AWS dan Google Kembali Dapat Saingan di Bisnis Cloud AI, Kini Hadir Meta

8 hours ago 5

Selular.ID – Setelah menggelontorkan investasi raksasa untuk kecerdasan buatan, Meta kini bersiap membuka sumber pendapatan baru.

Perusahaan induk Facebook itu disebut tengah menyiapkan bisnis cloud yang menjual komputasi AI dan akses ke model AI kepada pihak lain.

Dari data yang Selular himpun dari berbagai sumber, menyebut Meta sedang menyusun rencana bisnis infrastruktur cloud.

Jika berjalan, Meta akan masuk ke arena yang selama ini dikuasai Amazon Web Services, Google Cloud, dan Microsoft Azure.

Baca juga:

Langkah itu muncul setelah SpaceX, melalui xAI, lebih dulu mengambil jalur serupa.

Pada awal Mei, SpaceX meneken kesepakatan dengan Anthropic untuk menggunakan seluruh kapasitas komputasi di pusat data Colossus 1.

Tonton juga:

Video Rekomendasi Untuk Anda

SpaceX kemudian membuat kesepakatan sejenis dengan Google dan Reflection AI.

Menurut TechCrunch, dikutip Kamis, 2 Juli, perkembangan ini memberi sinyal bahwa pemenang perlombaan AI belum tentu perusahaan yang memiliki model dan layanan paling canggih.

Mereka yang menguasai pusat data dan kapasitas komputasi besar juga bisa berada di posisi penting.

Namun, hitung-hitungan itu hanya masuk akal jika permintaan komputasi AI tetap kuat.

Sejumlah pihak mulai khawatir pembangunan infrastruktur AI terlalu cepat dan bisa menciptakan gelembung.

Apalagi, cip AI mahal punya nilai yang cepat turun. Pertanyaan lain juga belum hilang.

Apakah perusahaan AI mampu menghasilkan pendapatan dari pengguna akhir untuk menutup taruhan bernilai triliunan dolar.

Meta tampaknya belum terlalu terganggu oleh keraguan itu.

Hingga akhir kuartal pertama, Meta telah berkomitmen membelanjakan 182,9 miliar dolar AS untuk infrastruktur AI dalam beberapa tahun mendatang.

Angka itu termasuk proyek besar di Louisiana dan Ohio.

Proyek di Ohio, yang menurut Mark Zuckerberg akan seukuran Manhattan, diperkirakan mulai beroperasi tahun ini.

Meniru Usaha Saingan

Berbeda dari Google dan OpenAI, Meta belum melihat permintaan signifikan terhadap model dan layanan AI miliknya.

Meta tidak memerinci pendapatan dari Meta AI maupun Llama dalam laporan keuangan.

Llama adalah keluarga model AI berbobot terbuka, yang artinya modelnya lebih terbuka untuk digunakan dan dikembangkan pihak lain dibanding model tertutup.

Para eksekutif Meta juga lebih sering menekankan pemanfaatan AI untuk kebutuhan internal perusahaan.

Kondisi itu dapat menunjukkan bisnis AI Meta belum menjadi sumber pendapatan mandiri yang besar.

Untuk mengejar imbal hasil dari belanja jumbo tersebut, Meta disebut dapat meniru model bisnis CoreWeave.

Dari data yang Selular himpun, caranya dengan menjual akses ke kapasitas komputasi mentah.

Artinya, pelanggan menyewa tenaga komputasi pusat data Meta untuk menjalankan kerja AI mereka sendiri.

Selular merangkum Meta mempertimbangkan langkah seperti AWS, yakni menjual akses ke berbagai model AI yang di-hosting di infrastruktur Meta.

Salah satunya Muse Spark, model berbobot tertutup yang baru diluncurkan perusahaan.

Lini bisnis baru itu kabarnya akan berada di bawah inisiatif bernama Meta Compute.

Menurut laporan yang dikutip TechCrunch, inisiatif ini dipimpin Kepala Infrastruktur Meta Santosh Janardhan, pemimpin Meta Superintelligence Labs Daniel Gross, dan Presiden Dina Powell McCormick.

Laporan tersebut sejalan dengan pernyataan Zuckerberg pada Mei.

Saat itu, ia mengatakan bisnis komputasi cloud Meta “jelas ada dalam pertimbangan” sebagai cara memperoleh imbal hasil dari investasi besar perusahaan dalam pengembangan AI superintelligence.

Read Entire Article
Global Food