
(frd/eli/wis)
Add
as a preferred source on Google

7 hours ago
3













































